1 bulan lalu · 45 view · 9 min baca menit baca · Lingkungan 90046_74588.jpg

Karbintas, Sebuah Paradigma Baru Buang Sampah

Ada yang tidak bisa dipisahkan selama manusia menjalani hidup dan kehidupannya di muka bumi, salah satunya adalah persoalan sampah. Selama manusia hidup, maka selama itu juga akan ada selalu sampah yang tercecer disana-sini. 

Persoalan sampah sebetulnya lumrah saja, karena dalam sistem apapun kita mengenal istilah zat sisa (residu), sampah adalah residu dari aktifitas manusia, menjadi tidak biasa manakala residu tersebut mengancam keberlangsungan hidup anak keturunan umat manusia dimasa sekarang dan akan datang.

Aneka ragam jenis sampah dihasilkan oleh manusia, sampah plastik dan kertas yang paling umum kita jumpai dalam hidup. Keduanya memiliki dampak buruk terhadap lingkungan baik secara langsung maupun tidak. 

Limbah plastik tentu saja menawarkan episode kematian yang mengenaskan bagi lingkungan, karenanya perlakuan terhadap plastik bak dewa, begitu istimewa. Seisi dunia sibuk membuat gerakan kampanye mengurangi plastik, dan itu tentu diaminkan oleh para pencinta lingkungan, hanya bos industri plastik saja munkgin yang geram. 

Beda halnya dengan sampah kertas, masih banyak yang bergeming, tak ada suara-suara nyinyir internasional yang lantang didengungkan hingga terdengar ke seantero negeri untuk memangkas jumlahnya (reduce), memanfaatkannya kembali (reuse), dan mengolahnya menjadi bentuk lain (recycle).

Belum masifnya pembatasan jumlah kertas ditengarai menjadi pemicu masih melimpahnya sampah kertas ditiap sudut rumah kita. “Kertas kan muda didapat, bisa juga dijadikan bungkus makanan, kan? Jadi tidak perlu khawatir, karena akan mudah terdegradasi alam” begitulah pandangan kebanyakan dari kita bukan? Jadi santai saja.

Omong-omong tentang bungkus makanan, ada cerita menarik dan mari kita anggap saja ‘hanya’ kebetulan. Ketika masih kuliah di Kota Malang setahun lalu, betapa malunya sahabat saya ketika dia mendapati kiriman lembar Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Statistiknya tahun lalu yang dipotret mantan kekasihnya pada saat membeli nasi uduk. 

Maksud hati kekasihnya itu hanya guyon saja, ketika tidak sengaja membeli nasi uduk disebuah gerai warung kaki lima yang jaraknya hanya se-pelemparan batu dari kampusnya. Tak tanggung-tanggung dosennya mengganjar dengan nilai E pada kertas ulangannya. 

Sahabat saya malu bukan kepalang, dia hanya bisa bermuram durja, mengapa dosennya merelakan kertas yang diisi dengan bersimbah keringat mahasiswanya menjadi secarik bungkus nasi? Serendah itukah? Bukankah ini pencemaran nama baik? Hardiknya dalam nestapa.

Pada kasus yang lain, kaka tingkat saya yang sudah lulus berbeda tingkat lima generasi dari sebuah kampus kenamaan di Malang begitu teriris hatinya ketika mendengar kabar skripsi di angkatanya telah ‘diloak’ pihak kampus karena ketiadaan tempat untuk menyimpan mahakarya mahasiswa tersebut. 


Padahal skripsi itu telah butuh tiga purnama untuk sampai purna, butuh dana tak sedikit hingga harus sampai mengirit uang saku demi toga yang berpindah tali hanya dalam hitungan detik.

Bahan baku kertas berupa kayu yang bersumber dari tanaman memang mudah didapat di negeri yang dalam lirik sebuah lagu Band legendaris Koesploes disebut sebagai tanah surga ‘….tongkat kayu dan batu jadi tanaman…’

Hanya saja, jika kayu yang digunakan melebihi batas optimum dan limbah sampah kertasnya ikut menggunung, lama-lama surga itu akan terasa juga seperti neraka. Manusia yang bijak berlomba mencari jalan keluar, bagimana memperlakukan sampah-sampah itu akhirnya?

Mengolah sampah kertas menjadi bentuk lain yang memiliki nilai guna memang tidak mudah, pada sisi lain kita punya akses yang begitu teramat mudah mendapatkannya, menggunakannya, menjualnya, kemudian membuangnya ke tempat sampah jika sudah tidak tak berguna. 

Perihal nantinya diolah lagi ataupun tidak, mencemari lingkungan ataupun tidak, bukan menjadi urusan kita lagi, bukan? Kita hanya berharap ada orang atau sekolompok orang yang memungutnya dan mengurusnya dengan baik, atau berharap kepada kebaikan alam agar alam mendekomposisi sampah yang kita buang secepat yang dapat dilakukannya.

Barang kali pemikiran seperti inilah yang menjadi salah satu akar masalah utama sampah kertas dan sampah jenis lain dibelahan dunia manapun tak kunjung usai, tak terkecuali di Indonesia. Sampah menjadi ritual tahunan yang tidak pernah lekang oleh waktu.

Melihat persoalan ini, sepertinya ada yang salah dari kebiasaan dilakukan kita selama ini. Membuang sampah kita anggap sebagai sesuatu yang baik, apalagi membuang sampah pada tempatnya nampak baik sekali, tapi benarkah demikian? mari kita renungkan sekali lagi, benarkah membuang sampah pada tempatnya itu sudah betul?

Berangkat dari persoalan ini rasanya kita harus mengkaji kembali penggunaan kata “membuang sampah pada tempatnya” dengan kalimat lain yang lebih mengedukasi. Memilih menggunakan kata ‘membuang’ secara psikologis akan membuat kita berpikir bahwa segala jenis sampah, termasuk kertas harus selalu berakhir di pembuangan. 

Bila kita menengok kata buang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kita akan dapati makna “lempar” dan “lepaskan”, sementara makna dari kata sampah merujuk kepada “benda yang dibuang karena tidak terpakai lagi”. 

Jadi, secara sederhana dapat kita simpulkan bahwa aktivitas membuang sampah melekat pada aktivitas melemparkan benda yang sudah tidak terpakai lagi.

Memikirkan kasus ini, saya menjadi teringat kasus gas elpiji yang sempat viral dan menyita perhatian publik Indonesia beberapa waktu yang lalu. Bukan hanya dari harganya yang selangit yang kadang membuat urat sarat terjepit atau keberadaanya seperti jarum dalam  jerami yang kadang sulit dicari bahkan di tengkulak elpiji, tapi lebih kepada label pada bagian gas tersebut yang bertuliskan “Untuk Masyarakat Miskin”. 

Tulisan ini dianggap telah merendahkan orang yang ekonominya lemah sehingga muncul pro dan kontra dari penggunaan kata miskin yang dianggap merendahkan. Apakah ini salah? 

Tentu saja tidak, tapi kita semua tentu sepakat jika ada kata lain yang lebih baik dari pada kata miskin, misalnya kata “prasejahtera”. Ketika kita menggantinya dengan kata prasejahtera, kita semua setuju  konotasi prasejahtera lebih baik dan tidak merendahkan, bukan?

Lalu apa pentingnya? Bagi yang mengerti makna dari sebuah kata tentu penting sekali. Upaya ini diangggap sebagai cara untuk memanusiakan sesama warga negara Indonesia yang masih belum mampu. Betul, miskin dan prasejahtera sebenarnya hanya soal pilihan kata saja, maknanya hampir sama saja yaitu ekonomi lemah. 

Kendati demikian, kita semua sepakat bukan? Jika ada kata yang lebih baik dan tidak lebih menyakiti perasaan lapisan masyarakat yang masih belum mampu, mengapa kita mesti sekali menggunakan kata yang dianggap telah mencederai perasaan orang.

Realita dilapangan mungkin tidak banyak yang peduli dengan urusan kata-kata ini yang terkesan sepele dan remeh temeh, tetapi sebagai dari bagian bangsa yang beradab rasanya tidak salah juga kita mengetengahkan cara yang baik untuk menempatkan kata yang tepat diperuntukan bagi masyarakatnya sendiri secara manusiawi.


Kembali ke persoalan sampah. Jika untuk persoalan kata pada gas elpiji saja kita begitu perhatian memilih kata, mengapa dengan sampah tidak? Persoalan sampah bukan lagi tentang perasaan, lebih dari itu, persoalan sampah tentang keberlanjutan hidup umat manusia dimuka bumi. 

Salah satu cara sederhana yang dapat dilakukan misalnya mengganti kata membuang dengan menyimpan pada kalimat “buanglah sampah pada tempatnya”. Simpan sampah maknanya yaitu menaruh barang yang sudah tidak terpakai lagi ditempat yang aman supaya tidak rusak dan hilang. 

Terdengar sepele dan sedehana? Tentu saja! tapi ini soal cara pandang (paradigma) baru kita dalam memperlakukan sampah baik itu plastik ataupun kertas dan jenis sampah lain tentunya. Membuang memiliki konotasi yang negatif, menjijikan dan tidak berguna perihal nilai dari sampah itu sendiri, sementara menyimpan lebih menempatkan dan memandang sampah sebagai sesuatu yang lebih penting.

Setelah disimpan lalu apa? Jika benar-benar sudah tidak lagi dipakai, ingat betul sudah tidak terpakai lagi, salah satu caranya menjadikan karakter binatang berbahan kertas (Karbintas). 

Karbintas adala bentuk karakter binatang yang dicetak sedemikian rupa sehingga membentuk karakter binatang. Caranya yaitu dengan mem-bubukan 0,5 kilogram kertas, dicampur dalam 0,5 liter air kemudian dihaluskan dengan blender, setelah menjadi bubur lalu dimasukan ke dalam cetakan karakter binatang, cetakan ini selanjutnya dipadatkan dan dijemur dibawah sinar matahari. 

Setelah kering, karbintas dilepas dari cetakan dan karakter ini kemudian diwarnai sesuai dengan warna karakter binatang aslinya atau sesuai imajinasi anak-anak. Tujuan pemberian warna bukan tanpa alasan, menurut pakar pendidikan yaitu Piaget (1990) anak menyukai simbol dan warna dalam proses pembelajarannya. 

Cara ini juga penting untuk mengembangkan kemampuan motorik mereka menjadi semakin baik, karena memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk bersentuhan secara langsung dengan miniature karakter binatang yang mereka inginkan dan buat sendiri.

Karbinatas menjadi paradigm baru buang sampah untuk generasi penerus masa depan manusia yang menempatkan sampah sebagai sesuatu yang berharga. Pembuatan Karbintas menjadi pembelajaran yang kontekstual karena memanfaatkan sampah kertas yang ada di lingkungan mereka sendiri sebagai sumber belajar yang asyik dan menyenangkan. 

Karbintas melatih rasa pedulinya terhadap lingkungan, problem solving-nya terhadap lingkungan, dan mengenal karakter binatang kepada mereka secara bersamaan. Triple helix Approach dari keuntungan ini memberikan kesempatan sebesar-besarnya kepada anak untuk mengembangkan kemampuan yang dimilikinya untuk membentuk cipta, karsa, dan karyanya menjadi semakin baik.

Perilaku manusia dalam memperlakukan sampah sangat ditentukan oleh pola berfikirnya. Jika pikiran manusia dipenuhi oleh segala sesuatu yang bersifat negatif dan manusia itu mengizinkan  fikiran negatifnya menjadi penghuni tetap alam pikirannya, maka sudut pandang manusia tersebut akan persis seperti yang ada dalam fikirannya yaitu serba negatif dan perilakunyapun tidak jauh dari pola pikirnya. 

Perubahan perilaku hanya dapat berubah, jika ada perubahan pola pikir dan hanya yang bersangkutan yang dapat mengubahnya sendiri. Kita perlu hati-hati dengan pola pikir karena akan berubah menjadi kebiasaan, kebiasaan perlahan dapat mengerak menjadi perilaku, dan perilaku akan mebentuk karakter manusia seperti apa kita nantinya.

Sudah semesetinya kita sadar dan peduli bahwa persoalan sampah merupakan persoalan kita bersama. Sampah bukan tanggung jawab pemulung, tukang sampah keliling, atau dinas kebersihan sehingga kita merasa berhak sekali untuk membuangnya begitu saja tanpa peduli ketika selesai menggunakannya. 

Benar, mereka memiliki kewajiban menangani sampah yang kita buang, tapi bukan berarti kita bisa seenaknya membuang tanpa peduli. Jika sampah tidak tertangani dengan baik maka potensi kerugian yang akan kita dapatkan semakin menjadi-jadi. 

Saat ini, sampah menjadi masalah lingkungan yang membutuhkan perhatian serius dan kerja sama pahlawan super seisi bumi, yaitu manusia.

Gerakan mengganti kata “membuang” dengan “menyimpan” sampah bisa menjadi langkah kecil dan bersama kita untuk tidak lagi membakarnya karena akan mencemari udara, menimbunnya karena pasti mencemari tanah, membuangnya ke sungai karena potensial menyebabkan banjir dan pencemaran air. 


Gerakan ini mengarahkan kita untuk memanfaatkan sampah menjadi sesuatu yang lain yang lebih berguna pada tahap selanjutnya.

Kita sedih bukan? ketika mendengar ada bangkai paus ditemukan mati dengan puluhan kilogram sampah diperutnya yang tidak tercerna sempurna, ikan yang terjerembab dalam pelastik, penyu yang tersangkut tali, lumba-lumba yang hampir putus siripnya karena terkena sampah yang terbawa aliran sungai ke laut.

Tidakkah ini semua menjadi duka yang mendalam untuk kita semua, jika masih berperilaku demikian? Karenanya menyimpan sampah dan menggunakannya kembali menjadi cara terbaik memutus rantai masalah sampah agar tidak menjadi bom waktu yang mengintai kita dikemudian hari.

Paradigma menyimpan sampah dari pada membuangnya sangat baik untuk membangun karakter anak bangsa. Sehebat apapun penemuan yang kita ciptakan untuk mengolah sampah, jika kebiasaan kita dalam memperlakukan sampah tidak pernah berubah, maka persoalan sampah tidak pernah akan mengenal kata selesai. 

Paradigma menyimpan sampah adalah bentuk dari  pendidikan karakter yang memiliki urgensi bagi kehidupan manusia di masa yang akan datang. Buah dari usaha ini adalah kita saksikan kesadaran anak indonesia yang tidak lagi membuang sampah seenaknya tetapi menyimpannya untuk kemudian berinovasi dengan sampah tersebut, dengan cara ini dia telah berkontribusi dalam penanganan permasalahan lingkungan yang mengancam spesiesnya dimasa depan, masalah terbesar yang dihadapi seluruh mahkluk dimuka bumi.

Mengganti kata “buang” dengan kata “simpan” sepertinya bukan perkara sulit, rumit dan butuh biaya selangit, kita hanya perlu pembiasaan saja. Mampu meperlakukan sampah dengan cara menyimpannya merupakan kesuksesan kecil yang berdampak besar, jika tidak bisa menguranginya (reduce), paling tidak kita bisa menggunakannya kembali (reuse) dan mengolahnya menjadi bentuk yang lain (recycle) agar keberlangsungan bumi beserta isinya sebagai habitat hidup seluruh makhluk dapat tetap berlangsung.

Artikel Terkait