Bencana merupakan salah satu peristiwa penting yang selalu mengiringi kehidupan manusia. Di masa lampau, berbagai kisah bencana dapat kita temukan pada peristiwa, seperti banjir besar pada masa Nabi Nuh dan sebagainya. 

Sementara di Indonesia, berbagai bencana dalam beberapa tahun terakhir dapat dilihat dari peristiwa gempa bumi dan tsunami di wilayah Aceh. Gempa bumi di wilayah Jogjakarta, Sumatra Barat, Sumatra Utara, Pulau Nias, Palu, dan wilayah lainnya. Erupsi gunung Merapi, gunung Raung, gunung Kelud, gunung Sinabung, gunung Gamalama, dan sebagainya. 

Kebakaran hutan dan asap yang kerap melanda wilayah Riau dan sekitarnya. Banjir bandang dan tanah longsor di Pacet Mojokerto, Jember, dan sebagainya. Begitu pula banjir yang hampir setiap tahunnya melanda kota Jakarta dan kota-kota lainnya.

Bencana: Peristiwa Kemanusiaan

Secara umum, penyebab bencana dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu proses alam dan ulah tangan manusia, di mana keseluruhannya memengaruhi kehidupan manusia. Di sini, berbagai bencana yang terjadi tidak bisa dimaknai sebagai keberadaan yang mengancam nyawa serta merenggut harta dan benda semata, tetapi juga menjadi sesuatu yang menggerakkan kehidupan manusia secara dinamis.

Ekspresi terkait hal tersebut dapat kita jumpai pada berbagai aktivitas manusia dalam upaya penanggulangan dan pencegahan. Program penanaman pohon di lahan-lahan gundul. Aktivitas pelestarian lingkungan dan solidaritas sosial masyarakat dalam membantu dan memulihkan kondisi korban, baik material maupun psikologis. Juga ekspresi spiritualitas manusia, seperti doa dan ritual keagamaan dalam upaya meringankan beban bencana dan sebagainya. 

Gambaran di atas menunjukkan bahwa bencana adalah peristiwa kemanusiaan. Dalam arti, bencana selalu menyertai kehidupan manusia dalam waktu dan tempat di mana pun berada, serta tidak bisa dilepaskan dari berbagai aspek kehidupan manusia, baik sosial, ekonomi, agama, budaya, maupun politik. 

Kendati demikian, hal yang perlu kita lakukan adalah mengantisipasi kondisi terburuk dari apa yang diakibatkan oleh bencana tersebut. 

Kapal Nuh dan Mitigasi Bencana

Kisah Nabi Nuh dan pembuatan kapal barangkali menjadi hal penting untuk dikemukakan pada tulisan ini. Umumnya, dalam mengungkapkan kisah tersebut, tradisi keagamaan lebih menitikberatkan pada makna kemanusiaan yang ditampilkannya, terutama nilai-nilai spiritual dan religiositas terkait bencana.

Akan tetapi, dalam pembacaan lain, kita pun sebenarnya mendapatkan pelajaran dari kisah di atas, yaitu sebuah strategi dalam menghadapi bencana, baik pra-bencana, tanggap darurat, maupun pasca bencana.

Sebagaimana diketahui, proses pembuatan kapal Nuh dilakukan jauh-jauh hari sebelum banjir terjadi. Hal ini menunjukkan bahwa informasi tentang bencana itu sebenarnya telah diberitahukan sebelumnya. Jika Nabi Nuh mendapatkan informasi tersebut melalui wahyu, maka umat manusia dapat mengetahuinya dengan membaca kondisi alam sekitar—kauniyah—.

Secara teknis, informasi dan prediksi pun bisa kita peroleh melalui perangkat-perangkat teknologi dan ilmu pengetahuan, seperti yang telah dilakukan oleh BMKG. Karena itu, informasi bencana dan peringatan dini harus tersosialisasikan secara maksimal kepada masyarakat, terutama yang tinggal di daerah rawan bencana. 

Episode kapal Nuh pada saat banjir menggambarkan tanggap darurat bencana. Di sini, “kapal” merupakan simbol dari kondisi darurat, yaitu bukan tempat tinggal manusia yang sebenarnya, melainkan tempat dan upaya manusia untuk menyelamatkan diri. Hal yang perlu digarisbawahi dari episode ini, yaitu adanya rencana yang efektif dan persiapan yang matang dalam menghadapi kondisi darurat. 

Karena itu, pada tanggap darurat, idealnya tempat tinggal darurat telah siap untuk menampung para korban bencana. Untuk mengantisipasi jatuhnya korban jiwa manusia, maka sosialisasi terkait teknis penyelamatan diri perlu dilakukan sebelumnya secara maksimal kepada masyarakat. Begitu juga optimalisasi kegiatan search dan rescue (SAR) dan bantuan darurat lainnya. 

Berikutnya, episode kapal Nuh setelah banjir, yang mendarat di tempat yang aman di muka bumi. Hal ini menunjukkan bahwa dalam batasan tertentu, relokasi perlu dilakukan kepada masyarakat di daerah rawan bencana. Selain itu, episode tersebut juga dapat dimaknai sebagai upaya perbaikan kondisi masyarakat yang terkena bencana, dengan memfungsikan kembali sarana dan prasarana seperti kondisi semula. 

Di sini, rehabilitasi dan rekonstruksi yang dilakukan harus memenuhi kaidah-kaidah kebencanaan serta harus menyentuh aspek kemanusiaan, baik rehabilitasi fisik maupun psikis. Kemudian yang terpenting dari kesemuanya adalah program pencegahan bencana secara berkelanjutan. 

Menilik keberadaan bencana sebagai peristiwa kemanusiaan dan kisah Kapal Nuh di atas, maka proses pencegahan dan mitigasi sebagaimana digambarkan pada tahap pra bencana harus menjadi prioritas, baik oleh pemerintah maupun masyarakat.

Kemudian sebagai syarat mutlak untuk dapat hidup berdampingan dengan bencana, maka pengenalan terhadap alam sekitar dan kesadaran yang tinggi dalam pengelolaan lingkungan harus terus dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari. 

Dengan komitmen dan upaya bersama, tentunya hal di atas akan menjadi arah positif agar Indonesia tidak menjadi “negeri bencana”. Biar tidak berdampak lebih merana.