4 minggu lalu · 118 view · 3 min baca · Pendidikan 49710_13170.jpg

Kandang Pikiran

Kampus adalah kandang pikiran sivitas akademika yang tak bisa dikandangkan. Sebab pikiran itu liar dan tak bisa dibelenggu oleh siapa pun. 

Kampus memerdekakan warganya untuk mengucapkan pikiran. Bila memasuki kawasan kampus, kita akan menjumpai sivitas akademika yang terus-menerus bergerak menumbuhkembangkan tradisi berpikir secara kritis dan ilmiah.

Begitu pentingnya kampus, sehingga masa perang dunia sekali pun, lumbung ilmu seperti Universitas Heidelberg dan Sorbonne tak disentuh serangan militer. Karena pasti kehidupan kampus akan mengalami kematian dan sivitas akademika mengalami kemunduran pikiran bila kampus disentuh serangan militer.

Dalam pandangan Yudi Latif, kehilangan terbesar sebuah bangsa bukanlah kehilangan orang besar atau kemerosotan nilai tukar dan defisit neraca perdagangan, melainkan kemunduran pikiran. Dan kampus sebagai organ yang bertanggung jawab dalam menjaga pikiran sebuah bangsa, termasuk stok pikiran kritis dan ilmiah seluruh sivitas akademika agar tidak mengalami kemuduran.

Sebab sivitas akademika tampak dari kebugaran gagasan dan mindset, sehingga terobosan-terobosan yang disodorkan kepada pemangku kepentingan kerap dipakai sebagai rujukan untuk memecahkan problem kekinian yang mengemuka di masyarakat.

Itulah sebabnya pemegang otoritas kampus memaksa warganya untuk menimba ilmu di ruang-ruang kuliah dengan berbagai metode dan meramu berbagai kegiatan yang—membangun pandangan warganya—menjadi kritis dan ilmiah. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kampus dikenal sebagai tempat berkumpulnya orang-orang terdidik yang kritis dan ilmiah.


Tak heran bila semasa musim pemilu politisi jarang memasuki kawasan kampus. Lebih banyak kandidat dan tim sukses menyisir suara di kampung balik bukit ketimbang harus beradu program dan berdebat di kampus yang dikenal kritis. Itulah yang dikatakan Karim Suryadi dalam buku Menak Senayan.

Padahal politik Indonesia akan tumbuh di dalam kondisi akal sehat bila para politisi beradu program dan berdebat di kampus. Sebab sivitas akademika akan menggunakan berbagai fakta, data, konsep, generalisasi, dan teori untuk mengukur dan mengoreksi berbagai program yang didesain oleh politisi dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat banyak.

Situasi zaman kini telah berubah. Para politisi hendaknya merespons problem masyarakat kekinian yang kian kompleks dengan meminta rujukan penyelesaian dari kampus. Tentu sivitas akademika akan menggunakan daya pikir yang kritis dan ilmiah untuk menawarkan solusi bagi mereka untuk menuntaskan beragam problem di masyarakat. 

Bukankah dalam sejarah perkembangan peradaban, perubahan sosial akibat fenomena yang muncul selalu dipelopori oleh mereka yang berasal dari kampus?

Perlu digarisbawahi, reformasi politik Indonesia juga lahir dari kesadaran sivitas akademika. Lebih-lebih, berbagai perubahan yang terjadi di berbagai belahan bumi dan lompatan teknologi komunikasi melalui dunia internet juga dipelopori oleh anak-anak terpelajar yang bergelimang dalam lingkungan kampus. Semua itu terjadi atas berkat daya kritis dan analisis persoalan yang sangat dalam dari mereka.

Merawat Pikiran

Mengajukan pertanyaan yang saya pinjam dari sejarawan Inggris, HG Wells, “Apa yang menentukan besar kecilnya suatu bangsa?” Dari kacamata saya, yang menentukan bukanlah seberapa luas wilayahnya dan seberapa banyak penduduknya, melainkan kekuatan pikiran sebagai modal peradaban bangsa.

Sementara Yudi Latif menempatkan kalimat bagus bahwa pikiran itu pelita hidup, sesat pikir binasa hidup. Itulah sebabnya, merawat pikiran menjadi mutlak agar akal sehat selalu mendapat tempat dalam setiap perbincangan yang mencerdaskan demi mendorong terwujudnya peradaban bangsa.

Kampus memiliki tugas mulia untuk merawat pikiran setiap sivitas akademika lewat tiga tindakan mendasar. Pertama, kepada sivitas akademika harus terus menerus berdiskusi, bercurah pikir, dan berdebat di ruang-ruang kuliah, seminar, lokakarya, talk show interaktif, maupun dalam bentuk kegiatan lainnya guna merangsang ketajaman berpikir kritis dan ilmiah.

Kedua, pihak pemegang otoritas kampus mesti mendorong warganya agar meningkatkan budaya literasi. Setiap hari sivitas akademika mesti membaca, baik jurnal, buku, maupun artikel ilmiah. Kehidupan terus berkembang, gaya hidup tak boleh malas membaca, persoalan masyarakat makin kompleks, pengetahuan mesti luas dan dalam untuk memecahkannya.


Ketiga, setelah membaca setiap akademisi patut menuangkan hasil bacaan ke dalam berbagai tulisan untuk dipublikasikan. Kecakapan menulis merupakan bekal dasar untuk mengasah kemampuan logika, sistematika, meneliti, dan mencipta (baca: creation). 

Menumbuhkan hasrat menulis pada gilirannya akan mendorong semangat meneliti dan mencipta. Tak heran, saat Amerika Serikat menyadari penurunan daya saing, solusi kurikulumnya justu mewajibkan pelajaran mengarang di tingkat pendidikan dasar dan menengah, seperti dalam catatan Godzich.

Lebih dari itu, Karim Suryadi menegaskan salah satu tradisi akademik yang harus terus-menerus dikembangkan adalah publikasi karya-karya ilmiah dari para akademisi, baik berupa hasil-hasil penelitian maupun analisis wacana secara kritis atas berbagai persoalan yang mengemuka di masyarakat saat ini. 

Dengan begitu, para akademisi mampu mengaktualisasikan komitmen akademisinya dengan baik dan penuh rasa tanggungjawab, dalam memecahkan berbagai problematika masyarakat kekinian yang kian ruwet.

Setidaknya tiga hal itulah yang menjadi cara merawat pikiran sivitas akademika agar tidak terkikis dan hilang dari dunia kampus. Apa pun tantangannya, sivitas akademika harus terus-menerus mempertahankan kampus sebagai kandang pikiran, tempat dimana pikiran kritis dan ilmiah diolah, dimatangkan, lalu siap dipakai dalam masyarakat.

Artikel Terkait