Gusdurian
4 bulan lalu · 1012 view · 4 min baca menit baca · Budaya 70808_17469.jpg
IG

Kapribaden Presiden Jokowi

Penghinaan, fitnah, dan hoaks yang terus menyerang Jokowi, baik sebagai presiden maupun pribadi, hanya akan dianggap angin lalu oleh Jokowi. 

Sebagai orang yang dianugerahi ‘kedalaman hati’, Jokowi sangat memahami orang-orang yang menghina, memfitnah, dan menyebarkan hoaks tentang dirinya hanyalah orang-orang yang masih diperbudak hidupnya sendiri. Laku hidup mereka menjadi rusak, baik ucapan, kepribadian, dan sikapnya. Yang ada pada diri mereka hanyalah kebencian, iri hati, dan dendam.

Kesabaran Jokowi dalam menghadapi semua hinaan dan fitnah, bagi orang biasa, akan dianggap tidak masuk akal. Bayangkan, mulai dari sebutan plonga-plongo, dungu, pembohong, anak keturunan PKI, sampai dengan tuduhan ibu kandungnya palsu, ia hadapi hanya dengan senyuman.

Dengan orang yang dulu ia percaya untuk membantunya dan sekarang berbalik menjadi lawan politik dan mengolok-olok kebijakannya, sikapnya pun sama: ia hadapi dengan senyuman. 

Tidak sekali pun ia berkomentar apalagi membalasnya. Sebagai mantan atasan, tentu Jokowi mempunyai amunisi untuk menelanjangi mantan anak buahnya, tapi tidak ia lakukan.

Laku Kapribaden

Kehadiran Jokowi dalam kancah politik nasional telah mengubah peta kekuasaan di Indonesia. Ini sangat merugikan para politisi yang mengandalkan keturunan, pengusaha kotor, dan juga birokrat korup.

Bagi mereka, Jokowi adalah bencana. Mereka tidak terima ‘wong ndeso’ tanpa nazab pemimpin, bukan anak jenderal, dan bukan pula pengusaha kaya raya tetapi bisa menjadi Presiden Indonesia.


Menjadi walikota dua periode, kemudian menjadi Gubernur DKI Jakarta, dan sekarang Presiden RI tentu bukan kemunculan yang tiba-tiba. Jokowi telah melawati dua perjalanan panjang ini: proses politik dan spiritual.

Hanya saja, selama ini masyarakat lebih melihat proses politiknya. Perjalanan spiritualnya diabaikan.

Sebagai orang yang lahir dan besar dalam tradisi Jawa yang kuat, spiritualitas Jokowi sudah dibentuk sejak kecil. Salah satunya dengan menjalani lelaku prihatin. Lelaku inilah yang membentuk karakter, perilaku keseharian, dan sikap batin Jokowi dalam mengendalikan nafsu keduniawian. 

Lelaku prihatin ini bukan semata sebagai sebuah penderitaan, kesedihan, dan serba-kekurangan, tetapi untuk membentuk pribadi yang welas asih.

Spiritualitas Jokowi dibentuk melalui tiga fase perjalanan hidup. Pertama, apa yang pernah dialami (dari lahir sampai sekarang). Kedua, bagaimana ia menyikapi penderitaannya (yang dilakukan dari dulu sampai sekarang). Ketiga, apa yang dilakukannya (pekerjaan). Semua fase inilah cikal bakal kepemimpinannya.

Pertama, apa yang pernah dialami.

Sejak kecil, Jokowi lahir dari keluarga miskin, tinggal di bantaran kali, dan tempat tinggalnya pernah digusur. Pengalaman hidup ini telah mengajarkan Jokowi tentang kepedulian dan keperpihakan kepada orang-orang papa. Dari sinilah sikap welas asih kepada sesama dan alam semesta tidak pernah lepas dalam praktik keseharian Jokowi.

Kedua, dalam menyikapi penderitaan.

Bagi Jokowi, penderitaan bukanlah kutukan, justru menjadi media introspeksi untuk laku hidup yang lebih baik. Penderitaan yang pernah dialami, ia serahkan sepenuhnya kepada yang memberinya hidup, Tuhan Yang Maha Esa. Ia menerimanya dengan kesabaran dan penuh keikhlasan.

Ketiga, dalam hal pekerjaan.

Bukan rahasia lagi kesuksesan Jokowi menjadi pengusaha bukanlah dari hasil warisan, tetapi melalui kerja keras, totalitas, dan kejujuran. Jatuh-bangun menjadi pengusaha sudah pernah dirasakan. Dunia usaha inilah yang menjadi kawah ‘candradimuka’ Jokowi dalam pengetahuan manajerial  dan melahirkan ide-ide perubahan.


Lelaku prihatin yang dijalani Jokowi merupakan laku spiritual untuk mengenal diri sendiri sebagai manusia; mengenal diri sendiri sebagai pribadi, baru bisa mengenal Tuhannya. 

Melihat lelaku dan fase perjalanan spiritual Jokowi, ia telah mengamalkan apa yang disebut sebagai ajaran Kapribaden. Ini merupakan ajaran yang mengutamakan mengenal urip (hidup) dan mengabdi kepadanya (urip) untuk tidak diperbudak oleh hidup.

Jokowi Putra Romo?

Kapribaden (bahasa Jawa) bukanlah tentang kepribadian, bukan juga tentang sifat-sifat dan watak yang ada dalam diri seseorang, tetapi tentang laku spiritual mengenal diri sendiri sebagai seorang manusia, menuju laku kesempurnaan, manunggaling kawulo gusti.

Dalam laku spiritual ini, Kapribaden memiliki sarana untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Gusti Ingkang Moho Suci (Tuhan YME) melalui laku panca ghaib, yakni kunci, asmo, mijil, paweling, dan singkir.

Apakah Jokowi melakukan ritual ini? Tidak ada yang tahu, tapi bisa kita lihat dari perilaku, sikap, dan tindakan dalam kesehariannya.

Pertama, sikap dan tindakan Jokowi selalu peduli dengan orang lain. Misalnya, sebagai presiden, kebijakannya yang memprioritaskan keadilan dan kesejahteraan membuat ia begitu dicintai rakyatnya. Rakyat melihatnya sebagai presiden yang menyenangkan, presiden yang dipandang bisa mengerti keinginan hati rakyatnya.

Kedua, sebagai seorang pemimpin, apa pun yang diucapkan Jokowi selalu membuat tenteram yang mendengarnya. Rasa optimisme yang selalu disampaikan, baik saat berbicara maupun saat berpidato, membuat rakyatnya bersemangat untuk membangun negerinya yang lebih baik. Ia menyampaikan harapan, bukan kepunahan.

Ketiga, menepati janji, baik ucapan maupun perbuatan. Inilah kewajiban pemimpin. Jokowi telah membuktikannya, baik sebagai pemimpin keluarga dengan kehidupan rumah tangganya yang rukun dan harmonis. Pun sebagai presiden, Jokowi telah menepati janjinya untuk merealisasikan keadilan di seluruh pelosok negeri.

Tiga perilaku keseharian Jokowi ini, baik sebagai pribadi maupun presiden, dalam ajaran Kapribaden, merupakan ciri dan contoh laku seorang Putra Romo. Putra Romo adalah orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Ia menjadikan laku hidupnya untuk kemaslahatan bagi sesama. Ia juga berbagi ketulusan dan welas asih kepada alam semesta.

Bagi orang awam, Jokowi hanya dilihat lahiriah semata. Maka tidak heran dari mereka ini mudah muncul kebencian, fitnah, dan hoaks. 

Sebutan seperti Jokowi dungu, Jokowi kafir, Jokowi antek aseng, dan presiden boneka akan terus muncul dari orang-orang seperti ini. Mereka mengagungkan ‘akal sehat’, tetapi otaknya cacat dalam memaknai hidup.


Lalu bagaimana Jokowi melawan kebencian, fitnah, dan hoaks yang terus menyerangnya seiring makin dekatnya Pilpres?

Dalam salah satu postingan di akun Instagram-nya, Jokowi mengatakan, segala sifat keras hati, picik, dan angkara murka hanya bisa dikalahkan dengan sikap, lembut, dan sabar. Inilah lelaku Kapribaden yang selalu dijunjung tinggi para putra romo.

Artikel Terkait