Setiap hari pendidikan selalu berjalan menuju perbaikan. Menampakkan kehebatan di depan umum atas prestasi yang diraih oleh sekolah, sebagai daya tarik untuk meraup keuntungan. 

Begitupun dengan sistem, pendidikan saat ini. Apa yang di cita-citakan para leluhur kita, hari ini menjadi kacau balau, seandainya kita mampu mendengar perihal yang gaib, maka kita akan mendengar tangisan para pendahulu yang memperjuangkan pendidikan dengan penuh perjuangan. Demikianlah persoalan yang mendera pendidikan kita saat ini. 

Mulai dari gelar yang diberikan tanpa dasar dan urgensi yang begitu jelas, sampai pemungutan pajak dari dunia pendidikan. apakah Negara yang kaya raya ini, kehilangan sumber pencaharian untuk pemasukkan di kas Negara.

Sistem kapitalisme yang di praktikkan Negara kita, semakin mendera masyarakat kalangan bawah. Mulai biaya pendidikan yang tinggi, banyaknya syarat administrasi yang membebani membuat pendidikan ini tidak maju-maju. 

Sebagaimana yang dikatakan oleh Paulo Freire sistem pendidikan yang dimasuki oleh politik akan menghasilkan pendidikan yang hanya mengokokohkan keberadaan kaum elit. 

Hal ini demikian yang terjadi saat ini. Bahkan lembaga pendidikan seakan tidak lagi memiliki marwah sebagai tempat proses memanusiakan manusia.

Namun realitas saat ini yang menjadi fenomenal adalah, semakin pemerintah memperbaiki pendidikan Negara ini, masih saja banyak yang mengatakan bahwa pendidikan kita masih sangat jauh dari Negara lain. 

Seperti yang dilansir oleh media online Kaskus.News menjelaskan bahwa Indonesia berapa pada peringkat kelima pendidikan di asia tenggara. Indonesia dikalahkan oleh Brunei Darusalam yang berada di peringkat ke dua. Sebenarnya apa yang menajdi masaalah dalam dunia pendidikan kita.? 

Menurut Mukani dalam bukunya “Dinamika Pendidikan Islam” menjelaskan bahwa hari ini pendidikan kita hanya sekadar transfer knowledge saja tidak ada pemberian muatan materi khusus yang menjelaskan pentingnya pendidikan. 

Mukani juga menjelaskan dunia pendidikan kita saat ini lebih mengarah ke  dunia Industri peserta didik di berikan pendidikan hanya untuk orientasi mencari pekerjaan selepas menempuh pendidikan, jadi tidak ada output yang jelas untuk kemajuan pendidikan yang mencerahkan.

***

Hemat penulis tidak ada urgensi untuk jasa pendidikan dikenakan pajak. Masih banyak sector lain yang bisa di kenai pajak pertambahan nilai. Pendidikan seharusnya jangan di komersialiasi mengarah ke kepentingan yanhg mengatasnamakan rakyat. 

Sebab pendidikan hari ini, baik sebelum rencana akan dikenakan PPN, pendidikan kita sudah mahal dan sulit dijangkau oleh masyarakat kelas menengah ke bawah. Apalagi jika sudah di kenakan pajak. 

Akan semakin mahal biaya pendidikan kita. Anggota DPR RI Himmatul Aliyah mengkritik kebijakan tersebut. Sebab pendidikan merupakan tanggungjawab pemerintah dan menajmin warganya untuk mendapatkan pendidikan. 

tentunya ini sangat tidak masuk akal. Seakan-akan pemerintah ingin melepas tanggungjawab terhadap pendidikan seluruh warga Negara.

Kapitalisme telah meruntuhkan semua cita-cita luhur pendidikan kita. Bahkan pemangku kebijakan tidak lagi memikirkan bagaimana pendidikan kita dapat dijangkau dan dirasakan semua kalangan. 

Apalagi di zaman covid seperti ini. Banyaknya siswa yang putus sekolah akibat pandemic sehingga siswa harus membantu mencari uang untuk keperluan ekonomi. 

Apalagi jika pajak ini diberlakukan, maka akan lebih banyak menghasilkan pengangguran, yang tidak bisa lagi membayar biaya sekolah. Maka perlu manajemen yang baik, mengelolah pendidikan ini aghar tidak mengarah ke sistem kapitalisme yang berkepanjangan.

***

Sejatinya pendidikan harus di arahkan kepada perbaikan pola pikir dari masyarakatnya. Sebab tujuan utama pendidikan kita ialah untuk mencerdaskan kehidupan umum (masyarakat). 

Pendidikan yang membebaskan ialah tidak lagi memberatkan masyarakat dalam mengakses dunia pendidikan. membelenggu kesadaran masyarakat dengan membuat sistem ayng begitu rumit. 

Seharusnya pemerintah jangan mengambil pajak dari lembaga pendidikan, malahan justru sebaliknya memudahkan dalam mendapatkan akses beasiswa untuk seluruh elemen masyarakat. 

Hal demikian semakin menunjukkan bahwa selama ini pendidikan tidak pernah berpihak kepada kaum yang termarjinalkan, justru sebaliknya dengan memiliki financial, maka sangat mudah untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Dunia pendidikan kita, harus mendapatkan pertolongan secepat mungkin, sebelumnya penyakit tersebut menggerogoti seluruh lapisan pendidikan. walaupun sebenarnya saat ini, telah di masuki sistem yang membuat pendidikan itu dijadikan sebagai lahan politik dan mendapatkan keuntungan. 

Realitas yang terjadi, setiap momen politik kepala sekolah sibuk mencari jaringan untuk mengokohkan kedudukannya. Bahkan tak jarang memberi mahar agar kedudukannya tetap berada di tangannya. 

Inilah kemudian yang merusak dunia pendidikan kita. Maka dari itu, kesadaran siswa dan pemerhati pendidikan harus benar-benar terpatri agar kiranya pendidikan kita tidak lagi berorientasi kepada capital dan tempat mencari keuntungan di dalamnya. 

Pendidikan seharusnya menjadi humanis, bukan malah sebaliknya menjadi dehumanisasi.