Jika ajang dunia Miss Universe memberikan kategori cantik kepada perempuan adalah yang langsing, tinggi, kulit mulus, dan pintar, maka tidaklah heran manakala perempuan yang selalu tampil di iklan-iklan televisi adalah mereka yang masuk pada standar kategori cantik. Jika tidak, maka jangan bermimpi perempuan yang gemuk dan pendek “laku” di pasaran media.

Amita adalah seorang dosen ahli hukum, bermata sipit, warna kulit putih, rambut hitam, tebal, lurus dan panjang, juga memiliki berat badan 81 kg dan tinggi badan 153 cm. Secara fisik, Amita adalah perempuan dengan tubuh gemuk.

Uniknya, Amita selalu tampil percaya diri dengan badannya yang gemuk dan selalu memancarkan aura bahagia dengan kegemukan yang ia miliki.

Iseng saya bertanya kepadanya ketika kami menikmati semangkok Mie Ayam di pinggiran pasar Ngasem menjelang malam di Kota Yogyakarta, “Apa makna cantik menurutmu?”. 

Tulisan ini merupakan definisi cantik menurut Amita dan sepotong kisah perjalanan hidupnya menjadi perempuan gemuk.

Bullying dari Teman 

Amita menempuh pendidikan di sekolah Islam, yaitu di Madrasah Ibtidaiyah (setara SD), Madrasah Tsanawiyah (setara SMP), dan Madrasah Aliyah (setara SMA). Bahkan, Amita pernah nyantri di pondok pesantren di Mojokerto, Jawa Timur, selama kurang lebih 3 tahun.

Sejak kecil, Amita menjadi olok-olokan teman-temannya karena tubuhnya yang gemuk. Tubuh Amita yang gemuk menjadi bahan nyinyiran teman-temannya untuk mengolok-olok dirinya.

Sering kali teman-teman dan orang-orang sekitar memanggilnya dengan panggilan gentong, jemblung, dumbler, ndut, gendut, sumu, dan panggilan yang tak mengenakkan di dengar lainnya.

Tetapi ketika kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah, Amita menjadi anak yang cerdas dan mendapat ranking pertama di kelasnya. Teman-temannya banyak yang mencoba mendekatinya untuk menyontek.

Amita memberi jawaban kepada teman-temannya yang memanggil dirinya dengan panggilan “ndut” dengan syarat harus mengubah panggilan menjadi “Mbak”. Karena tak ada pilihan lain untuk dijadikan tempat contekan, jadilah Amita yang biasa dipanggil ndut, sumu, dan gentong berubah panggilan menjadi “mbak”—mbak Amita tepatnya.

Sejak saat itu, ejekan dan olokan kepada Amita mulai berubah dan berkurang karena Amita selalu memberikan bahan contekan kepada teman-teman kelasnya.

Setelah lulus dari sekolah Madrasah Ibtidaiyah, Amita melanjutkan sekolah tak jauh dari rumahnya, yaitu sekolah Madrasah Tsanawiyah. Di sekolah ini, Amita memiliki teman “geng” perempuan yang cantik, pinter, dan anak orang kaya.

Resmi sudah Amita menjadi salah satu anggota anak geng kumpulan anak cantik, pintar, dan orang kaya. Di sekolah ini, Amita “jarang” mendapat ejekan dan olokan karena tubuhnya yang gemuk. Bahkan di sekolah ini, Amita menjadi ketua OSIS.

Akan tetapi, Amita merasa “tertekan” ketika mata pelajaran olahraga. Karena setiap mata pelajaran tersebut, guru sering kali mengajarkan siswanya, baik laki-laki maupun perempuan, untuk lari cepat secara bersamaan. Amita selalu kalah jauh di belakang dengan teman-temannya ketika berlari karena tubuhnya yang besar.

Di situ, Amita merasa bahwa mata pelajaran olah raga adalah mata pelajaran yang sama sekali Amita tidak suka karena menjadikan dirinya merasa “berbeda” dengan teman-temannya karena tubuhnya yang gemuk.

Meski begitu, Amita memiliki teman laki-laki yang mencintainya karena ia pintar, cerdas, dan berprestasi di sekolah. Nyaris “pacar” Amita ini tidak pernah mempersoalkan tentang tubuh Amita yang gemuk.

Ketika Amita sekolah di Madrasah Aliyah (setara SMA), Amita tetap memiliki prestasi yang memukau di kelasnya. Hampir setiap pembagian rapor, Amita selalu bertahan di ranking pertama di kelasnya.

Bahkan dari seluruh jumlah kelas dari A hingga F, Amita selalu berada di kelas A. itu artinya, Amita adalah anak yang cerdas. Karenanya, Amita banyak didekatin oleh teman-temannya, baik teman laki-laki maupun teman perempuan, untuk dimintai tolong contek ketika ada tugas.

Tetapi di sekolah ini, selama tiga tahun, Amita tidak memiliki teman dekat (baca; pacar), padahal teman-teman gengnya memiliki pacar. Bahkan, berdasarkan penuturan Amita, Amita “ditolak” oleh laki-laki teman kelasnya manakala Amita mengungkapkan rasa sukanya.

Pengalaman ditolak oleh laki-laki karena tubuhnya yang berbeda dengan teman-temannya sepermainan menjadikan Amita merasa rendah diri, tidak percaya diri, dan menyalahkan diri sendiri karena tubuhnya yang gemuk. 

Berangkat dari pengalaman Amita sekolah, di situlah kemudian Amita menyadari terhadap istilah body shaming yang menjadikan dirinya merasa tidak nyaman dengan tubuhnya sendiri.

Dalam istilah yang populer, body shaming adalah istilah yang berkaitan dengan kritik dan komentar yang bernada negatif kepada tubuh sendiri atau orang lain (idntimes.com).  

Besar dengan Kemarahan 

Amita tidak hanya merasa “tertekan” dengan olokan teman-teman dan perlakuan guru di sekolah, tetapi juga Amita mendapat perlakuan dan kata-kata yang tidak “nyaman” dari ibunya sendiri.

Sebagai anak perempuan yang sejak kecil tidak memiliki bapak, karena bapaknya meninggal dunia di usia Amita ke-3 bulan, apalagi Amita adalah anak bungsu dari empat bersaudar, jadilah kemudian Amita menjadi fokus perhatian ibunya.

Ibu Amita selalu mengatakan kepadanya, “Kenapa kok bukan kakak laki-lakimu saja yang gemuk? Kenapa kok harus kamu perempuan yang gemuk?” Begitulah “keluhan” ibu Amita yang “selalu” membanding-bandingkan dirinya dengan tubuh kakak laki-lakinya yang memiliki tubuh kurus dan postur tinggi. 

Masih lekat di ingatan Amita bagaimana ibunya berusaha melalui berbagai macam cara untuk membuat tubuh Amita sama dengan tubuh anak-anak perempuan di usianya. Hampir setiap dua bulan, ibunya mengajak kontrol gizi ke dokter spesialis gizi di rumah sakit di daerah kota kabupaten. Di samping itu, ibunya juga “memaksa” Amita untuk puasa daud setiap hari di usianya beranjak 12 tahun.

Amita melakukan semua apa yang dimau ibunya, mulai dari kontrol ke dokter gizi hingga puasa daud setiap hari, hingga ibunya meninggal dunia di usianya yang ke-20 tahun.

Merasa “terbawa” ke alam bawah sadar dengan permintaan ibunya hingga di akhir usianya untuk menjadi perempuan yang tidak gemuk, Amita melakukan berbagai cara untuk kurus meski ibunya telah tiada. Apalagi Amita tidak berani pacaran karena takut laki-laki akan menolak cintanya karena tubuhnya yang gemuk.

Karenanya, Amita melakukan terapi pijat akupuntur ke tabib di Malang setiap bulan sekali hingga hampir satu tahun dengan tarif mahal. Perubahan yang ia dapat adalah berat badan turun satu kilo dalam tiap seminggu dengan kontrol makan yang ketat.

Merasa perubahan tubuhnya tidak seperti yang ia inginkan, Amita kemudian melakukan cara lain, yaitu kontrol ke dokter spesialis penurun berat di rumah sakit terkenal di Surabaya. Di situ Amita diberi saran oleh dokter untuk meminum obat selama 30 hari dengan tarif konsultasi dokter yang lumayan mahal dan harga obat yang sangat mahal di masanya sebagai mahasiswa.

Amita kemudian membeli obat tersebut dan meminumnya, kala itu sebagai mahasiwi fakultas hukum di Universitas Brawijaya Malang berusia 22 tahun dengan berat badan 72 kilo.

Perubahan tubuh yang ia dapat dari meminum obat penurun berat badan adalah di hari ke-20, berat badan Amita menjadi 65 kilo. Berat badan yang turun tidak didapat Amita dengan cara yang mudah, ia harus makan “hanya” sekali dalam sehari.

Di hari ke-25, Amita merasa perutnya nyeri karena menahan lapar. Amita tidak boleh makan karena saran dokter harus makan satu kali dalam sehari. Tetapi nyeri yang parah tersebut menjadikan dirinya pingsan ketika kuliah berlangsung di dalam kelas.  

Dokter mengatakan bahwa Amita kekurangan suplai makanan karena program diet ketat, minum obat dan makan sedikit. Karena itu, tubuhnya tidak kuat dan tumbang (droup).

Perubahan Cara Pandang 

Pengalaman berusaha maksimal untuk memiliki tubuh kurus sehingga menyebabkan Amita “hampir” mati menumbuhkan kesadaran baru dalam dirinya untuk “berhenti” bermimpi memiliki tubuh kurus dan langsing.

Kini, setelah Amita lulus dari sekolah pascasarjana Universitas Gajah Mada (UGM) jurusan ilmu hukum, Amita langsung menjadi dosen di fakultas hukum di kampus ternama di Yogyakarta.

Pergumulan hidup Amita dari pengalaman akademik yang berprestasi, pencapaian karier yang cemerlang, hingga pengalaman pahit karena memiliki tubuh yang gemuk menumbuhkan kesadaran baru dalam diri Amita untuk “menerima” tubuhnya yang gemuk dengan penerimaan totalitas tanpa syarat.

Apalagi Amita memiliki sahabat-sahabat karib yang selalu memberikan support kepada Amita bahwa dirinya cantik meski tubuhnya yang gemuk.

Dulu Amita berpandangan bahwa perempuan dengan tubuh kurus dan langsing dengan cepat akan memiliki kekasih. Karena kehadiran seorang kekasih secara otomatis dengan sendirinya akan mengafirmasi bahwa perempuan tersebut cantik.

Kini Amita berpandangan sebaliknya, bahwa cantik itu tidak harus kurus dan langsing, dan menjadi cantik tidak membutuhkan afirmasi dan pengakuan dari orang lain. Menjadi cantik itu adalah persoalan menerima tubuh dengan penerimaan yang tulus dan menanamkan kepercayaan dalam diri sendiri bahwa kita cantik tanpa butuh pengakuan dari orang lain. 

Karena cara pandang yang demikian, dengan sendirinya dalam diri Amita terpancar sex appeal (daya tarik seksual). Sehingga Amita yang memiliki tubuh gemuk terpancar aura kecantikan dengan daya tarik seksual tersendiri di mata laki-laki.