Kapal yang akan kuceritakan kali ini, adalah kapal tanpa tuan yang berlayar terus menerus. Kapal yang tak pernah berlabuh, berlayar dengan layar lusuh yang hanya sisa separuh. Kapal yang berlayar ditemani langit luas, bintang-bintang bisu di malam yang gelap. Layaknya kapal seharusnya akan bersandar pada pelabuhan-pelabuhan yang ditetapkan oleh Tuhan. 

Pernahkan terpikirkan, atau membayangkan ada sebuah kapal yang tak bisa sembarang saja berlabuh. Kapal yang tak bisa sekedar menambatkan jangkar untuk sekedar berpinggir diam sebentar. Terselamatkan dari badai yang keras, dan air laut yang tajam. apakah seorang pelaut ini tak pantas punya rumah untuk sekedar pulang? 

   Bagaimana dengan kapal-kapal yang tak pernah berhenti terombang-ambing di lautan. Kapal yang kayunya kian hari telah lapuk, kebingungan menentukan kemana arah bintang. Perumpamaan ini kedengarannya terlalu mengada-ngada bagi sebagian orang bukan? Sebagian orang yang hidupnya tidak harus bersusah-payah berjuang. 

Perumpamaan yang sulit diterima oleh nalar, dan logika. "Ah, apa-apaan sih, mana ada pula kapal cuma terapung saja di lautan?!" Aku diam, terlalu sulit memang digambarkan. Apalagi berharap orang ini untuk bisa mengerti luka masa kecilku yang sangat dalam. 

    Katanya lagi sambil berlalu "Hal semacam itu kan paling cuma ada di dalam sinetron!" Dalam hatiku bergumam, "Tidak ada bedanya asal kau tahu, sinetron dan kenyataan yang dihadapi terkadang" Aku tak berharap siapa pun mengerti, kalau aku terus mencoba untuk menerima , bahwa itu semua bagian dalam jalan hidup yang harus dilalui. 

Aku pun tak meminta lagi untuk dimengerti, dan cenderung menikmatinya sendiri. Menikmati sekaligus mengobati dalam waktu yang bersamaan. Seperti yang kukatakan tadi di atas, bahwa aku adalah kapal yang kosong tanpa awak kapal, terombang-ambing di lautan. 

   Jangan tanyakan kepadaku, seberapa banyak usaha yang sudah kulakukan, agar tidak karam tenggelam. Usaha yang selalu dipandang sebelah mata, oleh sebagian orang yang maha punya segalanya itu. 

Sebagian orang yang bahkan tidak mampu bila harus membayangkan seberapa sakit jari yang terpotong oleh pisau. Sebagian orang yang kebingungan, bila ditanya begini "Apakah kamu lapar? kalau lapar bilang ya" Mereka bahkan tidak paham rasa lapar yang pedih menusuk lambung. Rasa lapar yang mampu membuat tubuh keringat dingin gemetar. 

    Maka bila mereka mendengar perumpamaan yang dramatis itu, sungguh suatu yang sangat di luar nalar. Sejak saat itulah aku mulai berhenti bercerita tentang perasaanku. Mulai berhenti mengatakan isi hatiku, bahkan aku pun berhenti meminta mereka untuk sekedar cuma memahami. terlebih itu hanya akan menyakitiku, bagaimana seorang anak perempuan sepertiku ini ternyata dilahirkan tanpa sebuah rumah. 

Terlahir tanpa rumah yang menantikan diriku untuk segera datang apalagi pulang. Seorang anak perempuan sepertiku yang tak pernah mengetuk pintu sekedar mengatakan, bahwa aku sangat butuh pertolongan. Alih-alih sebuah uluran tangan, sering kali kedatanganku hanya sekedar mendengar cerita, dan duduk diam. 

  Anak perempuan yang cuma boleh sekedar berdiri di depan pintu, jangan berharap dipersilahkan masuk. Tidak perlu berharap pula sebuah perlindungan, apalagi kenyataannya, kamu hanyalah milikmu seorang. Anak perempuan ini yang dalam hidupnya mondar-mandir berusaha menciptakan sebuah kemuliaan. 

Berharap pada sang pemilik dunia ini, agar tak seorang pun berani merendahkan. Lagi-lagi perempuan ini kembali mengutuk, lalu menangis untuk semua pencapaian tanpa suara dan pesta. Pencapaian yang telah diraih tapi entah untuk siapa pula. 

  Anak perempuan yang menangis dalam balutan kebaya bertoga sendirian, keberhasilan   tanpa cela, dan sempurna ini entah diberikan kepada siapa. Ibarat sebuah kapal, yang berhasil kembali pulang, compang-camping dihempas badai di tengah laut yang biru gelap, dan dalam. 

Kepulangan kali ini ternyata masih sama, tanpa rumah, tanpa seorang pun menjemput di dermaga. Kepulangan yang masih saja tak pernah punya makna, dan entah sudah ke berapa kalinya, kembali pulang tanpa sebuah pelukan. Kadang-kadang situasi seperti ini memang hanya dirasakan pada orang-orang pilihan katanya. Sekali lagi samar ku dengar kejauhan "Tentu hanya kamu yang dinilai layak untuk melalui ini semua, karena memang cuma kamu yang mampu" 

  Wajah jadi pias dan biru, hatiku terlalu sakit untuk menerima semua itu. Menerima bahwa faktanya tak semembanggakan yang dipikirkan. Fakta dan kenyataan yang terus mempermainkan harga diriku sebagai seorang anak perempuan di dunia ini. 

Andai saja orang-orang tahu, kalau seorang anak perempuan dilahirkan, setidaknya berikanlah dia sebuah baju. Baju itu yang akan menyelamatkan dirinya dan hidupnya. ternyata tak semua orang mengetahui hal itu. Mereka terus saja sibuk membangun tembok yang keras dan kokoh. 

Membangun sebuah pagar pembatas yang sulit untuk dimasuki, oleh seorang anak perempuan yang rapuh ini. Anak perempuan yang pada akhirnya bertahan tanpa pilihan, berpegang pada harga diri sendiri dan berjuang untuk tidak sia-sia mati. 

Baca Juga: Menjadi Perahu