39341_14102.jpg
Kanita Mote (kedua dari kanan) pada situs resmi Southern Connecticut State University)
Sosok · 6 menit baca

Kanita Mote, Mahasiswa Papua Terbaik di Universitas AS
Tenggelam di Negara Rasialis, Bersinar di Negara Adidaya

Ketika Presiden Joko Widodo bertemu dan berbincang-bincang dengan mahasiswa asal Papua di Selandia Baru tempo hari, semua media arus utama memuat beritanya. Bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali.

Orang Papua bangga. Semua kita juga. Mengetahui bahwa putra-putri Papua telah pergi melanglang buana menuntut ilmu (dibiayai negara), siapa yang tidak merasa bahagia?

Di tengah prasangka rasial yang masih acap disematkan kepada kawan-kawan Papua, di tengah berita tentang gizi buruk dan keterbatasan mutu pendidikan di Papua, itu adalah semacam oase di tengah dahaga. (Meskipun ketika berbicara dengan Presiden, banyak di antara mahasiswa itu terkesan curhat dan berkeluh-kesah).

Pada 27 April lalu, sebuah kabar menggembirakan tentang mahasiswa berdarah Papua juga terdengar dari New Haven, AS. Tetapi tak ada media arus utama yang menulisnya. Seorang putri Papua, Kanita Miyedadi Mote, terpilih menjadi satu dari empat mahasiswa Southern Connecticut State University (SCSU) penerima Henry Barnard Distinguished Student Award atas prestasi akademik dan aktivitas di kampusnya.

Kanita Mote (Facebook)

Ini penghargaan bergengsi yang setiap mahasiswa mendambakannya. Kriteria untuk meraih penghargaan ini di antaranya adalah keharusan memiliki IPK 3,7 atau lebih. Selain itu, ia harus menunjukkan partisipasi yang signifikan di universitas dan/atau kehidupan masyarakat.

Kanita Mote, mahasiswa jurusan Ilmu Politik dan studi Prancis itu memenuhi bahkan jauh melampaui syarat itu. Ia mengantongi indeks prestasi kumulatif 3,86. Aktivitasnya di kampus dan di tengah masyarakat New Haven juga diakui oleh kampusnya.

Namun, tidak ada media arus utama yang menampilkan sosok Kanita Mote. Yang memuat beritanya hanya segelintir media, seperti media lokal Papua, Suara Papua.

Kanita Mote bersama keluarga (Foto: Facebook)

Muncul pertanyaan, apakah karena ia bukan penerima beasiswa dari pemerintah Indonesia—seperti mahasiswa Papua di Selandia Baru itu—melainkan membiayai sendiri kuliahnya? Apakah karena Presiden Joko Widodo tidak bertemu dengannya dan tidak ada kamera televisi menyorotnya?

Kita harus berprasangka baik. Mungkin Kanita Mote belum tertangkap radar para editor media arus utama yang supersibuk. Berita heboh seperti pertarungan Pilkada serta berita remeh-temeh seperti perempuan Australia bernama 'Susah' mungkin lebih penting.

Atau mungkin Kanita Mote tak dipandang dapat mewakili sosok putri Papua dari Indonesia karena dia bukan lagi berkewarganegaraan Indonesia. Mungkin ia dipandang HANYA putri imigran yang berorang-tuakan ayah dari Papua dan ibu dari Jawa.

Mungkin juga keengganan mengangkat sosok Kanita Mote dikarenakan ia putri dari seorang tokoh separatis Papua. Kanita adalah putri dari mantan wartawan Kompas, Octovianus Mote, Wakil Ketua United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), kelompok yang merepresentasikan rakyat Papua yang beraspirasi merdeka.

Beruntunglah generasi milenial, karena tak harus terlalu menggantungkan diri pada media arus utama. Media sosial dapat membantu mereka untuk mengetahui sosok perempuan muda ini, karena ia sedikit banyak memperkenalkan dirinya lewat akun Facebook-nya. Juga situs resmi kampusnya memberi petunjuk siapa Kanita Mote.

Pada situs resmi SCSU, profil Kanita Mote dituliskan sebagai berikut:

Dia adalah mahasiswa Honors College dan penerima Beasiswa Tarini Foundation dan Beasiswa Roberta Willis. Dia adalah anggota dari Pi Delta Phi French Honours Society.

Mote, yang keluarganya mendapat suaka politik ke Amerika Serikat pada tahun 1999 dari Indonesia, adalah anggota komite penyelenggara dari New Haven Rising, dan mendirikan International Socialist Organization sebagai klub resmi SCSU. Dia adalah seorang guru Bahasa Prancis di SCSU Academic Success Center dan peneliti magang di UNITE HERE International Labor Union. Dia juga menghabiskan satu semester di Prancis, mengajar siswa dalam bahasa Inggris dan Prancis.

(Tiga penerima penghargaan lainnya dari CSCU adalah Jessica Holman, mahasiswa jurusan Bahasa Inggris dengan IPK 3,79, Rebecca Harmon, mahasiswa jurusan Pendidikan Dasar dan Anak Berkebutuhan Khusus dengan IPK 3,75, dan Kevin Redline jurusan Studi Interdisipliner, dengan IPK 3,79).

Bila merujuk pada kegiatannya lewat akun FB-nya, tampak bahwa Kanita Mote adalah seorang aktivis kampus yang memberi perhatian serius pada isu-isu keadilan dan kesetaraan perempuan. Ia juga vokal menyuarakan pembelaan bagi mahasiswa yang kurang mampu.

Dalam sebuah foto yang ia tampilkan di FB-nya, ia menunjukkan kebanggaannya dapat berdiri dan berjuang bersama dua sosok aktivis kampus membela para mahasiswa dari kelas ekonomi bawah.

"Ini adalah minggu yang berat, dan minggu-minggu yang keras ini lebih sulit lagi dengan ancaman pemotongan anggaran departemen yang kian dekat. Saya tidak tahu apa yang saya butuhkan lebih banyak, apakah infus herbal untuk dua malam ini atau uang tunai untuk membayar sewa aparteman saya yang terlambat. Tetapi saya selalu bangga berdiri bersama mereka yang mengadvokasi siswa berpenghasilan rendah," tulis Kanita Mote.

Luke Eilderts, asisten profesor Bahasa dan Sastra Dunia di CSCU, mengatakan Kanita Mote dan sejumlah mahasiswa CSCU telah memberikan contoh komitmen bagi keadilan sosial bukan hanya New Haven, tempat CSCU berada tetapi juga untuk wilayah Selatan di AS.

"Tidak hanya menunjukkan komitmen nyata ke kota asal SCSU, New Haven, berjuang untuk mereka yang sering tidak memiliki sumber daya untuk berbuat bagi diri mereka sendiri, tetapi juga untuk wilayah Selatan sendiri, serta sistem CSCU, (mereka) pergi ke gedung DPR mendidik legislator negara kita tentang pentingnya pendidikan tinggi di Connecticut," kata Lukas tentang Kanita.

Sebagai putri berdarah Papua, hatinya tak pernah jauh dari tanah kelahiran ayahnya itu. Membaca berita BBC tentang kelaparan parah di Asmat, ia menumpahkan kesedihannya dengan mengingat cerita ayahnya akan tanah leluhur mereka yang kaya tetapi kini dirusak oleh eksploitasi pemilik modal atas nama pembangunan.

"Ayah saya mengenang bisa memancing di danau yang penuh dengan ikan dan mencari sayuran yang berlimpah di hutan belantara Papua. Pengejaran keuntungan tanpa henti telah menghancurkan ekonomi alamiah yang menyediakan makanan untuk generasi leluhur saya," tulis dia.

Surat kabar New Haven Register memuat foto Kanita Mote di halaman depan (Foto: Natalius Pigai)

Ia juga turut membantu ayahnya mengampanyekan hak penentuan nasib sendiri bagi Papua. Dalam sebuah foto di FB-nya, ia tampak memegang bendera Bintang Kejora bersama sang ayah.

Pada 9 Oktober 2017, saat Indigenous People's Day, ia menulis sebagai berikut:

"Hari ini, pada Hari Masyarakat Adat, kita harus ingat bahwa penjajahan bukan putih, tetapi hijau, dan negara-negara pasca-kolonial yang agresif dapat - dan akan - menjajah orang lain. Selama ada untung yang harus dibuat, itu akan dibuat di atas punggung masyarakat yang paling rentan. Indonesia telah menduduki Papua (Barat) sejak tahun 1961. 500.000 orang Papua (Barat) yang indah  dan cinta damai telah dibunuh.... Ini genosida. Akhiri kekerasan. Bebaskan Papua."

Barangkali kata-kata ini terlalu keras dan akan memerahkan telinga birokrat Indonesia. Apalagi oleh seorang Kanita Mote yang mungkin belum (atau jarang) berkunjung ke Papua. (Saya telah mencoba mengirim pesan lewat akun FB-nya, tetapi belum mendapat balasan).

Tetapi, dengan pandangan yang demikian itu pun, seharusnya bukan alasan bagi media (dengan prinsip independensi redaksi, termasuk terhadap pemerintah) untuk mengabaikan prestasinya sebagai seorang putri berdarah Indonesia. Ia telah menunjukkan kerja kerasnya dan keteladanannya. 

Harus menjadi catatan juga bahwa ada ribuan keluarga Papua seperti keluarga Octovianus Mote, yang memiliki cita-cita akan hidup yang lebih baik dan kini berada di 'pengasingan'. Mereka meninggalkan tanah kelahirannya pasca Pepera tahun 1969 dan pasca ketegangan politik tahun 1980-an. Mereka berpencar di berbagai negara, seperti di Belanda, Amerika Serikat, di Vanuatu dan terutama di Papua Nugini.

Emma Kluge, seorang mahasiswa program S3 di Sydney University, belum lama ini menulis di blognya, tentang ketekunan keluarga-keluarga pengungsi dari Papua di Papua Nugini, mendorong anak-anak mereka bersekolah dengan impian meraih kemerdekaan yang tidak pernah padam.

New Haven Register, sebuah surat kabar New Haven, mungkin memahami psikologi para imigran, yang 'terbuang' dari negara asalnya dan karena itu ingin membuktikan kualitas dengan kerja keras dan prestasi. Maka koran di negara bagian yang dikenal ramah terhadap imigran itu, menampilkan foto wisuda Karina Mote di halaman depan. Ia tertawa lebar, mengangkat diplomanya,  cerminan optimisme menatap masa depan.

Natalius Pigai, mantan Komisioner Komnas HAM mengungkapkan rasa bangganya. Ketika dirinya oleh sejumlah orang dibully dengan tendensi rasial berjulukan gorilla, Kanita Mote putri Papua "mendapat prestasi terbaik di AS. Berita ini telah membuktikan wanita kampungku yang kecil di Paniai Papua salah satu yang terbaik yang pernah terukir namanya."

Kanita Mote, menurut Natalius Pigai, "tenggelam di negara rasialis, bersinar di negara adidaya."