Geliat dunia pariwisata perlahan mulai bangkit kembali semenjak pandemi COVID-19 melanda. Pandemi yang kemudian dibarengi dengan kebijakan pembatasan-pembatasan aktivitas oleh pemerintah, praktis membuat seluruh elemen dunia pariwisata serasa harus “tutup atau gulung tikar”.

Geliat kebangkitan dunia pariwisata bisa dirasakan dengan upaya sekuat tenaga pemerintah yang terus berupaya mengembalikan gairah dunia pariwisata.  Sama dengan belahan  daerah lain di Indonesia, Kabupaten Wonosobo pun berupaya sekuat tenaga untuk mengembalikan gairah dunia pariwisata.

Kabupaten yang memiliki segudang daya tarik baik alam maupun kulinernya, terus berbenah. Upaya ini tentu tidak semata-mata hanya dilakukan oleh pemerintah semata, tapi juga dukungan dari masyarakat pelaku industri pariwisata.

Pada akhir Tahun 2021 kemarin, Pemerintah Kabupaten Wonosobo telah selesai melakukan rehabilitasi 2 lokasi tempat wisata, yaitu Taman Rekreasi Kalianget dan Taman Syailendra Dieng. Kedua lokasi tersebut diharapkan akan meningkatkan daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Kabupaten Wonosobo.

Taman Rekreasi Kalianget dikenal dengan pemandian air panasnya yang langsung dari sumber mata air. Air panas ini mengandung belerang, yang konon juga bagus untuk perawatan kulit, seperti yang memiliki masalah dengan kulit berjerawat.

Sedangkan Taman Syailendra Dieng terletak dekat dengan Telaga Warna. Konsep yang dibangun dalam Taman Syailendra ini adalah menyatukan cottage, resto, gazebo, dan tempat parkir yang cukup luas.

Untuk tahun ini, Pemerintah  Kabupaten Wonosobo juga sudah bersiap-siap untuk melakukan Revitalisasi Kolam Renang Mangli. Kolam renang yang berasa “legendaris” di Wonosobo karena merupakan kolam renang pertama. Kolam renang ini langsung dari sumber mata air bersih pegunungan.

Dari sisi wisatawan, yang sedang hits saat ini adalah tempat wisata “Kahyangan Skyline”. Lokasi yang berada di Bukit Seroja, tepat di atas Telaga Menjer ini menyajikan sensasi pemandangan yang luar biasa. Dengan view pemandangan telaga menjer dan perkebunan.

Untuk menuju ke Kahyangan Skyline, kita akan melewati Telaga Menjer. Telaga dengan luasan kurang lebih 70 hektar ini berada di ketinggian sekitar 1300 MDPL.

Oiya, masih di lokasi ketinggian pula, buat yang suka tantangan, menguji adrenalin, bisa mencoba paralayang. Tempatnya di Bukit Kekep Desa Lengkong Kecamatan Garung. Tempat ini pernah menjadi event paralayang di tingkat nasional. Lokasinya dijamin pasti menarik.

Masih ada tempat wisata lainnya yang mencoba bangkit setelah masa pandemi, seperti Pasar Kumandang. Pasar yang terletak di Kecamatan Kertek ini menyajikan sensasi pasar tempo dulu tradisional serasa di jaman “Brama Kumbara”. Pasar ini terletak di perkebunan masyarakat. Transaksi jual-beli dilakukan dengan koin dari batok kelapa. Koin itu bisa didapat dengan menukar uang rupiah.

Beraneka macam jajanan tradisional tersedia di sana. Ada lopis, ada cenil, dan masih banyak lagi. Pasar ini hanya buka seminggu sekali, Hari Minggu, dan buka dari pagi sampai menjelang siang.

Sedangkan tempat lain lagi yang pasti sudah familiar di telinga adalah Dieng, bisa dikunjungi juga sekedar untuk jalan-jalan berwisata. Lokasi wisata yang dikelola oleh Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Banjarnegara, dan Provinsi Jawa Tengah ini juga mulai kembali ramai sebagai sasaran kunjungan wisata. Setidaknya indikator ini bisa terlihat dari padatnya lalu lintas ke arah Dieng dari Wonosobo di akhir pekan. 

Oiya, belum lengkap rasanya kalau ke Wonosobo belum ngicipi kulinernya. Ya, di Wonosobo ada kuliner yang sangat lekat dengan Wonosobo, yaitu Mie Ongklok. Ada beberapa lokasi legendaris yang sudah turun temurun sebagai pengusaha kuliner mie ongklok, seperti di Jalan Ronggolawe dan Jalan T. Jogonegoro.

Namun selain itu, banyak juga penjual mie ongklok dengan gerobak dorong yang berkeliling ke sudut-sudut tempat sepanjang jalan. Apalagi belum lama ini, Pemkab Wonosobo juga me-launching gerobak mie ongklok sebagai bentuk dukungan kepada para pedagang gerobak mie ongklok.

Semangkuk mie ongklok berisi mie kuning yang di rebus dengan cara dicelup-celup di air panas mendidih dengan peniris dari anyaman bambu, dicampur daun kol dan daun kucai, kemudian dituang di mangkuk, dan di atasnya disiram kuah kental bewarna kecoklatan. Kuah ini berbahan dari campuran tepung kanji dan bumbu-bumbu.

Yang paling menggoda adalah adanya sate sapi dan tempe kemul sebagai menu pelengkap menikmati sajian mie ongklok. Kombinasi yang langka atau malah ga ada di tempat lain. Tempe berselimut tepung yang digoreng dan dikenal sebagai tempe kemul ini sudah pasti berbeda dengan kebanyakan tempe di tempat lain.

Selain mie ongklok, ada juga yang bisa buat bawaan oleh-oleh untuk keluarga atau sahabat tercinta. Carica. Carica merupakan buah rumpun pepaya, namun hanya tumbuh di dataran tinggi Dieng. Buahnya sama seperti pepaya, namun kecil. Carica ini disajikan sudah dalam bentuk manisan dalam kemasan, dan tahan lama. Sensasi segarnya bisa dicoba.

 Nah, kalau begitu, kapan mau jalan-jalan ke Wonosobo?