Kebijakan pemerintah dengan surat edaran nomor SE.6/PSLB3/PS/PLB.0/5/2016 tentang pengurangan sampah plastik melalui kantong belanja plastik sekali pakai tidak gratis sempat tenar pada eranya. Uji coba penerapan kantong plastik berbayar ini dimulai dari tanggal 21 Februari 2016 sampai 31 Mei 2016 yang diikuti oleh 23 kota. 

Hasil monitoring uji coba kegiatan tersebut menunjukkan pengurangan penggunaan kantong plastik sebesar 25-30%, hal tersebut berdampak pada pengurangan penumpukan sampah khususnya pada Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Menurut hasil monitoring dan evaluasi yang telah dilakukan perlu diadakannya kegiatan komunikasi, informasi dan edukasi kepada masyarakat secara masif, sistematis dan luas.

 Kebijakan tersebut bisa disebut upaya untuk menghitung pengurangan sampah plastik sekali pakai pada ritel/toko modern yang mengikuti kebijakan itu. Apakah anda sadar setiap anda membeli barang di sebuah gerai besar pasti mereka mempunyai plastik dengan tulisan go green/plastik ini dapat hancur dengan sendirinya, peduli lingkungan dan sebagainya. 

Plastik yang sudah termasuk dalam eco-friendly yang memang sudah standarnya saja kita masih harus membayar. Mengapa tidak memberlakukan kebijakan untuk pasar tradisional yang sudah jelas penggunaan kantong plastik sekali pakai lebih besar? Atau malah pemerintah daerah yang mengeluarkan peraturannya untuk mengurangi suplai kantong plastik sekali pakai dengan batas maksimal per tahun misalnya.

Mendekat kepada masyarakat melalui sosialisasi dan penggambaran secara umum adalah cara terbaik untuk membuka pandangan masyarakat mengenai penggunaan kantong plastik sekali pakai. Sosialisasi yang diperlukan yaitu mulai dari masyarakat pedesaan yang masih tergantung pada pasar tradisional yang sekarang ini penyebab banyaknya penupukan kantong plastik sekali pakai. 

Pasar tradisional yang sekarang ini menggunakan berbagai macam jenis plastik untuk membungkus makanan yang dijual. Plastik yang digunakan mulai dari plastik berukuran kecil hingga ukuran jumbo untuk barang belanjaan yang banyak. 

Biasanya konsumen membeli satu macam produk dapat memakai 2 sampai lebih, bisa dibayangkan berapa plastik yang digunakan untuk sehari belanja di pasar tradisional dengan berbagai macam bahan makanan yang dibeli. Misalnya satu orang membeli cabai, tomat, terong, dan buncis. Masing-masing jenis makanan akan ditimbang dan dibungkus memakai plastik setelah itu dimasukkan lagi kedalam plastik yang lebih besar. 

Itu baru pada satu toko/kios belum jika jenis makanan yang dibeli beda toko/kios maka plastik yang digunakan akan semakin banyak. Kesadaran konsumen akan penggunaan kantong plastik masih rendah, sehingga jarang ada konsumen yang menolak jika memakai plastik berlapis-lapis malah itu biasanya adalah hal yang lumrah.

Bekerjasama untuk mengurangi dan mengelola sampah mulai unit terkecil yaitu keluarga. Edukasi terhadap keluarga lebih ditekankan sehingga kesadaran akan masalah sampah lebih dipikirkan termasuk mengajarkan anak-anaknya untuk bijaksana menggunakan kantong plastik yang menimbulkan penumpukan sampah. 

Anak-anak adalah generasi emas yang mudah untuk diajak menjaga lingkungan termasuk dalam penggunaan kantong plastik sekali pakai. Kebiasaan membawa tas yang dapat digunakan kembali merupakan langkah awal untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Selama ini banyak orang memilih untuk memakai kantong plastik sekali pakai, menurut mereka itu lebih simpel, praktis dan bersih. Setiap elemen produk apapun yang mereka beli biasanya sudah dibalut dengan plastik dan nantinya akan dimasukkan kedalam plastik lagi. Hal itu sangat lazim dilakukan apalagi perkembangan plastik sudah banyak, menarik dan murah. 

Produsen pun lebih senang menggunakan plastik karena menurut mereka plastik adalah pembungkus makanan sementara yang sangat terjangkau. Bagaimana jika paradigma itu terus ada? Apakah masyarakat akan terus menggunakan kantong plastik sekali pakai yang justru menyebabkan penggunaan minyak bumi semakin tinggi mengingat bahan baku plastik adalah minyak bumi dan pohon.

Peran pemerintah daerah sangatlah berpengaruh terhadap terselenggaranya keinginan pengurangan penggunaan kantong plastik sekali pakai. Pemerintah daerah yang diharapkan dapat turun langsung dalam lingkungan masyarakat akan mendapatkan apresiasi yang lebih dari masyarakat itu sendiri. Monitoring secara berkala pemerintah daerah yang mengajak masyarakatnya untuk terus mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai membuat masyarakat semakin bijak menggunakan plastik.

Bagaimana dengan tawaran peraturan pemerintah yang mengatur perdagangan kantong plastik sekali pakai? Penekanan terhadap pasokan kantong plastik sekali pakai atau menekan perusahaan kantong plastik untuk membuat produk yang lebih ramah lingkungan. 

Upaya pengurangan penggunaan kantong plastik dapat direalisasi dengan baik namun tidak mungkin bisa sempurna. Pemerintah sangat berperan penting untuk upaya pengurangan penggunaan kantong plastik sekali pakai dengan mengeluarkan kebijakan pemerintah daerah tentang penggunaan kantong plastik sekali pakai.

Nilai ekonomis plastik yang sudah terlanjur menumpuk menjadi sasaran utama pengembangan kreativitas masyarakat. Sarana dan prasarana pengolahan limbah plastik akan lebih efisien dibarengi dengan adanya sumber daya manusia. Pembinaan masyarakat untuk mengelola limbah plastik dapat menambah penghasilan masyarakat sebagai pandaur ulang limbah. Hasil karya dari masyarakat dapat dikumpulkan dalam satu wadah untuk memudahkan pemasaran.

Refleksi: Ingatkah nenek kita dulu membawa apa jika ke pasar? Sedikit nostalgia, sekarang pun mungkin masih ada orang tua yang masih menggunakan tas rajut ke pasar. Mereka biasa memasukkan belanjaannya ke tas yang mereka bawa tanpa berlebihan plastik. Ada sebagian produk yang memakai plastik tetapi mungkin tidak akan sebanyak sekarang penggunaannya. 

Apakah kita tetap akan tetap “hits” dengan kantong plastik sekali pakai, ataukah bijak dengan kantong plastik sekali pakai? Jiwa kekinian anak sekarang sangat mempengaruhi perubahan jaman, kehidupan dengan teknologi semakin maju tetapi kebijaksanaan terhadap lingkungan yang semakin mlorot. Dirimu akan diam atau ikut bersuara? Lingkungan tempat tinggalmu terancam dengan ke “praktisan” yang mengancam sahabat kecil di sungai itu.