Cerpenis
1 tahun lalu · 1157 view · 3 min baca · Gaya Hidup 63781_79140.jpg

Kapan Seseorang Disebut sebagai Penulis

Apa yang akan terjadi pada diri seseorang jika ia tidak berhenti menulis?

Dulu, saya sempat bingung menjumpai sebuah pertanyaan begini; kapan seseorang bisa disebut penulis? Saya hanya bisa diam, merenung panjang.

Jujur, dulu, pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sulit untuk saya jawab. Sekarang pun, masih sama. Selain karena saya masih belum mendapat gelar sebagai penulis, juga karena saya tidak tahu apa-apa soal menulis--saya hanya tahu, bahwa saya tidak boleh berhenti menulis. Lalu orang yang seperti apa yang akan mendapat gelar sebagai penulis?

Kembali pada makna paling dasar pada kata "Menulis", dan sependek-pendeknya akal menangkap kata "Penulis", barangkali yang akan cepat tergambar di kepala adalah seseorang yang bisa menulis. Berarti, setiap orang yang bisa menulis adalah penulis.

Apakah, begitu? Jika tidak, lalu siapakah penulis itu dan bagaimana ia bisa disebut sebagai penulis?

Sehubungan dengan pertanyaan di atas, juga ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak kalah penting untuk dijawab semisal; bagaimana cara menjadi penulis handal? Bagaimana cara menghasilkan karya tulis yang memukau? Bagaimana cara tetap produktif menulis? Dan seterusnya.

Saya pun masih belum bisa menjawab itu semua karena pertanyaan itu bukan sekedar pertanyaan teoritis yang mesti dijawab dengan teori-teori.

Pertanyaan-pertanyaan seperti di atas itu barangkali pernah datang pada kita dan kita tidak bisa menjawabnya dengan sekadar bermain-main teori yang mudah dipahami. Sebab, setiap pertanyaan seputar kepenulisan tidak dapat dibantu sepenuhnya dengan jawaban yang sekadar teori, tapi kadang dapat dibantu dengan pertanyaan-pertanyaan refleksif. Tanya dijawab tanya yang merefleksikan suatu keadaan.

Jadi, jika keluar pertanyaan-pertanyaan seperti di atas; kapan seseorang dapat disebut penulis? Maka pertanyaan balik yang mesti kita ungkapkan sebagai jawaban refleksif untuk sementara adalah sudahkah Anda terus-menerus menulis? Sebab keterus-menerusan atau kontinuitas dalam menulis bisa menjawab segala tanya di atas.

Arti pendeknya, untuk disebut penulis, untuk dapat produktif, untuk menjadi penulis handal, untuk punya karya memukau dan seterusnya, kita cukup lakukan satu hal; Jangan berhenti menulis. Pertanyaan konsekuensinya, apa yang akan terjadi jika kita tidak pernah berhenti menulis? Tentu jawabannya telah saya sebut di bagian awal di tubuh paragraf ini.

Saat seseorang tidak pernah berhenti menulis, ia akan menjumpai dirinya terus-menerus bergelut dalam dunia tulisan. Nah, tepat di saat itulah, semakin seseorang tidak berhenti menekuni tulis-menulis, maka ia akan menjadi penulis. Tidak sekadar menjadi penulis, tapi juga bisa menjadi penulis handal dan produktif yang memiliki karya yang memukau.

Menulis butuh keberlanjutan hingga waktu yang tiada pernah terhingga karena dalam setiap rangkaian menulis yang tidak mengenal berhenti itu kita sebenarnya sedang belajar memperbaiki kualitas tulisan, memperbaiki komitmen menulis, dan memperbaiki kemampuan menulis dari waktu ke waktu. Kata pendeknya, semakin seseorang tidak berhenti menulis, maka semakin dekat pintu bagi dirinya untuk menjadi handal dan produktif.

Sekarang, saya menjadi tahu bahwa seseorang dapat disebut penulis, akan menjadi penulis handal, akan menjadi penulis produktif dan akan memiliki karya-karya yang memukau ialah saat dirinya tiada pernah meletakkan kata berhenti di depan kata menulis. Sebab, di tengah-tengah ketidak-berhentian menulis, selalu ada jalan menuju lebih baik, penulis yang lebih baik.

"Tidak berhenti menulis adalah kunci satu-satunya untuk disebut penulis."

Refleksi Pendek

Ada rangkaian panjang yang tak dapat diulas menjadi teori menulis karena sebaik-baiknya teori menulis adalah menulis. Kita boleh paham banyak teori menulis, tapi apa guna jika kita belum menulis sama sekali?

Ya, menulis hanyalah menulis. Segala rintangan, dan kemandekan akan terselesaikan apabila kita sendiri telah memulai tulisan, dan tiada pernah berhenti menulis.

Banyak hal yang saya jumpai dalam proses menulis, banyak sekali. Terutama masalah-masalah mengenai ide tulisan yang tak dapat dijelaskan, yang kadang buntu dan kadang lancar-lancar saja. 

Begitulah! Orang menulis itu sama dengan orang bersemedi, yang masalah dan kenikmatannya tidak dapat dirasakan oleh siapapapun kecuali oleh orang itu sendiri.

Setiap orang bisa memilih cara sendiri dalam mengatasi masalah dalam setiap proses kepenulisannya. Yang paling pokok dari semuanya, jangan menyerah dan berhenti menulis.

Seorang penulis hanya punya satu waktu dan satu hidup; yakni menulis. Menulis tanpa menyerah. Menulislah dan menulislah, tidak yang lain.

Artikel Terkait