Media masa ramai meributkan sebuah negara kecil di Samudra Pasifik bagian Selatan. Negara yang bernama Republik Vanuatu ini luasnya cuma sebelas duabelas dengan Provinsi Gorontalo. Meski cuma sebesar upil dibandingkan Indonesia tercinta, ternyata sejak 2016, Vanuatu rutin berisik soal dugaan pelanggaran HAM Papua di forum resmi sidang umum PBB.

Bagi pencinta bola tentu nama negara ini sudah tidak asing lagi. Tahun lalu, Vanuatu pernah digilas 6-0 dalam laga uji coba menuju kualifikasi Piala Dunia 2022 di Stadion Utama GBK oleh skuat Timnas kita. Saat itu, Beto Goncalves dan Evan Dimas berhasil merobek gawang lawan tanpa ampun. Uwow, kan?

Akibat ‘obsesi’ Vanuatu terhadap nasib Papua, para netizen memang sempat menyerang  situs web  pariwisata mereka. Namun, kementrian luar negeri kita menolak dan melarang keras serangan bernada rasis tersebut. Biar bagaimana pun, sikap rasis sangat bertentangan dengan nilai pluralitas bangsa Indonesia. Ya, tho?

Nah, daripada terus kesal dengan negara berbentuk ketapel itu, mari kita longok enam keunikan karakter Vanuatu dari beberapa sumber yang sudah saya himpun. Kira-kira ada nggak ya yang sama dengan Indonesia? Yuk, chek it out.

Pertama, Vanuatu menjadi salah satu tempat bahagia di dunia. Hal ini berdasarkan penilaian Happy Planet Index dengan mempertimbangkan aspek kesejahteraan, usia harapan hidup, kesetaraan, dan ekologis.

Di Vanuatu, setiap warga memiliki tanah sendiri. Penduduk di sana sejak kecil terbiasa mengelola lahan pertanian sebagai sumber pangan mandiri. Nah, kepemilikan tanah sendiri itu termasuk salah satu aspek kebahagiaan.  

Selain itu, di sana ketersediaan sumber makanan lain melimpah serta mudah diakses warga. Misalnya hasil laut, daging babi, umbi-umbian dan rempah-rempah. Akibatnya, penduduk di sana merasa berkecukupan dan tidak punya rasa ketergantungan pada uang. Uang yang sering kali jadi sumber stress banyak orang, tidak  lagi jadi ‘dewa’ yang dikejar-keja di Vanuatu.

Mereka juga memiliki ikatan sosial yang erat satu sama lain. Sehingga, bila terjadi konflik, segera mudah ditemukan solusinya. Bila ada acara seremonial atau kegiatan bersama, maka mereka akan kompak saling berjibaku. Adem ayem, tenteram, dan guyub. Kebayang, kan, damainya?

Kedua, Vanuatu memiliki keindahan alam yang tiada tara. Sama seperti halnya Indonesia, negara ini juga berupa negeri kepulauan yang memesona. Hamparan pantai berpasir putih nan lembut, air laut jernih membiru dengan batu-batu koral yang cantik, serta spot-spot air terjun nan aduhai.

Sebut saja wisata gua di Blue Cave, Millennium Cave, dan situs kematian di Chief Roi Mata’s Domain. Kemudian ada desa kuno di Yakel, hamparan pantai cantik di Champagne Beach, kolam alami di Nanda Blue Hole, dan semburan lava gunung Yasur yang menakjubkan. Ahay, pasti bisa jadi koleksi foto ciamik yang bisa di pajang di Instagram kalau Anda berkunjung ke sana.

Ketiga, ternyata Vanuatu menempati ranking pertama dari 173 negara di dunia yang paling rentan dilanda bencana. Seperti gempa bumi, gunung meletus, badai, banjir, kekeringan, serta kenaikan air laut. Busyet, lengkap amat ya.

Adanya ancaman gempa bumi dan letusan gunung api di Vanuatu terjadi akibat negara itu berada di lingkaran cincin api Pasifik. Belum lagi karena wujudnya terdiri dari kumpulan pulau-pulau kecil di hamparan samudra luas, maka amukan badai kerap menyaput wilayah tersebut.

Vanuatu juga termasuk salah satu negara yang terancam bakal tenggelam akibat pemanasan global. Setiap tahun, kenaikan air laut terjadi dan itu sungguh membahayakan kelangsungan hidup di sana.

Keempat, Vanuatu punya sejarah mengerikan tentang praktik kanibalisme. Nenek moyang mereka senang menyantap daging manusia sebagai hidangan istimewa. Konon, pada tahun 1839, ada dua misionaris Inggris pertama yang dikirim ke sana. Keduanya berakhir menyedihkan sebagai pengenyang perut para kanibal di sana. OMG!

Ada wisatawan bercerita bahwa penduduk Vanuatu bisa menjelaskan secara detail bagaiman teknik mengolah ‘daging’ tersebut. Ternyata resep kuliner ekstrim itu memang diturunkan secara turun temurun. Bayangkan, mereka menggali lubang yang cukup dalam dan mengisinya dengan batu-batu panas.

Setelah itu, ‘daging’ yang sudah dipotong-potong bersama umbi-umbian (talas dan ubi) di taruh di atasnya. Lalu ditutup dengan daun daunan lebar supaya uap panasnya tidak keluar. Standar lama matangnya berkisar 3-5 jam. Dan, bagian kepala adalah sajian spesial khusus sang pemimpin. Serem abis ya. Tapi,  tenang saja. Sejak tahun 1969 sudah tak ada lagi praktik horor seperti itu.

Kelima, inilah penyebab Vanuatu merasa ‘care’ dengan Papua. Bangsa Vanuatu dan Papua sama-sama berasal dari ras Melanesia. Secara penampilan umum, ras ini berkulit gelap, berambut ikal, memiliki tulang besar dan kuat, serta bertubuh atletis. Persebaran ras ini terbentang dari Maluku, Papua, Kepulauan Solomon, Vanuatu, Fiji, dan Kaledonia Baru.

Vanuatu bersuara keras menentang segala bentuk penjajahan atas ras Melanesia. Isu kasus pelanggaran HAM di Papua jadi alasan negara itu mengkritik tajam kebijakan pemerintah kita. Hemh ... tapi, apa benar ya?

Atau, jangan-jangan ada kepentingan lain yang bermain, demi eksploitasi kekayaan SDA Papua yang bernilai tinggi dan sangat strategis bagi kaum kapitalis global? Jadi, Vanuatu itu cuma alat yang dimanfaatkan ‘dalang’ sesungguhnya. Silakan Anda pikir sendiri.

Keenam, adalah hal yang paling menarik dari Vanuatu. Ternyata, negeri ini adalah negeri yang anti perjombloan. Bagi warga Vanuatu, tidak ada kata susah cari jodoh. Status single tidak bakal lama-lama nempel karena di sana perkawinan adalah salah satu perkara yang paling penting. Tradisi perjodohan kuat berlaku bagi setiap muda mudi yang sudah berusia pantas. Konon tingkat pernikahan di negara itu mencapai 100%.

Nah, dari enam karakter tersebut, Vanuatu bisa dibilang punya sedikit kemiripan dengan Indonesia. Yaitu, sama-sama punya pesona alam yang indah,  sama-sama punya ancaman bencana alam, dan sama-sama dihuni oleh ras melanesia.

Tetapi dibandingkan Vanuatu,  Indonesia belum tercatat sebagai tempat bahagia dan bebas dari jomblo. Meski begitu, syukurlah nenek moyang kita adalah pelaut bukan pemakan daging manusia.

Apabila masih penasaran dengan Vanuatu, boleh saja negara ini masuk list perjalanan wisata Anda kelak. Tapi, tunggulah sampai pandemi Covid-19 ini berlalu. Bersabarlah dulu karena kita masih ‘diblokir’ masuk oleh negara tertentu. Berdoa saja semoga semua itu cepat berlalu. Hingga kita bisa ngumpul-ngumpul lagi seperti dulu.