Selamat Tahun Baru Imlek bagi pembaca sekalian yang merayakan! Semoga tahun baru ini membawa hoki bagi Anda semua. Penulis berharap semoga tahun tikus ini membawa optimisme dan keberuntungan baru bagi bangsa Indonesia. Amin.

Hore, Imlek datang! Eksklamasi ini dinyatakan oleh hampir semua kalangan di Indonesia. Tidak hanya kalangan keturunan Tionghoa saja yang bergembira. Orang-orang dari suku lain juga ikut bersemarak menyambutnya. Ada penyambutan diskon, promo, oleh-oleh, kartu ucapan, dan lain sebagainya.

Menjelang Imlek, banyak pusat perbelanjaan mengadakan diskon dan promo besar-besaran. Begitu pula dengan berbagai online marketplace. Promo barang-barang yang berhubungan dengan imlek menyebar bagai api yang membakar semak-semak. Cepat sekali menyebar dari media sosial dan mulut ke mulut. Terutama di antara kaum ibu yang gemar memburu diskonan.

Selanjutnya, bertukar oleh-oleh/exchanging gifts juga sering dilakukan. Sampai saat ini, keluarga penulis masih menerima parcel dan hadiah-hadiah lain dari berbagai pihak. 

Begitu pula sebaliknya. Yang memberikan atau menerima hadiah tidak terbatas pada kaum keturunan Tionghoa saja. Ada pula kaum non-Tionghoa yang memberikan atau menerima hadiah dari keluarga penulis.

Terakhir, kartu ucapan yang beragam juga sampai ke tangan kami yang merayakan. Ada yang inspiratif, antik, unik, bahkan jenaka. Penulis sendiri senang melihatnya. Menerimanya (baik bentuk fisik maupun dari media sosial) juga membuat penulis merasa diapresiasi. Tandanya ada yang peduli terhadap traditional heritage kami.

Namun, sadarkah kita? Bahwa ketiga kegiatan di atas menciptakan sebuah dinamika ekonomi baru? Penulis menyebutnya sebagai Kapitalisme Imlek. Sebuah peningkatan dari aktivitas pasar pada masa pra-Imlek, saat Imlek, dan pasca-Imlek. 

Penyebabnya adalah meningkatnya permintaan konsumen karena kebutuhan dan diskon/promo. Sehingga, sinyal harga dan permintaan membuat produsen mendorong produksinya. Lantas, jumlah penjualan barang/jasa dan transaksi yang bertambah menjadi buah dari Kapitalisme Imlek.

Ini baru dari persiapan dan kebiasaan masyarakat Indonesia pra-Imlek. Saat Imlek, bahan bakar dari kapitalisme itu sendiri justru dibagikan. Apakah itu? Isi dari Angpau. Alias uang.

Setiap berkunjung ke rumah sanak saudara, penulis pasti diberikan angpau. Begitu pula dengan sepupu-sepupu lain yang belum menikah. Kami semua tentu senang menerimanya. "Duit, tuyul juga doyan," tandas Babe Sabeni. 

Tradisi ini memiliki tiga efek ekonomi. Pertama, jumlah uang yang bersirkulasi meningkat. Kedua, kecepatan sirkulasi uang juga semakin cepat. Ketiga, terjadi transfer daya beli dari keluarga yang sudah berkeluarga kepada kami yang single/jomlo ini.

Sebagai ilustrasi, adanya uang angpau membuat adik penulis ingin membeli macam-macam. Mulai dari mainan terbaru sampai alat menggambar paling mutakhir. Begitu pula dengan sepupu-sepupu penulis yang lain. Bedanya, sepupu yang lebih dewasa sudah mulai berpikir untuk menabung/berinvestasi di berbagai instrumen dengan uang angpau.

Intinya, uang angpau membuat potensi transaksi yang sebelumnya hanya wacana menjadi kenyataan. Dengan kata lain, ini mengubah pembeli absolut menjadi pembeli potensial dan efektif. Pembeli efektif inilah yang mendorong laju transaksi ekonomi pasca-Imlek. They wanted to treat themselves with this money.

Selain uang, perayaan imlek juga melibatkan banyak makanan dan minuman. Setiap datang ke rumah saudara pasti disuguhkan makanan. Mulai dari cemilan seperti kue bolu sampai makanan berat seperti nasi uduk. 

Tentu makanan-makanan ini tidak datang dari langit. Umumnya, para ibu-ibu harus membeli bahan dari pasar/retailer, memasak, dan menyajikannya. Ia datang dari transaksi ekonomi di pasar. Bukan jatuh dari langit.

Begitu pula dengan minuman yang disajikan. Mereka datang dari berbagai macam merek dan rasa. Mulai dari teh melati dalam kemasan, soda, sampai minuman berkarbonasi disediakan. Dengan ini, konsumen melakukan permintaan efektif terhadap sebuah produk dari produsen tertentu. 

Lantas, gabungan berbagai tradisi inilah yang memicu spending spree dalam perekonomian. Makin banyak masyarakat berbelanja, makin tinggi pendapatan yang diterima bisnis. Makin tinggi pula transaksi yang terjadi di pasar. Sehingga, pasar secara keseluruhan menjadi semakin dinamis. 

Berkat dinamika kapitalisme ini, pedagang pernak-pernik imlek untung besar. Semakin banyak kesempatan usaha musiman yang muncul bagi individu yang kreatif dan entrepreneurial. Mulai dari bambu hoki, parsel, barongsai, buah segar, dan lain sebagainya.

Kesimpulannya, Kapitalisme Imlek di Indonesia adalah pemersatu, pendorong, dan pembuka kesempatan ekonomi. Ia mempersatukan orang-orang dari berbagai suku, ras, dan agama untuk ikut menikmati cuan dari diskon dan promo yang menjamur. 

Selanjutnya, pertumbuhan ekonomi juga didorong oleh spending spree konsumen sebelum dan setelah Imlek. Terakhir, kesempatan usaha musiman juga semakin luas bagi individu yang mau mencobanya.