Psikolog Feminis
5 bulan lalu · 118 view · 4 min baca menit baca · Olahraga 40858_18153.jpg
Les Sportives Magazine

Karate, Tubuh, dan Pemulihan Korban

Fight for Dignity

Adalah Laurence Fischer, peraih gelar Juara Dunia Karate (3x) dan Juara Eropa (10x), yang membantu perempuan korban kekerasan menemukan kembali dirinya, membangun kembali hidup dan masa depannya, melalui olahraga bela diri karate.

Laurence mulai mengenal karate pada usia 6 tahun. Saat itu ia hanya ingin menyenangkan ayahnya, untuk mendapatkan tempat di hati beliau. Tetapi ia menemukan karate sebagai olahraga keras yang terlalu sulit dijalani. Menangis, ia hanya bertahan kurang lebih dua bulan sebelum berhenti berlatih. 

Ketika Laurence menginjak usia 12 tahun, ayahnya berhasil meyakinkannya untuk mencoba kembali karate. Lagi-lagi ia menangis, tetapi kali ini, ia memilih untuk melanjutkan berlatih.

Pelatihnya saat itu peka menangkap karakternya. Beliau berhasil menantangnya, menyudutkannya, mengeluarkan energi tersembunyi dalam dirinya yang ia sendiri tidak pernah menyadari sebelumnya akan keberadaan energi ini dalam dirinya. 


Pada hari pertama latihan, ia pulang dalam perasaan tak menentu, seperti kain pel yang diperas. Ia merasa aneh, gelisah, tersedot, sekaligus pada saat yang sama terpesona oleh olahraga bela diri ini. 

Sejak itu, ia tekun berlatih. Karate membantunya mengenali dirinya, mengeluarkan kemarahan, rasa malu, sekaligus semangat yang luar biasa kuat dalam dirinya. 

Laurence kemudian bergabung dengan Tim Nasional Prancis pada usia 16 tahun. Pada tahun 1993, ia sempat terluka dalam sebuah perlombaan. Ia pulih dari lukanya dengan mengadopsi pandangan baru tentang karate sebagai filosofi, pemahaman yang diberikan seorang guru karate yang ia temui selama periode pemulihan lukanya itu. 

Karate bukanlah pertarungan yang harus dimenangkan. Karate bukanlah ambisi yang agresif. Tetapi karate adalah falsafah hidup. Demikian kata-kata bijaksana sang guru yang dampaknya luar biasa: Laurence yang “baru” pun lahir. 

Laurence kini tidak lagi bertarung untuk memenangkan pertarungan. Bukan lagi “hasil” yang ia nantikan, bukan lagi ambisi juara yang jadi motor penggeraknya. Karate kini dianggapnya sebagai sebuah proses dalam hidupnya. 

Ia mulai memahami bahwa karate tidak hanya sekadar dalam latihan ataupun lomba-lomba kejuaraan. Ia pun bergabung dengan program-program kemanusiaan sambil terus menekuni kariernya sebagai atlet. 

Pada tahun 2005, bersama lembaga Play International, ia melatih perempuan di Afganistan. Pengalaman ini membuka matanya akan kondisi perempuan dan kekuatan dari sebuah olahraga bela diri. 

Dari murid-murid yang ia latih, ia belajar bahwa karate bukan sekedar bela diri, tetapi alat emansipasi perempuan. Karate adalah simbol kebebasan perempuan. Perempuan yang senantiasa ditempatkan sebagai objek itu kini menjadi subjek atas tubuhnya dengan berkarate.

Pada tahun 2013, melalui yayasan Panzi, ia bertemu Denis Mukgewe, dokter yang menangani korban pemerkosaan dalam perang (beliau baru saja mendapatkan hadiah Nobel perdamaian tahun 2018 lalu). 


Para korban ini telah mendapatkan penanganan medis, pendampingan psikologis, terapi musik, dan latihan membaca dan menulis berkat dokter Mukgewe dan rekan-rekan. Laurence, sangat terenyuh oleh kondisi korban, meyakini bahwa korban juga perlu berkoneksi kembali dengan tubuh mereka yang telah mengalami traumatisasi ini. 

Korban, meski anggota tubuh mereka telah dipulihkan berkat dokter Mukgewe, tetap melihat tubuh mereka seperti rusak dan mati. Bagaimana agar mereka dapat menemukan kembali tubuh yang semula (dalam arti psikologis), bagaimana mereka dapat mencintai kembali diri dengan menerima tubuh yang sudah rusak, yang sudah mengalami traumatisasi ini (meski sudah diperbaiki), inilah yang menjadi pemikiran dan harapan Laurence.

Pada tahun 2014, ia mulai memberikan kursus karate pada perempuan korban pemerkosaan di klinik dokter Mukgewe. Dua tahun kemudian, tiga muridnya melanjutkan misinya secara lebih luas. Mereka memberikan pelatihan karate kepada para perempuan di kampung mereka. 

Melihat hasil yang positif dari pelatihan karate yang ia berikan pada para korban di Republik Kongo, Laurence mendirikan asosiasi Fight for Dignity (2017). Asosiasi ini memiliki misi untuk membantu para perempuan korban dalam menerima kembali tubuhnya, menemukan harga dirinya yang hilang, menemukan kembali kepercayaan dirinya, membangun kembali identitasnya yang tercabik, memeluk kembali dirinya secara utuh.

Laurence menjadikan tubuh sebagai pusat dari proses pemulihan korban. Karena tubuh merekalah yang teraniaya; traumatisasi terhadap tubuh yang telah mengantarkan korban pada kondisi psikisnya saat ini. Untuk memulihkannya, perlu ada re-koneksi antara pikiran, tubuh, dan jiwa. Laurence meyakini bahwa karate dapat membantu korban untuk melakukan re-koneksi ini.

Karena karate bagi Laurence bukan sekadar teknik membela diri. Dalam “teriakan” saat melakukan tendangan, korban mengeluarkan semua yang mereka rasakan: kemarahan, rasa malu, rasa terhina, rasa bersalah, dan lain-lain yang menghantuinya. 

Selanjutnya, mereka belajar mengelola emosi-emosi ini. Tendangan tidak ditujukan untuk membalas dendam, tetapi menenteramkan kemarahan. 

Dalam gerakan-gerakan ini, mereka hidup, mereka mengucapkan kata “saya”: mereka eksis. Seragam karate yang mereka kenakan juga membantu dalam proses rekonstruksi, sebagai sebuah simbol. 

“Kekerasan telah mencuri identitas korban, seragam karate mengembalikan kebanggaan akan diri yang sangat dibutuhkan untuk mencapai pemulihan,” tegas Laurence. 


Fight for Dignity kini hadir tidak hanya untuk perempuan korban pemerkosaan di Republik Kongo. 

Sejak tahun 2018, Laurence bergabung dengan Rumah Perempuan di Paris (tepatnya di wilayah Saint-Denis: Maison des femmes de Saint-Denis). Di sana, ia memberikan pelatihan karate untuk korban kekerasan (pemerkosaan, KDRT). 

Tetapi aktivitas Fight for Dignity tidak terbatas pada pelatihan karate. Bekerja sama dengan berbagai asosiasi dan juga universitas (tepatnya Université de Strasbourg), Fight for Dignity mengembangkan pendekatan multidisiplin terkait dengan tubuh sebagai pusat pemulihan korban. Silakan kunjungi situsnya fightfordignity.net (untuk sementara, hanya dalam bahasa Prancis).

Artikel Terkait