Malam ini aku akan keluar kota. Ke Makassar selama beberapa hari ini. Aku mengangkat tas berwarna merahku yang berisi baju, buku, berkas-berkas kertas kantor. Aku juga memakai tas ransel pink yang berisi notebook di punggung, dan mengalunkan tas selempang pink ke lenganku. Tas ini tempat tetek-bengekku.

Tas itu yang berisi dompet, smart phone, charger, beberapa kosmetik yang simpel seperti bedak tabur, lipgloss, dan parfum kecil. Aku memang bukan perempuan yang ribet untuk urusan make up. Aku hanya ribet untuk urusan jodoh. Diumur kepala tiga ini, aku belum menemukan tambatan hati.

Akhirnya, aku terbiasa hidup sendiri,  aku terbiasa sendiri kemana-mana. Yah, ke tempat kerja, pergi mencari makan, travelling, melakukan trip, menaiki bis, jalan ke mall atau belanja di pasar tradisional, sampai ngekost juga sendiri. Pokoknya serba sendiri.

Kata ibuku, mengapa betah kau sendiri? apa yang kau cari? Lalu katanya lagi, tidak ada laki-laki yang sempurna. Setiap orang punya kekurangan, dan kelebihan. Tapi yang terpenting, laki-laki itu sayang kamu dan bertanggung jawab. Tanggung jawab maksudnya punya pekerjaan, apapun itu dan nomor satu itu bisa jadi imammu.

Malah maunya ibuku ini yang sempurna banget. Beliau mau laki-laki yang sayang aku. Dia juga harus bertanggung jawab dengan punya pekerjaan, dan bisa jadi imam. Anjurannya itu yang malah sungguh sangat terlalu sempurna. 

Apalagi? keinginan anak perempuannya ini. Mau yang cakep, tinggi, pintar, kaya, dan sekufu.Sekufu artinya sevisi dan semisi. Gimana mau nyambung kalau dari awalnya tidak satu pemikiran? Ngomong-ngomong, ini bisa dapat dimana, ya?

Xxx

Beberapa loket penjualan tiket yang berjejer dari perwakilan beberapa bus sudah tertutup. Tak heran, jam 08.35 Wita. Bus rata-rata sudah berangkat ke Makassar. Apalagi jarak Mamuju ke Makassar bisa ditempuh semalaman. Mereka harus berburu untuk tiba subuh di Makassar. Mungkin juga karena alasan kendaraan dari luar kota tidak bisa masuk jika sudah siang. Lagipula, pagi hari di Makassar sudah macet sekali.

Aku terkadang tiba saat subuh di Makassar. Perjalanan Mamuju ke Makassar atau sebaliknya, dari Makassar ke Mamuju akan tiba subuh. Bus berangkat jam delapan malam tiba jam lima, subuh selama tidak ada halangan yang berarti di jalan. Misalnya karena jalanan rusak, atau sebaliknya, perbaikan jalanan, dan banjir.

Pilihan bus juga banyak. Mulai dari yang AC biasa atau angin jendela. Sampai yang benar-benar air conditioner (AC) tingkat tinggi, seperti di ruangan bersalju. 

Aku lebih memilih naik bus yang bermerek Bintang-bintang. Alasannya diatas bus, kita bisa tidur diatas kursi panjangnya. Serasa berada diatas tempat tidur untuk satu orang yang berdampingan dengan tempat tidur lainnya yang berada tepat disampingnya.

Apalagi, perjalanan malam dan panjang. Bus ini nyaman dan aman untuk beristirahat karena jumlah penumpangnya tidak lebih dari tiga puluh orang. Luas, bersih, dan aman. Alasan lainnya, aku punya kenangan yang indah di bus itu dulu. Pengalaman pertama.

Xxx

Flashback, 25 November 2018.

Aku meninggalkan kota Yogyakarta setelah mengikuti acara pertemuan para penulis senusantara selama kurang lebih tiga hari. Aku langsung terbang ke Makassar. 

Hari itu, aku tidak langsung mengambil tiket penerbangan destinasi Jogja-Makassar-Mamuju, sekali jalan. Harga tiket lagi mahal-mahalnya. Tiba di bandara Makassar, aku langsung memesan ojek online (ojol). Keluar dari bandara, ojolku motorku kuminta menyetopkan bus ke Mamuju. Saat itu bus Bintang-bintang tepat berhenti d sampingku.

"Mamuju?" teriak bapak ojol.

"Iya," teriak kernet. Dan bus berhenti.

Kemudian aku naik dan mendapat kursi nomor tujuh disebelah jendela. Di sampingku, di kursi nomor delapan ada seorang laki-laki sudah siap untuk tidur. Dia berbaring, menutup mata dengan tangan menyilang di perut. Dia terlihat masih muda dan keren.

Mukanya putih, bersih, hidungnya kecil mancung, bibirnya kecil merah, dan ... Dia membuka matanya.

Aku tersenyum, takut kepergok memandanginya. Aku salah tingkah jadi mencoba untuk ramah. Dia membalas senyumku dengan memperlihatkan gigi kecilnya yang rapi. Matanya kecil, sipit, seperti aktor korea. Cakep banget.

Tiba- tiba lagu Taylor Swift yang berjudul Gorgeous, mengalun.

"You should take it as a compliment."

Aku pun ingin bertanya pada laki-laki itu. Benar, ini benar-benar bertanya,  bukan pura-pura mau kenalan apalagi modus. "Berapa ya ongkosnya ke Mamuju?" aku memang baru kali ini naik bus Bintang-bintang.

"250 ribu." jawabnya pendek. Cool sekali, sambil melihatku. Mungkin masih siap menerima pertanyaanku.

Lagu Gorgeous masih mengalun, "you're so cool, it makes me hate you so much."

"O." Kataku panjang dan melihat kedalam matanya tanpa mengucapkan terima kasih. Musik Gorgeous yang ngebeat itu masih terdengar, "ocean blue eyes looking in me, I feel like might sink and drown and die."

Ac yang sangat dingin. Lampu sudah dimatikan, bus berlari lebih kencang membelah jalan. Orang-orang terdiam, tidur. Aku merasa sepi, dan capek. Aku pun mengambil selimut yang berwarna putih di sandaran kursiku lalu memakainya. Ini membuatku merasa hangat, mengantuk, dan tertidur.

Xxx

Hutan bunga.

Hutan yang dingin. Kakiku menginjak lumut, daun basah, dan kayu. Tanganku menyentuh pohon yang hitam. Aku melihat diriku memakai baju terusan berwarna putih dan rambut hitam panjangku terurai. 

Aku berlari, rambutku terbang ditiup angin. Aku ingin sampai pada kumpulan bunga yang berwarna-warni di depan sana. Aku ingin mencapainya.

Aku melambai pada seseorang untuk ikut denganku dengan mengejarku. Laki laki itu, laki laki yang duduk disampingku tadi. Mr. Gorgeuos.

Dia tersenyum, mengejarku. Kulihat bajunya juga berwarna putih. Dia terlihat bersinar di hutan yang gelap. Tuhan, dia sangat rupawan. 

Dan aku bernyanyi di sepanjang aku berlari, "you should think about the consequence of your magnetic field being a little strong,"

Aku berlari lebih kencang. Namun, dia mengejarku lebih kencang lagi. Dia meraihku. Dia menyentuh tanganku. Dan aku bernyanyi lagi, "and you should think about the consequences of your touching my hand in the darkned room,"

Aku tepat di hadapannya, dia tepat dihadapanku. Kami berhadap-hadapan. Aku menengadah keatas untuk melihatnya. Aku memandangnya dengan jelas, dan berkata pelan,  "You're so gorgeous." dan menutup mataku.

Lagu Taylor Swift terdengar merdu dan riang di hutan itu. "I can't say anything to your face, cause, look at your face, and Im so furious at you for making me feel this way, but what can I say, you're so gorgeous."

Aku membuka mata dengan pelan, melihat keluar jendela. Jendela terlihat basah, dan putih karena AC bus begitu dingin. Aku menutup alat lubang AC tepat diatasku. Diluar pohon masih terlihat berlari kencang.

Aku melirik kesamping kiriku, laki laki itu tertidur. Dia tidur seperti bayi, tenang dengan mulut mengatup rapat. Dia kelihatan suci sekali. Dia memakai baju kaos putih berlengan panjang, dan topi berwarna hitam. Pantasan, aku tadi bermimpi tentangnya dengan baju putihnya itu.

Aku ingin tidur lagi, melanjutkan mimpi indah tadi. Siapa yang tahu, kelanjutannya lebih seru dan akan ada petualangan yang lebih asyik. Misalnya, terbang ke langit,  atau berenang di lautan. AC bus ini terlalu dingin.

Xxx

"Mamuju" teriak orang-orang.

"Terminal" teriak orang-orang lagi.

Aku membuka mata, melihat orang-orang berdiri di bawah bus. Orang - orang mulai mengambil barang diatas kursi, tempat barang. Ada juga yang sudah turun ke bawah. Bus telah berhenti.

Aku melirik ke sampingku, laki laki keren itu sudah hilang. Aku tampak kecewa, secepat kilat itukah dia turun? Atau dia sebelumnya sudah turun di daerah sebelum terminal dimana aku masih tidur.

"You make me so happy, it turns back to sad, there's nothing. I hate more that what can't have. Guess I'll just stumble on my home to my cats. Alone, unless you wanna come along?" suara hatiku mengatakan itu.

Aku terbangun, melipat selimut. Namun aku merasa heran, tangan kananku terasa hangat. Hanya tangan kananku. Aku meletakkan tanganku ke muka. Benar, terasa hangat. Tuhan, apakah dia tadi benar - benar menyentuhnya, menggenggamnya?.

Xxx

Malam ini, aku naik bus Lily & Co. Bukan bus Bintang-bintang yang sudah berangkat duluan. Namun, aku masih berharap untuk bertemu laki laki yang menawan hati itu. Mungkin, bukan di bus tetapi di suatu jalan, atau kantor, mall, atau benar-benar di hutan yang penuh bunga.

Aku tak pernah tahu, pertemuan yang telah diberikan Tuhan untuk bersamanya dalam perjalanan malam itu. Aku akan terus mencarinya. Aku tak tahu dia, bagaimana? Aku hanya ingin bertemu, berkenalan, mengetahui namanya dan mengucapkan terima kasih sudah masuk di mimpiku malam itu. Mimpi yang sangat indah.

Xxx

Di perjalanan ke Makassar ini, aku tersenyum. Aku duduk sendiri mengingat momen itu.