Keputusan pemerintah yang disampaikan oleh presiden Joko Widodo menyatakan bahwa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 bakal diperpanjang hingga 9 Agustus 2021. Sebelumnya, pemberlakuan PPKM darurat juga telah dilakukan oleh pemerintah mulai tanggal 3-20 Juli 2021, kemudian dilanjutkan dengan kebijakan PPKM level 4 yang berlangsung dari tanggal 21-25 Juli 2021 dan pemberlakuan PPKM level 4 hingga 2 Agustus 2021. Kebijakan tersebut merupakan rangkaian keputusan dan solusi di tengah meningkatnya kasus Covid-19 di Indonesia. Pemerintah berupaya membatasi kegiatan dan mobilitas masyarakat dengan adanya pemberlakuan PPKM. Melalui kebijakan tersebut diharapkan menjadi solusi terbaik dalam menurunkan angka kasus Covid-19.

Menurut McKinsey & Company pada Maret 2021 menerbitkan artikel yang mempertanyakan kapan pandemi Covid-19 akan berakhir. Hal ini menjadi salah satu pertanyaan yang masih menjadi persoalan besar di tengah tren angka kasus pertambahaan yang terus meningkat. Apalagi di tengah gelombang kasus baru di beberapa negara, termasuk Indonesia. Pemberian vaksin, mencuci tangan, menjaga jarak, dan dilarang berkerumun merupakan salah satu upaya dalam mengatasi pandemi Covid-19 yang terus meningkat. Herd immunity menjadi usaha dalam menyelesaikan perkembangan virus Covid-19.

Sementara itu, penurunan kasus Covid-19 di sebagian besar dunia selama sepuluh minggu terakhir menjadi harapan baru dalam melawan pandemi Covid-19. Pemberian vaksin terbukti menjadi strategi efektif dalam mengatasi pertambahan angka kasus positif Covid-19. Namun, jika pemberian vaksin tidak setara dan masih belum memenuhi target, maka penularan dan angka kematian yang masih tinggi, dan varian baru virus Covid-19 menjadi kekhawatiran yang mengancam bagi masyarakat. Apalagi varian delta juga telah masuk dan menyebar ke Indonesia. Tentu hal ini akan menjadi persoalan baru bagi pemerintah dan sektor-sektor yang tergabung dalam penanganan Covid-19 untuk meminimalisir adanya kematian akibat virus varian baru Covid-19 ini.

Vaksin dan Upaya Penanganan Covid-19

Jika kita melihat beberapa bulan terakhir dapat diketahui bahwa vaksin terbukti efektif dalam menurunkan kematian akibat Covid-19. Beberapa bukti yang muncul menunjukkan bahwa vaksin setidaknya memberikan kemungkinan besar dalam mengurangi terjadinya penularan, meski tidak pada tingkat yang sama dalam mencegah penyakit yang lebih parah. Misalnya saja pemberian vaksin yang dilakukan di Inggris, pada 15 Maret dilakukan pemberian dosis besar-besaran yakni 39 dosis per 100 orang dalam total populasi. Sementara itu, pemberian vaksin di Indonesia per 24 Juli 2021, ada 17.475.996 juta orang yang sudah divaksin dosis kedua atau sekitar 8,39 persen. Sedangkan jumlah masyarakat yang sudah disuntik vaksin Covid-19 dosis pertama, yakni 44.107.926 orang atau 21,18 persen. Dalam hal ini, pemerintah menargetkan 208.265.720 orang yang menjadi sasaran pemberian vaksinasi Covid-19.

Upaya pemberian vaksinasi digencarkan oleh pemerintah dimulai dari pemberian vaksin tahap pertama kepada para tenaga kesehatan dan sasarannya sebanyak 1.468.764 orang. Sedangkan hingga saat ini, sasaran tahap kedua yakni diperuntukkan bagi petugas publik sebanyak 17.327.167 orang. Sementara sebanyak 2.199.803 guru dan tenaga pendidik yang telah divaksinasi dosis pertama dan 1.663.178 orang telah diberikan vaksin Covid-19 dosis kedua. Untuk vaksinasi lansia sebanyak 21.553.118 orang, dengan pemberian vaksinasi sebanyak 4.755.780 orang lansia pada dosis pertama dan 3.030.543 orang pada dosis kedua.

Herd immunity menjadi fokus penting membangun kekebalan tubuh dalam melawan penularan virus Covid-19 yang meluas. Namun, jika vaksinasi tidak dilakukan dengan massif dan terstruktur dengan menargetkan semua masyarakat mendapatkan vaksin Covid-19 memang butuh waktu untuk mencapai herd immunity yang diinginkan. Sedangkan, banyak orang juga yang masih tidak mau diberikan vaksinasi dan menganggap ada dampak negatif pasca pemberian vaksinasi. Sehingga mereka khawatir dan takut jika mendapatkan vaksinasi, apalagi bertebaran informasi hoax di media sosial seputar vaksinasi.

Selain itu, sebenarnya herd immunity juga tergantung pada kemanjuran vaksin dalam mengurangi penularan virus Covid-19. Beberapa riset menunjukkan variasi tingkat kemanjuran masing-masing jenis vaksin yang telah tersebar di Indonesia, seperti halnya vaksin CoronaVac yang dibuat oleh Sinovac dan Astrazeneca. Berdasarkan riset yang dilakukan di Chili menunjukkan vaksin Covid-19 Sinovac efektif 67 persen mencegah infeksi simptomaik atau kasus bergejala. Bahkan, vaksin Sinovac juga 85 persen efektif mencegah gejala berat bagi mereka yang membutuhkan rawat inap dan 80 persen efektif mencegah kematian.

Sayangnya masih banyak masyarakat yang ragu dengan kemanjuran vaksin. Mereka menganggap vaksin yang diberikan oleh pemerintah masih belum efektif dalam memberikan perlindungan tubuh melawan virus Covid-19. Sementara itu, riset yang dilakukan oleh tim LaporCovid-19 dengan rentang waktu 30 April-15 Mei 2021 kepada 47.457 responden di seluruh wilayah ibu kota dengan mengukur kecenderungan umum kekhawatiran, kerentanan, hambatan dan manfaat diberikannya vaksinasi. Hasilnya menunjukkan bahwa 10.789 orang merasa khawatir vaksin Covid-19 tidak halal dan 34 persen responden atau sebanyak 16.102 orang khawatir atas kemanjuran vaksin, dan 32 persen responden atau 14.889 orang takut terhadap efek samping pasca diberikan vaksin.

Sementara itu, jenis vaksin yang telah mendapatkan ijin penggunaan darurat setelah selesai melalui uji klinis dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), yakni SinoVac, Sinopharm, dan AstraZeneca. Majelis Ulama Indonesia juga telah menyatakan ketiga vaksin tersebut halal dan boleh digunakan

Berakhirnya Pandemi Covid-19

Pandemi Covid-19 telah berlangsung selama kurang lebih dua tahun. Nmaun, angka kasus persebaran virus ini terus meningkat. Untuk itu, perlu penanganan dan strategi jitu dalam menyelesaiakan persoalan ini. Meski banyak masyarakat yang pesimis dengan pandemi Covid-19 yang semakin ganas dan bahkan ada varian baru yang mudah menyebar ke beberapa orang yang terpapar oleh virus ini. Artinya, harapan dan keinginan untuk keluar dari pandemi Covid-19 masih terus dibangun dengan berbagai cara dan upaya, termasuk apa yang dilakukan oleh pemerintah dengan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang diharapkan mmapu menekan laju pertambahan persebaran Covid-19.

Upaya vaksinasi dan menjalankan protokol kesehatan yang ketat adalah usaha yang tengah dilakukan dalam menangani persebaran Covid-19. Kita harus membangun kedisiplinan dan mengimplementasikan dalam keseharian kita dalam melawan pandemi Covid-19 ini. Jika tidak dilakukan secara massif dan disiplin, maka persebaran virus ini akan semakin bertambah. Meski dengan berbagai cara dan upaya yang tengah dilakukan untuk menanganinya.

Terakhir, segala upaya telah diusahakan untuk keluar dari pandemi ini. Tentu harapan masih terbuka luas pandemi Covid-19 segera berakhir dan kita bisa menghirup udara segar tanpa ada lagi virus Covid-19. Kita merindukan masa-masa terbebas dari belenggu Covid-19. Kita bisa leluasa beraktivitas dan berkarya, maka harapan agar Covid-19 segera hilang dari dunia ini meski dibarengi dengan ikhtiar dan usaha yang maksimal, serta menyerahkan semuanya pada Tuhan, agar pandemi ini segera berlalu dan kita hidup normal kembali seperti sedia kala.