"Saya gay. Saya layak dicintai. Saya layak mendapatkan pekerjaan. Saya layak hidup dan berpendapat. Saya tidak sakit. Saya tidak butuh dikasihani. Saya tidak butuh simpati. Saya pantas mendapatkan hak-hak saya sebagai manusia. Saya menolak dibungkam atau disembunyikan."

Cuitan dari salah seorang penduduk Twitterland bernama @AntonErl tanggal 26 Mei 2020 mengingatkan pengalaman pribadi yang berpengaruh banyak pada cara saya memandang kelompok LGBTQ+ sampai detik ini.

Bertahun-tahun yang lalu seorang teman kuliah tiba-tiba bilang punya pacar bule dan hubungan mereka serius.

Saat itu saya menghindari tatapan mata, sesekali melihat sekilas ke arah kening atau bibirnya yang sedang berbicara, masih mengingat (dan diam-diam mengagumi) keberaniannya memakai lipstik berwarna ungu kehitaman di kampus.

Tidak kaget dengan pengakuannya, saya hanya sedang sibuk menahan diri supaya tidak muncul gestur menghakimi. Saya beragama dan memakai kerudung sebagai atribut, tapi tidak ingin bersikap berengsek ke orang lain hanya karena pilihan hidupnya bertentangan dengan ajaran agama yang saya anut.

Ia kemudian menikah di Belanda. Mengirim undangan, yang tentu saja tidak bisa saya hadiri, bergambar wayang kulit yang saling berhadapan dan keduanya Arjuna. Mengunggah foto-foto pernikahan dan bulan madunya di Praha. Beberapa bulan kemudian membaca ceritanya tentang keputusan bergabung dengan perkumpulan istri LGBTQ+.

Saya bersyukur sekali saat itu bisa tersenyum lebar melibat foto-foto yang diunggah, turut merasakan kebahagiaan teman yang akhirnya bisa menemukan tempat yang sesuai. Buat teman saya ia menemukan hidup yang baru. Buat saya saat itu adalah momen untuk mengetahui seberapa banyak kesadaran diri saya sebagai seorang makhluk ciptaan.

Keputusan teman saya untuk menikah lalu menetap di Belanda sebagai seorang LGBTQ+ sudah tepat. Mengetahui bahwa keputusannya untuk "coming out" dengan identitas seksualnya akan membawa banyak kesulitan membuat saya lebih memilih diam dan memberi dukungan morel ketimbang banyak bertanya yang akan menambah beban pikirannya saat itu.

Jangan remehkan keputusan seseorang yang memutuskan bersuara tentang identitas gendernya. Untuk keluar dari "lemari" membutuhkan keberanian yang besar, terutama jika hidup di lingkungan hetero yang cenderung homofobia.

Tidak semua seberuntung teman saya, bisa menikah di Belanda dan punya lingkungan sosial yang tidak diskriminatif pada orang lain yang "berbeda" dan minoritas. Bagaimana dengan mereka yang tak beruntung?

Pengakuan tentang orientasi seksual dan identitas gender ini disebut coming out yang berasal dari "coming out of the closet". Sebuah metafor untuk pengungkapan jati diri kelompok LGBTQ+ ke khalayak. Kata"closet" di sini menjadi metafor penyanggahan tentang orientasi seksual dan identitas gender yang berakibat pada keterasingan (dan atau pengasingan).

"Coming out of the closet" dimaknai sebagai tindakan untuk melawan dunia yang membuat kelompok LGBTQ+ merasa teralienasi karena anggapan tak bermoral, sampah masyarakat, pendosa, menjijikkan, penyimpangan, dan sebagainya.

Coming out adalah peristiwa yang personal karena melibatkan kesadaran diri seseorang untuk menerima orientasi seksual dan identitas gender sebagai individu kemudian menunjukkan identitas ke orang lain untuk peroleh rekognisi dan (bila perlu) membangun supporting system entah dari teman atau keluarga.

Studi yang dilakukan tahun 2013 oleh Université de Montréal di Kanada bekerja sama dengan Centre for Studies on Human Stress Louis (CSHS) di H. Lafontaine Hospital menyebut lesbian, gay, dan biseksual yang memutuskan coming out memiliki kadar hormon stres lebih rendah dan sedikit saja dari mereka yang menunjukkan gejala anxiety, depresi, dan burnout (EurekAlert).

Tapi, selain personal, coming out juga membawa muatan politis sebagai upaya "menggugat" negara karena kelompok LGBTQ+ berpotensi didiskriminasi melalui KUHP dan Perda. Contohnya Perda yang ada di Depok, dibuat dengan alasan untuk menyelamatkan moral publik, subhanallah.

Coming out dengan muatan politis juga bisa dilakukan dengan cara yang lebih sederhana, seperti memilih menolak institusi keluarga yang konvensional dan lebih memilih open relationships atau bahkan communal living. Pilihan yang dianggap merusak norma oleh mereka yang merasa cara hidup yang baru ini bisa menyebabkan gatal-gatal berkepanjangan.

Prasangka buruk pada mereka yang memiliki orientasi seksual berbeda dan memilih identitas gender yang bertentangan dengan norma membuat kita melupakan kemanusiaan.

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas,mari lihat para transpuan dan waria yang menghadapi berbagai permasalahan (sosial) karena visibilitas (terutama lewat penampilan) yang lebih blak-blakan di keseharian menyebabkan mereka rentan didiskriminasi bahkan mengalami perundungan.

Pilu rasanya membaca berita seorang Mira, transpuan yang biasa "mejeng" di Cilincing, dibakar hidup-hidup karena pencurian yang tak terbukti. Terulang getirnya saat menonton video prank yang melecehkan kemanusiaan, transpuan diberi donasi sembako yang ternyata berisi sampah dari YouYuber Ferdian Paleka.

Sekarang malah Ferdian Paleka lolos dari jerat hukum karena dimaafkan oleh mbak transpuan yang menerima baksos sampah. Drama panjang pengejaran dan emosi jiwa netizen berakhir antiklimaks.

Merasa pilu dan ngilu setiap membaca atau mendengar kisah diskriminasi pada LGBTQ+ bukan karena lebay atau berjiwa SJW. Saya hanya teringat Mbak Jayanti, seorang transpuan, pemilik salon di kampung halaman yang memotong rambut saya dengan bagus sekali saat SMP.

Mbak Jayanti membuka salon seorang diri. Kadang saya melihatnya duduk termenung menunggu pelanggan dari sore sampai malam. Ia berjuang mencari nafkah dengan cara yang halal di sebuah kampung yang sebagian masyarakatnya masih enteng menyebutnya banci.

Memiliki orientasi seksual yang berbeda dan mengidentifikasi gender tidak sesuai dengan "pakem" apakah suatu kejahatan?

Apa alasan kita memelihara kebencian yang mengakibatkan hujatan, diskriminasi, bahkan perundungan yang berujung kematian?

Moral?