1 tahun lalu · 1516 view · 4 menit baca · Politik 41918_79303.jpg
http://www.suluttoday.com

Kandidat Macam Apa yang Mau Pimpin HMI?

Gonggongan anjing tidak pernah bermakna. Tapi mengagetkan, membuat orang-orang terhentak menengok. Apakah kongres itu mirip pengunjung taman? yang mengagumi bunga-bunga dengan memetiknya? Menyayangi sesuatu dengan merusaknya tidak bisa disebut mencintainya?

Jika universitas yang menjadi rumah bagi lahirnya peradaban diinjak-injak. Kursi, meja digebrak. Kaca, jendela dihantam, manusia macam apa yang sengaja berbuat itu? Acara macam apa sehingga orang rela memutus kesantunan, dan beralih jadi hamba kekerasan?

Kalau cinta himpunan, tidak mungkin ditunjukkan 2 tahun sekali. Kalau niat mengabdi, tidak mungkin menggunakan cara-cara keji. Sebulan ini fotomu memenuhi jagat media, tapi 2 tahun sebelumnya ke mana? HMI bukan pelacuran, yang bisa disinggahi seenak nafsu kalian. Kalau niat membangun, mulailah dari perkaderan, bukan perebutan kekuasaan.

Kader himpunan tidak butuh sogokan. Jika Anda layak memimpin, utarakan tajam gagasan yang Anda tawarkan. Jangan seperti perompak, nafsu menguasai tidak sebanding kreasi visi. Bukan soal Anda menang kalah. Tapi kalau menang, HMI mau bawa ke mana? Jangan-jangan Anda berpikir; ’’Menang saja dulu, urusan program belakangan!’’

Selama kongres tidak mewajibkan transparan mendapat dana dari mana, selama itu pula tidak layak diikuti. Bagaimana kalau kandidat mendapat uang dari penjahat keparat? Kalau dia menang, pasti HMI diseret ke sindikat kaum bejat.

Bagaimana kalau dananya dari koruptor kakap? Kalau menang, pasti HMI lekat dengan si pejabat dan hianat pada kesusahan rakyat. Kader yang mencapai kedewasaan, tidak peduli siapa ketua umumnya dan dari cabang mana. Tapi persoalannya mau di bawa kem ana kapal organisasi ini? Bersekutu dengan musuh bangsa kah, atau memeluk kepentingan si miskin?

Kalau kongres menghasilkan ketua bisu usai diajak makan presiden di istana, lebih baik kita gulingkan saja. Kalau menjadi ketua enak-enakan, lalu berharap dapat hidup nyaman, Anda salah besar. Gejala macam apa seorang kerja keras justru cuma saat perebutan kekuasaan, tapi leha-leha pasca pelantikan?

Bagaimana bisa mencipta kemajuan kalau cara-cara menduduki kepemimpinan dilakukan tanpa memedulikan kemanusiaan? Tawuran, perkelahian, perusakan, ancaman, amarah, dan manipulasi, bukankah itu sifat setan? Kalau Anda menang menggunakan cara demikian, ketua umum macam apa yang hadir kemudian?

Hei, kandidat terhormat, kami itu sudah membaca buku ratusan. Sudah berpuluh kali kami baku hantam dengan aparat (demonstran), sudah ribuan malam kami mengkaji. Bukan editan foto atau ancaman, kami butuh ide, apa yang kalian tawarkan? Apa yang sudah kalian lakukan? Jangan bilang gagasan itu dibuat tim dan otakmu sebenarnya kosong.

Kalian mirip kuntilanak. Tanpa ada hujan atau aba-aba, tiba-tiba muncul penampakan pamflet di mana-mana. Berhari-hari kalian membombardir jagat sosial media, dengan wajah tampan bening menawan.

Hei, abang, kita tidak butuh tampang. Kami ingin gagasan untuk kemajuan. Andai kader butuh sosok rupawan untuk pimpin himpunan, lebih baik kami saweran membeli model blasteran.

Ketua HMI harus menjadi corong suara rakyat. Apa pun kebijakan negara merugikan bangsa, harus ditentang. Kemarin parlemen mensahkan Undang-Undang MD3, rakyat dibungkam, demokrasi dibajak, kedaulatan ditawan, ke mana suara elite HMI? Apakah karena mendapat transferan dari kakanda senayan, sehingga diam dan tak melawan?

Ini semua salah instruktur? Orang dengan bakat tinju, diterima jadi anggota. Ketika besar, bukan ide yang keluar, tapi pukulan yang jadi senjata debat di arena forum. Orang bakatnya menipu, dibiarkan lolos training. Ketika besar, bisanya mengumbar janji manis padahal tidak berniat mengabdi apa-apa kecuali memperalat himpunan.

Di antara 300 ribu kader HMI, tidak adakah yang peduli pada kualitas? Entah kandidat menawarkan sepuluh juta sekalipun, kalau isi kepalanya hanya mafia proposal dan proyekan, jangan pilih! Himpunan Mahasiswa Islam terlalu mulia untuk dipimpin pelacur kepentingan. Menyerahkan kepemimpinan pada budak uang adalah penghinaan agama.

Kenapa harga himpunan murah sekali? Jabatan ketua itu strategis dan menentukan. Kalau jatuh di tangan bajingan, tidak hanya kader tapi umat juga menanggung kerugian. HMI pelaku sejarah dalam perjalanan bangsa, jangan sampai dijual, apalagi seharga tiket dan penginapan.

Berjuta kali kalimat syahadat diucap, apa iya kita masih saja takluk pada ketidakpastian? Mental takut tidak bisa pulang, takut lapar, takut gembel, takut kesepian, akhirnya melemparkan diri ke lubang budak kepentingan. Allah tidak mewajibkan kita menang, tapi menyuruh berjalan di rel kebenaran.

Menjadi pemenang atau tidak urusan belakangan. Tugas kita hanya wajib bertindak jujur, meski terkadang hasil sedikit hancur. Tidak apa-apa, di dunia ini orang gagal dan kalah belum tentu sampah, tapi mungkin lingkungannya sudah terlalu busuk. Kalau tidak mengkilat, bukan berlian tapi yang salah lumpurnya.

Ketika dakwah dan kejujuran Nabi Muhammad tersingkir di Mekkah, lingkungannya tidak mendukung kebenaran tumbuh. Seorang kandidat tidak wajib menang, tapi dia mutlak harus berproses jujur. Kemenangan yang diraih secara curang pasti mencipta persekongkolan kuasa dan kemunafikan. Jangan ditiru, itu perbuatan setan.

Kader yang disumpah di bawah kitab suci, tidak patut bohong, apalagi menggunakan kekerasan meraih tujuan. Tiada kemuliaan jabatan tanpa kejujuran. HMI bukan komunis radikal, yang merebut kekuasaan dengan cara kebiadaban.

Sebelum semuanya terlambat, ayo kita list satu-satu kandidat mana yang sudah mulai curang. Jika ada yang coba-coba menggunakan uang untuk mendulang dukungan, ayo bareng-bareng gagalkan. Dua tahun kepemimpinan sangat tidak masuk akal ditukar dengan tiket dan penginapan.

Universitas itu rumah peradaban. Jangan dikotori dengan kebejatan nafsu, apalagi perilaku merendahkan kemanusiaan dipertontonkan tepat di jantung penelitian. Islamnya Muhammad menempatkan masjid sebagai pusat penebaran ilmu, fungsinya sama dengan sekolah atau perguruan tinggi.

Orang yang berani menginjak-injak dan merendahkan martabat kampus, entah dengan perilaku bohong atau bar-bar, sama saja menodai masjid. Kandidat yang tidak lagi menghargai tumbuhnya kesantunan di rumah kebaikan, tidak layak memimpin organisasi keislaman. Maka manuver busuknya harus dibongkar dan gagalkan.

Kalau kandidat pengguna cara kotor menang, tidak mungkin membawa kebaikan himpunan. Daripada wadah bersama ini dipimpin mafia dan geng preman, lebih baik kita sama-sama cabut legitimasi kepemimpinan dengan boikot.

Selama tidak tegas, HMI akan dipimpin cecunguk yang menang dari hasil bersekutu dengan donatur tidak jujur. Akhirnya masa depan himpunan digadai demi perut dan kepentingan. Kebenaran, keteladanan, idealisme, dan ide pembaruan tidak mungkin muncul bak jaman Nurholish Madjid.

Jika benar manusia macam itu menjadi ketua umum himpunan, bersiaplah mengobarkan perlawanan. Tidak perlu menunggu PKI bangkit dari kubur untuk bertempur, karena musuh terbesar kader himpunan bisa jadi abang-abang kita sendiri, mereka yang duduk di PB HMI.