penulis
1 tahun lalu · 92 view · 2 menit baca · Gaya Hidup 75745.jpg
https://lh3.googleusercontent.com/

Kapal

Dalam kehidupan, kita, manusia seperti sebuah kapal. Kita mengarungi lautan serupa menjalani hidup demi sampai pada samudera.

Dalam perjalanan itu, kita mengharapkan sebuah pelayaran yang tenang-tenang saja. Sehingga bisa cepat kita sampai pada tujuan. Sehingga bisa santai kita berlayar, sambil menikmati pemandangan, tanpa stres, tanpa beban yang terlampau berat.

Namun, kehidupan adalah lautan yang tak terduga dengan segala kejutan yang pasti selalu ada. Kadang badai, kadang tanpa angin. Kita pun akhirnya tak bisa sekadar duduk santai di buritan kapal. Tak akan ada pelayaran yang selamanya tenang.

Dalam keadaan lautan seperti apa pun, kita dituntut untuk berpandai-pandai. Kita diminta menjadi navigator yang cekatan. Walaupun tak pernah punya ilmu navigasi, kita diharapkan bisa untuk selalu mawas diri.

Saat lautan tanpa angin, kita diharapkan bersabar. Kita boleh berusaha mendayung. Namun, tak akan gerakan kapal itu sebaik ditiup angin.

Saat tanpa angin, mungkin kita diminta merenung untuk menunggu kembali kapan kapal boleh lagi berlayar, kapan boleh lagi melanjutkan perjalanan agar segera sampai pada tujuan. Kita hanya bisa bersabar sambil terus mendayung. Kita hanya bisa terus berusaha. Bukankah manusia memang hanya terbatas pada usaha? Sementara penentuan hasil adalah wilayah kekuasaan pencipta.

Saat lautan dengan badai, kita juga diharapkan bisa cekatan. Kita harus melindungi diri untuk tak tumbang, lalu karam, dan berakhir tanpa sampai pada tujuan.

Dalam kehidupan, badai mungkin adalah segala cobaan hidup. Semisal bencana, kesakitan, penolakan, kejatuhan, kegagalan. Sementara kita adalah kapal kecil yang berusaha tetap mengapung demi tetap berlayar dan sampai pada tujuan. Kita adalah kapal yang berusaha agar tak karam, tak tenggelam. Kita harus bisa menyelamatkan kapal kita, meliuk di antara cobaan segala badai.

Namun, kadang kita terlupa, dalam segala keadaan, hal yang juga penting untuk kita jaga adalah kapal itu sendiri. Sering kali kita hanya berfokus pada tujuan dan perjalanan demi segera sampai pada tujuan. Lalu lupa untuk melihat diri sendiri, melihat kapal.

Kita membiarkan diri kita tanpa berusaha untuk selalu memperbaikinya. Sering kali tak kita lihat bagaimana keadaannya. Apakah tak ada cikal bakal lubang-lubang  tempat masuknya air dan membuat kapal kita karam? Apakah tak ada sobekan-sobekan kecil pada layar yang bisa tercobek besar ketika diterpa angin kencang? Kita tak mengawasi selain hanya memaksanya untuk terus berlayar.

Kita membiarkan kapal itu untuk melewati banyak keadaan, pada badai seberat apa pun. Namun, terlupa untuk selalu meningkatkan kemampuan si kapal, apakah itu mengganti layar dengan yang lebih baik atau mengurangi beban yang tak perlu.

Pada setiap perjalanan, kita selalu lupa, kita adalah kapal, yang mudah karam. Kita sering menyalahkan lautan dan segala ketakterdugaan. Namun, terlupa tentang seberapa kuat kita sendiri sebagai kapal itu.