Public Relations
3 minggu lalu · 336 view · 3 menit baca · Keluarga 74731_71563.jpg
ThoughtCo

Kamu Sudah Mimpi Basah, Nak?

Berkali-kali kutanya, “Kamu sudah mimpi basah?” Ia selalu menggeleng. “Belum,” ujarnya. 

Pertanyaan itu beberapa kali aku ulang selepas ia masuk ke usia remaja. Iya, saya dan anakku memang pengen merayakannya. Dia sudah menunggu-nunggu kapan resmi jadi remaja dan bukan anak kecil lagi.

Jauh sebelum itu, kami sering kali berdiskusi: tentang bagian tubuh dan fungsinya; tentang bedanya laki-laki dan perempuan. Ia tahu persis, hanya perempuan yang bisa hamil dan laki-laki tidak. Ada payudara di dada ibunya, dan rata di dadanya.

Kami juga bercerita fungsi vagina dan penis dengan suka cita. Juga cerita tentang menstruasi dan mimpi basah.

Tak hanya sekali dua, anakku sejak kecil, aku minta untuk belanja pembalut di minimarket dekat rumah. Dia bahkan tahu mana pembalut untuk malam dan siang, tak pernah salah membeli. Dan dia tak pernah malu belanja untuk keperluan ini.

Diskusi kami soal laki-laki dan perempuan hanya soal yang hakiki, tetapi bukan soal kemampuan, cita-cita, dan impian. Lelaki dan perempuan punya kesempatan yang sama. 

Dari masih kelas kecil, kami berdua menggambar laki-laki dan perempuan, ada payudara dan tidak. Lengkap dengan penis dan vaginanya. 

Gambarnya memang tidak sempurna. Tetapi ini jadi pintu masuk untuk bercerita bahwa suatu saat ia akan jadi remaja. Akil baliq. Suaranya akan berubah dari suara kanak-kanak, pecah jadi cempreng, dan akhirnya jadi suara lelaki remaja.

Pun tak sungkan aku kasih gambaran kalau mimpi basah nanti akan merasakan seperti ini dan itu dan celana dalammu barangkali akan basah dan lengket dengan cairan dari tubuhmu. Sesekali tersipu malu. Karena meskipun ia mengerti secara teori, tetapi ia belum tahu pasti bagaimana perasaannya nanti.

“Jangan lupa cuci sendiri celana dalammu kalau kamu mengalami itu,” ujarku mengingatkan. 

Ia malu-malu saat aku tanya bagaimana perasaanmu saat mimpi basah? Ingatkah kamu apa yang terjadi? Aku coba membawa diskusi ini sesantai mungkin. Supaya ia mau bercerita perjalanan penting dalam hidupnya sebagai laki-laki.

“Hati-hati bergaul. Jaga dirimu sebaik mungkin. Dan hormati lawan jenismu,” ujarku menambahkan. 

Wanti-wanti ibu kepada anaknya. Miris membaca banyaknya anak remaja yang bergaul terlalu jauh dengan sebayanya. “Bukan soal baju yang dipakai lawan jenismu, tetapi apa yang ada di pikiranmu. Jaga baik-baik apa yang ada di dalam pikiranmu,” tambahku ketika kami berdiskusi tentang kasus-kasus perkosaan. 

Aku ingin ia memiliki dasar berpikir yang kuat untuk memperlakukan lawan jenisnya setara. Menegaskan padanya, nafsu itu ada di kepalamu sendiri, dan bukan di pakaian lawan jenismu. 

"Jadi kamu sudah mimpi basah, nak?" tanyaku lagi. Dan dia menjawab sudah. Aku penasaran. "Cerita dong waktu kamu mimpi basah," ujarku. 

"Aku  tidak ingat mimpinya apa, tetapi pagi-pagi celanaku ada cairan lengket di celana," ujarnya. "Apa itu kok lengket seperti lem, Bunda?"

"Oh itu... kamu tahu kan apa itu? Lalu kau cuci celanamu sendiri?" tanyaku. "Air mani lengket seperti lem, kadang lebih cair. Kamu beranjak remaja. Puber namanya. Di tubuhmu, sudah mulai memproduksi hormon pria, yaitu testosteron," ujarku panjang lebar, mengulang diskusi kami.

Aku tahu, tak banyak orang tua yang mau menjadi guru seterbuka ini dengan anaknya, pendidikan seks sejak dini. Teknologi memungkinkan anak mencari informasi apa pun di internet. Tetapi pengalaman anak mendapatkan informasi dari orang tuanya tentu akan dibawa sepanjang masa. 

Dulu orang tuaku bungkam. Mungkin enggan. Atau tak tahu bagaimana harus menjelaskan, seperti kebanyakan orang tua di zaman dulu. Sebetulnya yang kita perlukan untuk membuka diskusi pendidikan seks sejak dini hanyalah menempatkan diri pada posisi anak-anak tersebut. 

Kita ingat di usia tersebut, pasti bingung juga dengan mimpi basah atau flek hitam yang tiba-tiba muncul di celana. Tak tahu ke mana meski bertanya. Atau bahkan berpikir, wajar tidak sih hal seperti ini ditanyakan. Nanti dianggap bodoh bertanya, padahal benar-benar tidak tahu. 

Bagaimana harus bersikap kalau hal-hal seperti ini muncul? Ini pertanyaan yang sangat wajar muncul di benak anak-anak saat mendapatkan haid pertama ataupun mimpi basah. Dan mereka yang tidak mendapatkan pengetahuan dari orang tuanya karen tetap akan bungkam, seolah wajar harus tahu jawaban dengan sendirinya.  

Tidak fair rasanya kalau kita yang dewasa tahu lebih dahulu dan tidak berbagi hal-hal seperti ini dengan anak-anak kita. Mereka wajib tahu. Hanya sering kali mulut kita terkunci oleh kata tabu dan malu. 

Jadi pengen bertanya, dulu waktu anak-anakmu berangkat remaja, apakah mereka cerita pengalaman haid dan mimpi basah pertamanya? Atau justru, jari mereka sibuk berselanjar di internet untuk mendapatkan penjelasannya.