Poso, sejak 1998, telah menjadi perhatian publik. Dalam bukunya yang berjudul Poso, David McRae yang meneliti dengan serius mengenai konflik di Poso mengatakan bahwa konflik Poso merupakan konflik yang cukup panjang di Indonesia. Tidak ada yang menampik, memang demikian kebenarannya.

Saya yang lahir dan dibesarkan di Poso memiliki pengalaman tersendiri terkait hal ini. Masih teringat dengan jelas ketika rumah tempat saya dan keluarga hangus dimakan jago merah. Juga, saya dan keluarga harus diungsikan. Proses belajar juga terganggu.

Tetapi, konflik tersebut pada akhirnya selesai juga. Masyarakat mencoba menata kembali kehidupan, membangun kembali kehancuran yang pernah terjadi. Sampai pada akhirnya, masyarakat harus dibuat waspada lagi dengan munculnya teroris. Hal tersebut menjadikan Kabupaten yang terletak di Provinsi Sulawesi Tengah tersebut, sepertinya, terus diguncang oleh isu kekerasan.

8 Agustus 2020, ketika dunia sedang menghadapi isu Corona Virus Diseases 2019, Poso harus memikul beban ganda. Sebuah ancaman yang berakhir pembunuhan akhirnya terjadi lagi di Desa Sangginora. Kali ini, korbannya adalah seorang petani yang hendak pergi menjaga kebun dengan seorang temannya. Namun nahas, saat hendak ke pondok, kedua lelaki tersebut menjumpai ada beberapa orang di sana.

Sempat terjadi percakapan, sebelum akhirnya orang-orang yang belakangan dikenal sebagai anggota Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Ali Kalora melakukan tindak kekerasan kepada Papa Sela, yang akhirnya ditemukan meninggal. Setelah sebelumnya temannya berusaha meloloskan diri.

Tetapi, sayangnya, kasus ini bukan kasus pertama. Telah terjadi rentetan kasus serupa sebelumnya. Sehingga ini membuka pertanyaan, kapan ancaman teroris ini berakhir? Kapan masyarakat merasa aman untuk pergi ke kebun?

Saya mengajukan pertanyaan dan memberikan tanggapan ini, bukan sebagai seorang ahli dalam kajian teroris. Saya hanya berpikir sebagai orang yang tinggal di Poso, hal ini perlu disuarakan.

Jangan Kerdilkan Masalah Teroris

Salah satu sejarawan yang akhir-akhir ini memiliki pengaruh yang cukup luas adalah Yuval Noah Harari. Bukunya yang berjudul Sapiens: A Brief History of Humankind begitu laku di pasaran, termasuk di Indonesia.

Dalam bukunya yang terbaru, 21 Lessons for the 21st Century, Harari membahas khusus mengenai terorisme. Sesuai judulnya, Terrorism: Don’t panic, Harari menjadikan isu teroris menjadi kecil. Ia, setelah menunjukkan jumlah kasus kematian akibat diabetes, menandaskan, “So why do we fear terrorism more than sugar, and why do governments lose elections because of sporadic terror attacks but not because of chronic air pollution?

Sekilas, memang benar. Diabetes telah merenggut banyak nyawa. Kita perlu mewaspadai hal tersebut. Namun, entah nyawa yang direnggut oleh teroris tidak begitu banyak, tetapi itu tidak menghilangkan fakta bahwa teroris berbahaya. Lalu, bukankah setiap nyawa orang itu berharga?

Selain itu, tingkat kepanikan orang berbeda-beda. Misalnya, ketika mendengar bahwa kejadian pembunuhan di kebun, orang akan merasa terancam jika harus ke kebun. Orang akan dihantui oleh pikiran, jangan-jangan hal serupa bisa terjadi.

Dalam pada itu, sebuah sikap yang memperkecil masalah ini perlu dihilangkan. Jangan pernah berpikir bahwa satu atau dua nyawa menjadi kurang berarti dibandingkan seribu nyawa. Dengan demikian, isu teroris mungkin bisa menjadi perhatian serius, karena sepertinya isu ini telah begitu lama membuat masyarakat gerah dan gelisah.

Saya takut, jangan-jangan gaya berpikir Harari inilah yang dianut oleh banyak orang. Lagi-lagi, saya harus katakan, pandangan tersebut jangan dipakai dalam menangani kasus Poso. Lebih baik isu ini dijadikan penting, dan perlu penyelesaian sesegera mungkin.

Tanggung Jawab Siapa?

Pertanyaan yang tidak kalah penting, yang muncul sekarang, lalu ini menjadi tanggung jawab siapa?

Terlalu mudah untuk menyatakan ini adalah tanggung jawab bersama. Memang benar, namun semua ini harus dikembalikan kepada pihak yang berwenang dalam mengatur masalah ini. Kembali lagi, ini adalah tugas pemerintah. Dengan wewenang yang dimilikinya, pemerintah dapat menggandeng elemen tertentu, untuk menyelasaikan masalah ini.

Pemerintah, yang dipercayakan untuk mengemban amanat rakyat, harus menjamin keamanan rakyatnya. Pemerintah harus memiliki kesadaran bahwa ini masalah serius yang perlu ditangani dengan cukup serius juga.

Karena dalam amatan saya, masalah in, telah terjadi berkali-kali dan isu ini tak pernah selesai. Santoso meninggal, namun tongkat kepempinan teroris masih terus berlanjut. Hal itu cukup untuk membukakan mata kita bahwa isu ini harus dituntaskan hingga ke akar.

Maka, itulah sebabnya pemerintah perlu menggandeng banyak elemen. Jangan lupa bahwa setiap kegerekan, apa pun bentuknya, selalu memiliki ideologi yang mereka junjung dan pegang. Maka perlunya untuk menelusuri di mana, siapa, yang menyebarkan ideologi tersebut, sehingga rantai tersebut bisa diputus. Karena jika tidak, benih teroris itu akan terus bertumbuh. Pemimpin satu boleh ditangkap, namun akan muncul pemimpin yang mungkin lebih militan dan kejam.

Dalam pada itu, perlunya juga untuk menggandeng pemuka agama, akademisi, yang akan merancang pendekatan-pendekatan yang terbarukan dalam penanganan terorisme. Lembaga akademik, dalam hal ini Universitas Sintuwu Maroso, perlu membangun Pusat Studi Kajian Terorisme.

Dari sanalah akan lahir gagasan segar dan brilian, bagaimana cara mengakhiri keresahan masyarakat terkait teroris. Dengan demikian, pemerintah akan tahu, apa langkah yang harus diambil. Siapa yang perlu diajak bekerja sama dalam hal ini.

Yang pasti, masyarakat butuh keamanan. Ini sudah terlalu lama.