Jarum jam menunjukan pukul 18.30, waktunya Suryono menjemput Intan. Mereka berencana menikmati malam minggu di salah satu cafe di wilayah Jalan Raya Sukabumi Cianjur, yang katanya dimiliki orang penting itu. Berkali-kali rencana itu gagal karena Intan memiliki banyak acara, Suryono mencari sarang angin akhirnya berkeliaran atau duduk-duduk sendirian membaca buku sampai gila.

Pria kurus dan tinggi itu tiba di rumah Intan dengan motor antiknya. Intan tidak pernah mempermasalahkannya, motorkan cuma kendaraan, mahal murah bannya tetep dua, katanya selalu. Sama-sama berpakaian casual, Suryono dan Intan berangkat bersama naiknya bulan menggantikan matahari, bintang-bintang sudah menanti percakapan mereka soal pernikahan, yang terus diperbincangkan ini-itunya.

Chicken Teriyaki, makanan favorit Suryono dan Intan sudah disajikan oleh pelayanan. Menikmati suasana Cianjur dari atas ketinggian, mereka menjelma merpati yang terbag beriringan, lalu menukik, lalu naik lagi dengan secercah bahasa cinta yang cuma mereka sendiri yang paham. Pegunjung yang lain, seolah cuma figuran dari tayangan FTV yang selalu disiarkan di TV swasta setiap pagi.

Ada beban yang seolah membuat berat di kepala Suryono, setelah pekan lalu, ibunya mendesak Suryono untuk membuat pernikahannya dengan semegah mungkin. Nanti takutnya jadi bahan gunjingan kalau nikahnya biasa-biasa, kata Ibu Suryono selalu. Gunjingan itu apa sih sebenarnya? Toh yang akan menikah itu Suryono dan Intan. Begitulah orang tua, gengsi…

“Nabung, tuku. Aja cicil-cicil,” Intan dengan logat khas Cirebonnya seolah menolak ide Suryono untuk mencicil mahar biar sebesar gaban.

“ Yowes, tapi kowe kudu siyap yo,”

Tak ada jawaban. Bagi Intan, pria setengah Sunda setengah Jawa itu masalah juga. Masalah? Ibunya pun ikut mempertanyakan soal budaya, sudah nikah Intan ikut siapa nanti? tanya Ibu Intan selalu. Malam minggu kali ini seolah menjadi kelabu dan pekat walau Suryono kini tak memesan espresso. Mereka cuma mencoba memberikan bahasa yang lebih menghindari masalah-masalah itu.

“Dadie aku sunda opo jawa?” tanya Suryono.

“Dadi kamu warga di alam yang paling jauh di batas cakrawala, jatoh nembus atmosfer, jatuh di sela-sela jatung sama hatiku,” Intan terpingkal-pingkal.

Suryono sadar, Intan bukan Jawa. Dia cuma bisa bahasa Jawa. Kuliah di daerah berbudaya Jawa, membuat Intan lebih mudah mengenal Suryono yang ditemuinya di lorong kampus awal semester. Hubungan mereka semakin serius, setelah Suryono manjadikan Intan narasumber untuk artikel yang dibuatnya.

Sesekali mereka mengingat masa lalu. Suatu kali Intan menangis di telepon setelah penyakitnya seolah membuat gadis manis itu mengalami sakratul maut. Mereka seperti sepasang tokoh dalam dongeng yang nggak jelas juntrungnya, sehabis salah satu tokoh hilang, habis juga huruf-huruf yang menjadi kehidupan. Tapi, setelahnya hal itu malah jadi bahan candaan.

“Udah gede sekarang mah, jadi nggak akan nangis,” Intan tertawa kecil.

“Waah, ndak akan nangis opo? Kalo sakit awas nangis-mangis lagi,” Suryono terpingkal.

“Jangan gituuu eh!”

“Ndak apa-apa. Toh, aku dadi salah satu yang terdepan, kalo kowe nangis tak sediain ember biar ndak banjir,”

“Aku air matanya jadi berlian, jadi nggak akan banjir,”

“Berlian ghundulmu!”

Mereka terpingkal. Hanyut bersama jatuhnya bulan dari puncak cakrawala. Angin semakin riuk cemburu dengan mereka, yang dari rencananya, akan menikah sepulang Suryono dari Eropa untuk melanjutkan pendidikan S2.

“Kamu ikut aku aja ke Inggris ya, Tan,” ucapan itu muncul begitu saja dari mulut Suryono.

“Ndak bisa, aku kan udah ngajar di sini. Lagian, S1-ku belum selesai, aku harus kembali ke Cirebon nanti,”

Intan sadar dia mencoba menguat-nguatkan dirinya. Siapa yang siap ditinggal pasangan selama dua tahun ke Eropa? Kekhawatiran itu hadir dengan banyak persoalan, wanita Eropa kan cantik-cantik, kata Intan entah pada siapa. Suryono, seperti memiliki ilmu membaca pikiran. Ia berjanji akan kembali dengan segenap harapan yang mereka tenun bersama.

“Sangat pengertian,” Intan tertawa kecil.

“Oiya, kalo nangis kasian anak orang,” Suryono menyenderkan kepala Intan ke pundaknya.

Sepasang burung keluar dari sangkar, tapi mereka tak berpisah. Tidak akan ada perpisahan, setidaknya untuk selamanya. Setidaknya untuk dua tahun, Intan mau tak mau harus menahan rindu untuk tak bertemu Suryono.

Di bandara, mereka tak berbicara, tak ada lagi rangkaian kata terucap dari mulut dua manusia itu. Tapi, sehening-heningnya semesta, selalu ada gemuruh, gejolak yang membuat air terjun semakin deras menerjang sungai dan yang ada di sekitarnya.

“Ojo nangis,” Suryono mengusap butiran air mata yang jatuh dari mata Intan.

Tidak ada jawaban. Intan bertarung melawan setiap rasa nafsunya, bermodalkan pedang sabar yang semakin hari semakin usang, hingga akhirnya kekuatan doa yang akan terus diandalkan. Suryono tetap memeluknya, tak ada yang lebih dahsyat dari berkicaunya burung merpati jantan dalam memberikan jejak cinta bagi pasangannya.

“Kamu sumur tak berujung, yang selalu membuatku jatuh dan tenggelam. Aku anglerfish, biarpun tak setampan ikan mas, aku bercahaya,” Suryono menatap tajam mata Intan.

Tidak ada jawaban. Intan ingin menutup matanya, kalau bisa telinganya. Tapi, ia sadar telinga itu sudah terjebak dengan suara Suryono.

“Aku ingin menerangimu, menelanjangi isi kepalamu yang suci. Anglerfish yang ganas menjinak ditelan matamu, dikoyak indahmu,”

Mereka berpisah diiringi pelukan dan air mata. Kini, sungai menjelma padang pasir, pengembala tangguh yang ditinggal kehidupan. Berjalan lurus menyusuri terik matahari, mencari sumber air, mencari sungai yang kini ada di bawahnya. Dengan yakin, suatu saat kamu akan pulang lagi, Suryono.