Pagi ini badanku menggigil. Seluruh otot terasa dilucuti. Lemas. Selimut berlapis hingga kaus kaki yang kukenakan tak mampu membendung angin. Dingin

Kedua bibirku gemetar. Bola mata serasa dipanggang bara. Setiap kucoba membuka mata ribuan kunang-kunang seperti menari riang. Pandangan buram. Suara parau.  Kepala pusing tak karuan.

Sementara kedua anakku teriak-teriak meminta bantuan. Maklum, hari ini pembantuku izin tidak masuk. Kedua anakku harus menyiapkan seragam dan peralatan sekolah sendiri. Suamiku tidak lagi rebahan di sampingku. Dia keluar rumah sejak pagi buta. Entah kemana.

Selama tiga belas tahun menikah tabiat suamiku tidak pernah berubah. Dia sama sekali tidak peduli kondisi rumah. Di otaknya yang ada hanya uang dan ranjang. Dia terlalu mendewakan rupiah. Bagi dia, selagi bisa memberi uang tugas sebagai kepala keluarga dianggap selesai.

Ketika syahwat biologisnya memuncak, wajib dilayani. Tidak peduli kondisiku lagi sakit atau sekarat sekalian. Jika berani menolak, dia tidak segan memarahiku dengan kata-kata kasar dan menyakitkan.

Bahkan pernah suatu ketika dia marah besar lantaran "ajakannya" kutolak. Pria yang menikahiku sejak 2008 lalu itu bilang percuma punya istri kalau tidak bisa "dipakai". Kata-kata itu seketika membuat martabatku sebagai perempuan runtuh. Setiap memori otakku ingat perkataan kasar itu, bulir air mata menitis; sedih.

"Mama di mana sepatuku. Ayo cepetan mobil jemputan hampir datang," teriak putri sulungku membuyarkan lamunan. "Iya tunggu sayang, mama masih pusing," kataku mencoba menenangkan.

Sebelum beranjak, kuteguk segelas air putih untuk membasahi kerongkongan yang gersang. Dengan langkah tertatih, aku menghampiri kedua buah hatiku dan menyiapkan segala kebutuhannya. Lima menit berselang, mobil sekolah tiba. Kedua putriku langsung bergegas berangkat menuntut ilmu.

Sesekali bola mataku mengatup. Mengomando langkah kaki menuju kamar. Ingin rasanya mandi air hangat biar segar. Tapi tidak memungkinkan. Badanku sangat lemas. Sementara suamiku belum terlihat batang hidungnya.

Jujur aku mulai bosan pada suamiku. Dari segi fisik dia sangat tampan. Kulit putih, rambut lurus, tinggi badan ideal. Jago ngaji pula. Banyak yang bilang aku beruntung dipersunting lelaki lulusan pesantren ternama di Madura itu.

Bahkan suamiku merupakan menantu kesayangan. Ibuku akan marah besar hanya karena hal sepele seperti waktu itu aku tidak menyiapkan kopi. Ibuku marah besar. Aku dituduh tidak melayani suami dengan baik. Padahal waktu itu, kondisiku lagi sakit.

Pernikahanku dengan suamiku bukan karena perjodohan. Dia pilihanku. Lebih tepatnya pelarianku. Aku bersedia dinikahi hanya karena ingin membuat mantanku cemburu. Aku cinta mati pada Decky, cinta pertamaku.

Hampir lima tahun kami memadu kasih. Bahkan aku sempat dikenalkan pada ibunya. Dimataku Decky lelaki sempurna. Dia juga lulusan pesantren. Jago bahasa arab dan ngaji kitab kuning. Yang paling membuatku kesemsem, pria berbadan kekar itu suka sastra. Sering nulis sajak. Bahkan namaku diabadikan dalam puisinya. Ini yang mengantarkan Decky menempati puncak singgasana hatiku.

Tapi dia pecundang. Tidak mau menikah selama belum mapan. Dia mengaku minder jika datang melamarku tanpa menyandang status sebagai karyawan. Sementara aku dalam tekanan. Abah menginginkan aku segera melepas masa lajang. Maklum, semua anak gadis seusiaku sudah pada menikah. Bahkan punya momongan.

Ditengah epidemi kegalauanku, Nur Kholis hadir. Dia teman karib Decky. Selama di pondok, mereka sekamar. Sangat dekat. Mirip saudara. Susah senang mereka jalani bersama. Nur tahu aku kekasih Decky, sahabat karibnya.

Dia mengaku menaruh hati padaku sejak lama. Tapi tidak berani mengutarakan. Ketika tahu Decky tidak mau menikahiku karena alasan belum mapan, Nur datang. Tidak mau melepas kesempatan. Dia langsung melamar. Jadilah dia suamiku dan bapak dari anak-anakku.

"Assalamualaikum Ning, apa kabar. Semoga masih dalam lindungan Allah," pesan WA masuk. Nomor kontaknya tidak tersimpan di HP-ku. Tapi profil picture-nya sangat familiar. Tidak disangka. Pengirim pesan adalah Decky.

Ini pesan pertama sejak kami berpisah. Kata-katanya yang sopan spontan mengajakku kembali pada memori tiga belas tahun silam. Tanganku gemetar. Jantungku berdebar tak karuan. Bibir mengatup lalu senyum tersungging kegirangan. Perasaan campur aduk. Bahagia. Tidak percaya. Hadir di waktu yang tepat saat bosan merongrong jiwa dan ragaku.

Ingin segera kubalas pesan itu lalu kubilang bahwa aku tidak bahagia. Aku tidak sedang baik-baik saja. Semenjak berpisah dengannya, tidak ada lagi ceria. Semua senyum bahagia hanya pura-pura. Ingin segera ku telpon dia lalu kuajak bertemu.

Aku ingin tidur di pangkuannya. Menumpahkan seluruh kesumat yang kupendam selama tiga belas tahun lamanya. Ingin ku pinjam pundaknya untuk merebahkan kepala yang sesak dengan naskah kepura-puraan. Ingin ku peluk tubuhnya untuk menghangatkan badan yang gigil.

Ingin ku katakan bahwa aku masih mencintainya. Setiap napas yang kuhela selalu ada bayangnya. Setiap doa yang kupanjat selalu ada namanya. Semuanya tentang dia. Tentang Decky, kekasihku yang abadi.

Hampir tiga puluh menit aku mematung. Tanganku masih gemetar memegang HP android keluaran jadul. Dengan hati berkecamuk, aku balas pesannya. Perlahan. Sangat pelan kupencet keyboard HP.

"Alhamdulillah baik," kataku singkat.

Padahal masih banyak kata yang ingin kutuangkan dalam pesan. Ingin kusampaikan segala kegundahan. Tapi aku belum siap. Walau bagaimanapun statusku istri orang. Tidak boleh bersikap serampangan. Harus elegan.

Tapi suatu saat pasti akan kuhubungi Decky. Nomornya sudah kusimpan dengan nama perempuan untuk mengelabuhi suamiku, Nur.