human.jpg
[Foto: Lovers Tiff/Flickr]
Seni · 5 menit baca

Karakter Manusia, Logika, dan Seni

Mari kita mulai bicara soal seni secara lebih serius.

Mari tinggalkan kemalasan kita untuk berfikir serius. Tinggalkan kebiasaan kita yang hanya sebatas melempar komentar. Mari sejenak kita mulai berdialog. Dialog seni. Diskursus.

Dalam keseharian, kita dihadapkan pada berbagai macam tipe manusia. Tentu saja saya tidak akan memaparkan semua tipe manusia yang ada di muka bumi ini. Hanya sebagian kecil saja yang akan saya uraikan. Namun percaya saja, dengan melihat tipe manusia yang akan saya tuliskan ini, anda barangkali juga sudah cukup puas. Percaya saja.

Kepuasan anda akan saya jamin. Sungguh. Saya tidak bohong. Saya bukanlah Setya Novanto yang pandai berkelit. Dia jelas pendusta kelas kakap. Tapi saya? Aah..bukan siapa-siapa.

Kepuasan anda akan terpenuhi andaikan anda mau mengikuti aturan main saya: percaya saja!

Setidaknya ada tiga tipe manusia yang mendominasi kehidupan kita. Ketiga tipe manusia itu kadang bekerja sama untuk membangun dunia yang fana ini menjadi menarik untuk dijalani, namun kadang juga sebaliknya.

Pernah juga, mereka bertiga saling berkelahi lantaran memperebutkan status mana yang lebih oke: menjadi orang baik namun tak memiliki apa-apa, atau menjadi orang yang seakan baik, namun memiliki sedikit harta. Mereka memperdebatkan hal itu hingga tiga purnama! Sungguh mengerikan!

Tipe manusia pertama adalah tipe manusia yang main aman. Biasanya tipe manusia semacam ini adalah tipe-tipe manusia yang tidak mau susah ataupun disussahkan. Cenderung naïf. Tipe manusia semacam ini dapat kita lihat dalam diri orang-orang yang biasanya menerima segala sesuatu dengan (seakan) lapang dada.

Alih-alih menyematkan ketulusan pada dirinya, malah tak jarang dimanfaatkan oleh orang lain, oleh orang yang memiliki kuasa lebih atas dirinya. Atasannya.

Tipe selanjutnya adalah tipe manusia tukang protes. Tipe ini adalah tipe orang-orang yang senantiasa mengumbar protes, ketidaksukaan. Cenderung logis. Namun tak jarang, orang-orang seperti ini termakan dengan omongannya sendiri.

Maklum, namanya juga manusia, wajarlah kalau tidak konsisten dengan omongannya. Semua bisa berubah, termasuk dengan argumentasinya sekalipun. Itu pembelaan mereka. Tipe orang seperti ini biasanya memiliki posisi yang cukup tinggi, entah dalam jabatan, ataupun posisi tawar yang lain. Maklum, argumentasi logis mereka cukup diterima dan terkadang mampu meluluh lantahkan kepentingan banyak orang.

Tipe selanjutnya adalah tipe penggembira. Nah tipe ini memiliki jumlah anggota paling banyak di jagat raya. Mereka adalah tipe orang-orang apatis, tak peduli, cuek bebek, dan cenderung kekanak-kanakan. Yang mereka pikirkan hanyalah ego dan kesenangan mereka sendiri.

Sayangnya sikap cuek ini mereka tularkan kepada sanak saudara mereka, maka tak heran kalau semakin banyak orang yang cuek, dan jika ditegur mereka akan mengkhotbahi kita dengan narasi yang sesat pikir.

Ketiga tipe manusia tersebut, saling memperebutkan wilayah kekuasaannya dalam masyarakat, juga dalam diri tiap individu. Manusia adalah makluk yang kompleks. Sedari kecil kita dijejali oleh definisi yang tak memadai tentang siapa itu manusia. Manusia adalah makluk berakal budi dan merupakan ciptaan Tuhan paling sempurna.

Setidaknya itu yang mendarah daging di dalam diri kita, di dalam tiap pori-pori kita. Definisi yang kurang memadai tersebut rupanya berimbas pada pemahaman yang dangkal tentang konsep kemanusiaan, tentang keakuan. Dalam definisi tersebut, bahkan tak ada kata “sesama”, “orang lain”, bahkan “alam”. Padahal, itu esensial.

Kita hidup dengan orang lain di dalam alam. Dan jika dalam definisi tentang manusia yang sudah mendarah daging tersebut tak memuat unsur-unsur penting itu, maka pantas jika manusia semakin menjadi aku, semakin arogan atas sekitarnya, dan  di titik terekstrim: manusia menjadi Tuhan atas sesamanya. Homo homini deus est.

Perlu diingat, ketika kita mencoba memberikan definisi yang pasti mengenai hal yang tidak pasti, maka persis disitu terjadi pereduksian makna. Makna menjadi tak utuh. Parsial. Mengenai hal itu, saya sepakat untuk tidak mendefinisikan siapa manusia.

Bukan berarti manusia adalah makluk yang tak tersentuh, namun saya lebih memilih untuk melihat kompleksitas diri manusia dari banyak segi: antropologi, sosial, politik, ekonomi, hingga budaya. Dan dengan mencoba untuk melihat manussia dari banyak sisi, saya percaya kita akan lebih melihat manusia sebagai makluk yang utuh, dan tak terdefinisikan.

Tipe-tipe manusia dan pendasaran definisi diatas, rupanya memiliki pengaruh dalam kehidupan berkesenian.

Saya bukanlah pengamat seni, bukan juga seniman. Saya hanyalah seseorang yang suka membaca kajian tentang seni. Kajian tentang seni harus dipahami dulu sebagai kajian yang bersinggungan dengan seni itu sendiri. An sich.

Kajian ini pada dirinya sendiri sebenarnya tidak melulu menyentuh kedalaman yang sangat filosofis. Namun apa adanya. Seada-adanya. Being is it is! Demikian ujar Jean-Paul Sartre dalam bukunya Being and Nothingness. Seperti halnya being, seni juga dapat kita artikan sebagai fenomena seada-adanya.

Objek yang menampak di depan kita, objek yang dapat kita indra, juga yang dapat kita tolak. Yang dapat kita bicarakan adalah objek seni yang ada disana. Yang ada di depan kita. Sebab, ide dan proses kreatif mengenai objek yang sudah jadi itu hanya bisa dibicarakan manakala kita ikut terlibat di dalam proses tersebut.

Kajian ilmu tentang seni, akhir-akhir ini menemukan banyak sekali persoalan. Dalam kajian seni itu sendiri, sebenarnya sudah menyimpan berbagai macam intrik dan konflik kepentingan. Politik. Layaknya konflik diantara ketiga tipe manusia: main aman, tukang protes, dan penggembira.

Bahkan banyak seniman yang sudah tidak lagi memikirkan hal-hal yang “filosofis” di balik karyanya. Pemahaman tentang seni yang minim dari para seniman biasanya dilatarbelakangi oleh satu aspek saja: ekonomi! Pilih mana: kerja ideologis, atau kerja ekonomis?

Memang pada kenyataannya, pasar banyak menentukan nasib para seniman. Apalagi seniman ibukota. Maka saya sangat mengapresiasi kehadiran seniman-seniman yang masih menjunjung tinggi idealismenya di tengah gejolak pasar.  

Bicara soal seni, maka kita juga harus bicara soal lembaga yang membentuknya: Sekolah seni. Di Jakarta misalnya, sekolah atau lembaga yang mencetak seniman sebenarnya cukup banyak. Hal itu bisa kita lihat dari banyaknya jurusan ataupun fakultas yang mengatasnamakan Fakultas Seni …….(isi sendiri).

Namun sayangnya, fakultas-fakultas seni itu sendiri, tidak banyak yang menawarkan kedalaman makna. Orang yang belajar di tempat itu hanya dituntut mampu berkarya secara teknis. Mampu membuat gambar perspektif, mampu membuat animasi, membuat film, skenario, dll.

Pertanyaan yang berlaku untuk mereka bukanlah “mengapa ada aliran dadaisme?” misalnya, namun hanya sebatas “apa itu dadaisme?”

Dengan pernyataan saya diatas, lantas saya bukanlah merendahkan derajat kemampuan teknis, hanya saja itu hal yang dapat dipelajari dengan cara singkat. Percayalah. Lebih berarti mana, paham cara memproduksi vocal yang kuat, atau paham atas konsep alienasi dalam teater brecht?

Seni bukanlah barang murah, bukan barang yang diobral di pasar-pasar. Namun dewasa ini, seni menjadi dekaden. Adapun alasannya bermacam-macam: pertama, karena kultur modernitas yang membuat manusia semakin malas untuk berfikir dan berargumen, hingga akhirnya yang dicari dari seni hanyalah sebatas hiburan belaka. Kedua, dari sudut pandang seniman itu sendiri yang terlampau mendewakan pasar. Dengan demikian genaplah nas yang diungkapkan Arthur Danto, bahwa Seni telah berakhir.