Ingar bingar pengumuman Hadiah Nobel 2019 sudah hendak berakhir. Kita dapat menyebutkan siapa saja para penerimanya dan untuk apa mereka menerima. Hanya saja, pernahkah kita merenung kapan akan ada orang Indonesia yang menerima penghargaan tersebut?

Dalam majalah Tempo edisi 12 Agustus 2002, dosen fisika Indonesia Yohanes Surya mengatakan bahwa akan ada peraih anugerah Nobel dari Indonesia tahun 2020 bidang fisika.

Dasar berpikir Yohanes Surya adalah bahwa banyak siswa-siswi Indonesia yang berprestasi cemerlang dengan meraih medali emas, perak, dan perunggu dalam ajang olimpiade fisika internasional sehingga terbuka kesempatan bagi siswa-siswi untuk berkuliah di universitas bergengsi, berkualitas top di luar negeri. 

Dengan demikian, terbuka peluang bagi generasi muda Indonesia untuk meraih penghargaan ini karena generasi muda didikan Surya akan berhasil berkontribusi pada bidang fisika hingga layak diganjar hadiah Nobel. 

Akan tetapi, apakah perkaranya sesederhana itu? Selain itu, sudahkah kita memiliki ilmuwan fisika yang layak menerima Nobel Fisika di tahun 2021?

Ada hal-hal tentang Nobel untuk ilmu alam, atau biasa dipahami secara luas dengan “sains”, yang perlu kita ketahui, bidang di mana fisika adalah salah satu cabang keilmuannya. Hal mendasar yang harus kita pahami adalah bahwa hadiah Nobel adalah untuk penemuan atau kajian, bukan untuk penemu atau pengkaji. Untuk penelitian, bukan penelitinya secara personal.

Artinya, kita tidak bisa mengharapkan orang per orang sebagai para “duta” yang menyabet Hadiah Nobel seperti Surya menempa para didikannya untuk menyabet medali olimpiade fisika. Nobel dan kompetisi fisika tidak bisa dianalogikan satu sama lain karena sifatnya yang memang tidak paralel.

Suatu pekerjaan yang memenangkan Nobel tidak bisa dikerjakan oleh seorang ilmuwan saja, melainkan dengan bergotong royong bahu-membahu. Contohnya, Walter Kohn dan John Pople yang menerima hadiah Nobel Kimia tahun 1998 karena kontribusinya dalam komputasi kimia kuantum.

Mereka bekerja bersama para mitra (collaborator) sesama peneliti beserta mahasiswa/i yang ikut ambil bagian dalam kerja mereka. Namun, sayang sekali, mereka tidak pernah disebut oleh Komite Nobel (lihat artikel “Reimagining the Nobel Prize” dalam Chemistry World).

Olimpiade ilmu alam (IPA) dihadapi dengan cara Anda belajar pada topik-topik yang sekiranya keluar atau diujikan. Kemampuan individu menjadi kunci. Bahasa mudahnya: saling adu otak. Namun, apakah kita bisa berkompetisi mengadu penelitian kita untuk meraih Nobel?

Tidak. Mengapa? Proses seleksi Nobel berlangsung secara tertutup sehingga tiada yang bisa menebak siapa atau siapa saja yang akan menerima hadiah ini dan argumennya atau penemuan yang mana. Hal terbaik yang bisa kita kritisi akan penghargaan Nobel ialah banyaknya penerima dari Barat dan jumlah wanita yang kalah dari pria penerima Nobel.

Contoh terkini ialah Nobel Kimia 2019 untuk Akira Yoshino, M. Stanley Whittingham, dan John B. Goodenough atas riset mereka tentang baterai Li-ion yang dapat digunakan secara masal, murah, dan aman di seluruh dunia. Banyak orang yang bertanya, “Kenapa baru sekarang?”

Kedua, masalah publikasi penelitian. Dalam artikel berjudul “The data behind the Nobel prizes” oleh Chemistry World edisi 7 Oktober 2019, terdapat jumlah sitasi jurnal ilmiah di bidang sains (fisika, kedokteran/fisiologi, kimia) yang memenangkan Nobel. Di bidang fisika, Andre Geim dan Konstantin Novoselov yang menerima Nobel Fisika 2010 atas riset graphene memiliki jurnal ilmiah yang dikutip sebanyak 4.328 kali. 

Dalam bidang IPA, adalah Fred Sanger (Nobel Kimia 1958 dan 1980) yang memublikasikan jurnal ilmiah yang dikutip 50.188 kali sehingga dia adalah orang dengan jurnal ilmiah paling banyak dikutip di bidang IPA. Bukan hanya kimia saja!

Dengan situasi yang sudah digambarkan di atas, target Yohanes Surya agar ada Nobel Fisika buat Indonesia di tahun 2020 amat kecil peluangnya (kalau bukan mustahil) terwujud. Selama ini, nyatanya belum ada peneliti fisika di Indonesia yang mampu menghasilkan penelitian yang berkontribusi signifikan dalam pengembangan fisika.

Tolok ukurnya pun sebenarnya banyak, namun bila ada seseorang yang dapat memublikasikan penelitiannya di jurnal Science atau Nature, penelitian itu tidak diragukan lagi arti pentingnya dan begitu pula kapabilitas peneliti yang berhasil “tembus” hingga kedua penerbit jurnal itu tadi.

Lalu, bagaimana dengan para alumni olimpiade fisika internasional itu tadi? Sulit mengharapkan mereka untuk benar-benar hendak kembali ke Indonesia bila situasi di Indonesia masih belum berubah semenjak Yohanes Surya berani memasang target Nobel Fisika 2020, 17 tahun silam.

Tentu kita juga masih ingat betapa minornya perhatian pemerintah Indonesia dari tahun ke tahun terhadap riset dan pendidikan. Pada 16 Agustus 2019 lalu, Kementerian Keuangan, seperti yang dikutip oleh KOMPAS.com, mengumumkan alokasi anggaran belanja untuk kementerian-kementerian negara.

Yang mengejutkan adalah bahwa Kementerian Agama memperoleh anggaran sebanyak Rp65,1 triliun, sedangkan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi mendapatkan pagu anggaran sebesar Rp42,2 triliun dan Kementerian Pendidikan Kebudayaan sebanyak Rp35,7 triliun.

Harus diakui bahwa atensi pemerintah terhadap urusan keagamaan jauh lebih besar daripada urusan riset dan pendidikan. Padahal, kemajuan riset dan pendidikan memainkan kunci penting dalam kemajuan bangsa.

Pantas bila banyak suara di media sosial yang mengejek sekaligus mengeluh bahwa bangsa Indonesia tidak kunjung maju karena rakyatnya terlalu memikirkan agama sehingga pemerintah seakan-akan mengikuti kemauan rakyat dengan memberikan anggaran yang lebih besar untuk Kementerian Agama.

Oleh sebab itu, bibit terbaik hasil olimpiade fisika sekalipun tidak akan tumbuh subur di lahan yang tidak memungkinkan benih-benih itu tadi untuk tumbuh, berkembang, dan berbuah. Kita tidak bisa mengharapkan pencapaian di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi lahir di tengah kultur masyarakat yang abai pada penelitian.

Jadi, harus diakui bahwa harapan Yohanes Surya untuk Nobel Fisika 2020 di Indonesia adalah harapan yang secara an sich adalah baik. Namun, secepat kilat harus pupus dan menghilang seperti uap.

Entah kapan ada warga negara Indonesia yang berdiri di Stockholm menerima penghargaan Nobel. Tidak ada yang tahu.