“Cinta kepada hidup memberikan senyuman abadi

walau hidup kadang tak adil,  tapi cinta lengkapi kita”

Untuk kita semua, bocah yang mengembara di tahun 2000-an, pasti tak asing dengan lirik lagu itu. Lirik lagu yang indah, lirik lagu yang dimana kita mungkin baru memaknainya. Hari ini.

Beranjak dewasa, mengajarkan kita lebih banyak lagi memaknai tentang ketidaksempurnaan. Entah berapa kali, gagal dan kecewa hadir menghampiri. Tangis dan luka datang dan tak mau pulang.

Kita pikir waktu itu, menjadi dewasa sepertinya hal yang membahagiakan. Hal yang penuh dengan kebebasan dan kenikmatan. Nyatanya, memang tak salah. Hanya saja, tepatnya bukan mendapat kebebasan dan kenikmatan. Tetapi, membutuhkannya.

Tapi kenyataannya, banyak dari kita, yang masih terkurung dalam murung. Yang terjerat dalam sekat-sekat yang mengikat. Ruang mereka kosong, hati mereka sunyi, sepi, dan terkadang seperti tak berpenghuni.

Tak apa, menjadi manusia memang ditakdirkan memiliki air mata. Siapa yang ingin kita tanya sebagai manusia yang paling Bahagia? Jawabannya tak ada. Kita semua sama, kita semua punya luka. Bedanya, caranya untuk melupa.

Mari, kita sedikit bernafas lebih dalam. Duduk lebih lama, dan menatap lebih jauh. Kembali, melihat pada apa-apa yang pernah kita lalui. Hidup yang telah dipenuhi dengan banyak gundah gulana dan duka nestapa.

Tak apa, jika kali ini kita merasa hidup tak berguna. Merasa kosong, bahkan tak tau ingin berucap apa. Yang ada hanya keinginan yang tak tahu kemana arahnya. Bayangan, yang tak tahu dimana ujungnya.

Kau tau sesuatu? Dulu, ketika kita akan dilahirkan di dunia ini, Tuhan pernah bertanya dan memperlihatkan apa yang akan kita terima. Kita kata sanggup. Kemudian kita dilahirkan, kemudian kita berada, dan kemudian, kita disini.

Maka, Ketika kita sedang merasa hilang asa dan rasa, renungkan kembali. Apa yang kita punya? Tentu saja, kita punya cinta. Darimana? Dari mereka yang selalu ada. Tak ada? Tenang, Tuhan sesungguhnya selalu bersama, selalu memberi, selalu menemani, dan tak pernah pergi.

Tak perlu banyak bertanya kepada mereka bagaimana bisa selalu bahagia. Tak perlu pula bertanya mengapa mereka seperti tak pernah terluka. Setiap manusia diciptakan dengan hati yang berbeda, dengan rasa yang tak sama.

Ketika mungkin kita merasa benar-benar ingin berhenti dan mengakhiri, cukup renungkan saja dalam hati, seberapa jauh yang telah kita lewati. Seberapa kuat, kemarin kita pernah menjadi. Berbanggalah kepada diri sendiri, karena telah setia dan tak pernah pergi.

Ingat bagaimana hari lalu, kamu masih bangun dan riang menyapa pagi. Apa yang kamu harapkan di hari itu? Carilah lagi. Tak perlu merasa hilang tujuan, perbaiki dan cari, mereka dekat dengan orang-orang yang mau terus berjalan.

Tidak perlu takut untuk terluka. Hati yang diciptakan Tuhan bukanlah buatan China. Tak mudah rapuh, tak gampang lusuh. Ia kuat tak berkarat. Percayakan saja semua. Hadapi, nikmati, berhenti hakimi.

Hidup yang penuh dengan tanda tanya ini, harus mampu kita lewati dengan baik hati. Hidup yang harus kita hargai sepenuh hati. Hidup yang harus kita cintai hingga nanti, waktunya kita kembali.

Apakah Tuhan pernah mempertanyakan kemana kita ketika tak membutuhkan-Nya? Tanyakan sekali lagi dan cari jawabannya. Begitu baiknya Tuhan, bahkan ketika kita lupa, Ia akan selalu ada ketika kita menangis menengadahkan tangan pada-Nya.

Mari sama-sama sedikit berkaca. Baikkah kita membandingkan yang dititipkan-Nya dengan yang kita ingin punya? Janganlah menjadi orang-orang yang tidak menyelimuti hati dengan syukur dan rasa terima kasih.

Syukur itu, kunci yang mampu membuka sukacita. Lentera yang mampu menuntun kita pada jejak-jejak bahagia. Setiap manusia, Tuhan titipi rasa yang berbeda, tak sama, namun satu kasta. Kita semua sama, kita semua ialah Hamba.

Tuhan telah memperhitungkan. Suratan takdir Tuhan, tidak pernah salah alamat. Ia dibawa oleh hal yang tak pernah salah jalan. Jadi? Apa yang sebenarnya kita risaukan? Tak usahlah memenuhi isi hati dengan bayangan yang belum tentu terjadi. Percaya, menjadi manusia, kita telah ada yang menakar.

Ketika kita merasa kehilangan yang kita miliki, tak usah kita benci pada yang mencuri. Kehilangan itu, hanya ada di dunia. Di akhirat nanti, ceritanya tak seperti ini.

Atau mungkin, Ketika kita merasa gagal karena karena tidak ada yang mengerti apa yang kita ingini? Tak perlu berkecil hati. Jangan berhenti, kita harus terus berlari. Memang, untuk sekedar mengucap, tentu sangat mudah. Tapi disitulah yang harus kita maknai. Tuhan menunjukkan ia ada disini.

Tuhan ingin kita tahu, bahwa ketika kita tak punya siapa untuk bersama, Ia sedang berkata bahwa Ia selalu ada. Bukan Tuhan cemburu, tapi Ia rindu padamu. Tuhan rindu pada anak kecil itu. Anak yang tak mau cepat pulang karena sedang bersenang-senang. Anak yang beranjak dengan waktu yang begitu cepat. Yang kini telah menjadi tumbuh, menjadi besar, menjadi kita.

Hari ini, mari kita bersama temui. Tawa-tawa kecil yang dulu kita hadirkan sepanjang hari. Bahagia yang selalu kita sapa dan rasa. Tak perlu jauh. Tak perlu dengan berpeluh. Cukup dengan hati yang lapang. Dengan segenap raga dan jiwa. Kita Bersama jemput bahagia, dengan syukur dan hati yang tertawa.