Arsiparis
2 bulan lalu · 47 view · 3 menit baca · Buku 18556_66742.jpg

Karena Kejahatan Korupsi Adalah Pilihan

Apakah kejahatan itu karena ada kesempatan? Bisa jadi. Lingkungan yang memberikan seseorang untuk berbuat jahat bisa mengubah perangai yang baik seseorang menjadi buruk. Novel ini membahas problematika niat dan kesempatan yang bisa melahirkan sebuah kejahatan.

Arimbi, wanita muda dari sebuah desa, bekerja di Jakarta. Dengan bekal ijasah sarjana yang ia punya, Arimbi berhasil  menjadi pegawai negeri di sebuah pengadilan negeri di Jakarta. Ia yang lugu tak mengenal gaya dan aneka keindahan materi, bahkan mungkin gaya hidup hedonis pun jauh dari kosakata kehidupannya sehari hari.

Di sebuah lingkungan birokrasi yang begitu mendewakan nilai uang untuk memperlancar segala urusan, Arimbi tergagap ketika mengetahui kehidupan teman-teman sekantornya yang terasa begitu mudah dijalani di matanya. Ia bertanya-tanya dalam hati, mereka sama dengannya sebagai pegawai negeri biasa namun sepertinya mereka tidak mengalami kesulitan untuk hidup di Jakarta.

Hidup yang berat di Jakarta, bagi Arimbi, bagaimana dia harus menyisakan gajinya untuk membayar kost dan mengirim sebagian ke kampungnya. Itu dijalani dengan hidup yang super hemat kalau tidak bisa dikatakan melarat.

Meski orang tuanya tak pernah tahu seperti apa hidup di Jakarta, mereka hanya tahu dan bangga anaknya telah menjadi pegawai negeri di sebuah instansi pemerintah. Setiap hari berseragam dengan jam kerja dan gaji yang pasti.

Namun, ketika hari demi hari yang diketahui oleh Arimbi adalah pola perilaku, yang semula ia tak mengerti hingga dikatakan ndeso oleh teman-temannya, bahwa apa yang selama ini dilakukan oleh temannya adalah ngobyek hingga mereka bisa hidup layak di Jakarta.

Arimbi yang lugu itu mulai tergoda, apalagi saat ia jatuh cinta dan perlu biaya untuk menikmati jatuh cintanya. Terlebih lagi ketika ia berkenalan dan mulai dipercaya oleh atasannya, Danti. Hidupnya berubah 180 derajat. Ia menjadi yakin bahwa uang adalah raja untuk menjadikan segala menjadi mudah untuk bisa hidup di Jakarta.

Diawali dari tip-tip kecil yang diberikan Bu Danti ketika ia harus menjadi juru tulis untuk perkara-perkara yang harus diatur agar cepat selesai ataupun dimenangkan, arimbi mulai ketagihan untuk mendapatkan uang dengan cepat dan instan. Ketika semua teman mengiyakan apa yang dilakukannya karena semua berbuat sama di instansinya ia semakin lupa diri dan tak punya malu untuk berbuat curang.

Bagi Arimbi korupsi adalah kewajaran karena semua melakukan hal yang sama. Kesempatan yang ada disertai niat karena himpitan hidupnya maka kebiasaan berbuat curang menjadi hal yang tak perlu ditanyakan benar salahnya.

Penggambaran penyebab korupsi di novel ini sangat detail sekali. Di mulai dari alasan himpitan ekonomi dan lingkungan yang permisif untuk itu yang pada akhirnya menimbulkan hubungan antara niat dan kesempatan sebagai penyebab timbulnya kejahatan.

Namun penulis kurang mengeksplorasi sisi psikologis tokohnya bahwa biar bagaimanapun segala tindakan adalah pilihan. Korupsi bukanlah murni adanya kesempatan karena setip orang punya pilihan untuk bertindak. Semua mempunyai tataran moral dalam nurani masing-masing. Pertentangan batin tokohnya kurang dieksplorasi sehingga pembaca hanya mengikuti alur yang lurus tanpa ada pertentangan-pertentangan batin yang membikin kita berdialog dengan teks.

Hingga pada akhirnya Arimbi tertangkap masih saja ia menyalahkan orang lain bukan menyadari bahwa setiap kejahatan cepat atau lambat pasti terbuka mesti disembunyikan sedemikian rupa.

Terlepas dari itu semua novel ini menggambarkan kebobrokan aparat hukum hingga kebusukan perilaku-perilaku penghuni penjara pun digambarkan dengan detail dan riil. Kehidupan yang terkucil di penjara memunculkan aneka penyimpangan hidup mulai dari seks dan pengalihan kebahagiaan melalui obat-obatan untuk sejenak menelikung rasa sepi di penjara.

Bagaimana kesepian di penjara bisa membuat seseorang menyalurkan hasratnya pada sesama jenis sangat menarik untuk disimak. Penjara yang harusnya menjadi tempat mendidik para pesakitan bahkan menjadi tempat tumbuhnya kejahatan-kejahatan baru. Pabrik obat obatan pun ada di sana dan seperti yang sudah banyak diketahui di media massa bagaimana liku-liku bandar narkoba melakukan bisnisnya digambarkan dengan apik.

Penggambaran apa yang terjadi di penjara kelihatannya didukung riset yang apik mengingat penulis novel ini adalah mantan wartawan juga. Pengalaman melakukan investigasi jurnalistik saat menjadi wartawan inilah kelihatannya memperkaya detail setiap kisah di area yang selama ini tertutup dari mata masyarakat. Inilah salah satu keunggulannya.  

Terlepas dari itu semua novel ini menggambarkan kebobrokan aparat hukum hingga kebusukan perilaku-perilaku penghuni penjara pun digambarkan dengan detail dan riil. Kehidupan yang terkucil di penjara memunculkan aneka penyimpangan hidup mulai dari seks dan pengalihan kebahagiaan melalui obat-obatan untuk sejenak menelikung rasa sepi di penjara.

Pada akhirnya korupsi adalah pilihan bukan melulu karena adanya kesempatan. Manusia tetaplah punya nurani yang tak mungkin bisa begitu saja membiarkannya bebas bertindak apa pun agamanya. Selamat menikmati kisah Arimbi.

Judul: 86
Penulis: Okky Madasari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan kedua, April 2014
Tebal: 256 halaman