Matamu yang bercahaya senja

Pergi di pintu malam yang sepi

Aku hanya tertegun tak menyapa

Hanya melepasmu dengan senyuman 

Senyum terhambar laksana kuah tak bergaram


Dua puluh purnama kulewatkan

tanpa kerling sudut matamu 

aku tlah jenuh dengan lirikan nakalmu

aku hanya kangen airmata yang mengalir

di malam jahanam saat kau terhempas dipelukku


Kau putuskan untuk pergi

memilih jalan yang paling asing dan gelap

bagimu jalan yang kupilihkan begitu menakutkan meski bercahaya

karena kau lebih suka ketidakpastian

untukmu itu akan penuh airmata dan matamu akan lebih indah karenanya


Mata merahmu kini...

menggantung di ujung anganku

menebar kangen yang terbiasa 

bagai rasa ingin yang tak kesampaian 

namun tak lagi menghadirkan rindu untuk bertemu