⁣Menjelma pagi yang sebentar dari hidup yang tak bisa ditawar. ⁣

⁣Menjelma terik siang yang kangen hujan atau malam dengan rahasia di punggungnya. ⁣

⁣Menjelma beranda yang disesaki kenangan. ⁣

⁣Menjelma sepi di meja makan, tudung saji dan remah roti.⁣

⁣Menjelma seruang kamar, tempat ternyaman menghidupkan imajinasi yang seringnya datang dan pergi sesuka hati, tapi kadang menempel di bantal lama sekali. ⁣

⁣Menjelma kipas angin atau jam dinding, yang sibuk berputar, melingkari hari yang katanya masing-masing punya keindahan sendiri. ⁣

⁣Menjelma rak sepatu, merah dan abu-abu, yang kadang saling diam kadang meributkan seberapa jauh langkah kaki. ⁣

⁣Menjelma kedai kopi yang menawarkan manis dan pahit sekaligus. ⁣

⁣Menjelma trotoar, yang dari ujung ke ujung menyimpan rahasia ketukan sepatu.⁣

⁣Menjelma kursi bioskop yang selalu siap untuk berdiskusi atau diam dalam riuh pikiran sendiri.⁣

⁣Menjelma tempat-tempat tersembunyi yang menyimpan banyak rahasia hati. ⁣

Atau tempat-tempat lain yang tak selalu memintaku untuk berkata-kata.⁣

⁣Menjelma gambar-gambar, pohon misalnya. Pada rindang dan gersangnya sajak-sajak dititipkan. ⁣ 


Aku Kepadamu

Aku benci gaduh, seperti saat rindu-rindu mengaduh.⁣⁣
Aku benci kehilangan, meski cepat atau lambat ia adalah kepastian. ⁣⁣
Tetapi aku suka menatap matamu yang teduh, yang membuat segala luruh. 


Kuseduh tiga cangkir kopi sore ini

Kuseduh tiga cangkir kopi sore ini. Satu untukku. Satu untuk sepi yang setia menemani. satu lagi untuk bayanganmu yang sibuk datang dan pergi. 


Sedang Patah Hati

Perihal hidup yang berisi ketidakpastian, beberapa pertanyaan hanya butuh waktu menemukan jawaban. ⁣
Selayaknya puisi, beberapa merasa begitu paham beberapa yang lain tidak mengerti. Pun kita, kau dan aku paham bahwa perasaan-perasaan ini juga tak pasti. ⁣
Ada hati yang tak hanya ingin peduli tapi juga ingin diberi pasti.⁣
Suatu waktu ketidakpastian dan kepastian itu sama-sama akan mematahkan. Tak perduli seberapa hebat kita menjaganya. Patah sekali, dua kali atau mungkin berkali-kali.⁣

Dan sekarang aku sedang patah hati. Segala tentangmu; surat-surat, buku-buku, bangku-bangku kayu, hujan, yang kemudian kusebut sebagai kenangan menjadi sesuatu yang kubenci sekaligus kusuka. ⁣
Sementara hati yang katanya sebagai semesta terluas dan terdalam bisa tiba-tiba menyempit selebar kotak korek api. Tanpa pintu dan jendela, pengap. Sebab adamu penuh dalam ketiadaan. ⁣

Sungguh aku patah hati. ⁣
Patah yang harus kuciptakan sendiri. Mengapa? Sebab dengan ini aku menerima kepastian yang kutunggu, tentangmu. Menyakitkan memang ketika aku harus lupa atau setidaknya menghalau bayanganmu yang seringnya datang tiba-tiba, padahal aku suka. ⁣

Tahun ketiga, sebuah tiket pesawat tergeletak di atas meja. Tumpang tindih dengan karcis bioskop, kacamata, scarf merah yang sebagian menjuntai ke lantai dan selembar kertas berisi puisi setengah jadi. Nanar dalam redup lampu kamar. ⁣
Laki-lakiku, aku pergi. ⁣
Mungkin tak kembali biar terbiasa menjadi sendiri. Kelak saat nama kita menjadi epitaf waktu, sekali lagi kita akan percaya, cinta adalah kekuatan atas apa-apa yang telah dilakukan. ⁣

Aku Ingin Pulang

Pada teduh beranda, wangi kopi bapak di cangkir blirik, dan riuhnya obrolan jangkrik; aku ingin pulang.
Meletakkan rindu di pangkuan ibu. 


Nyeri  Puisi 

Ada rindu yang tabah saat kesedihan mengetuk, dan pintu membiarkannya masuk. ⁣
Puisi, menjadi kehilangan yang begitu nyeri. ⁣


Percakapan Imajiner

Percakapan imajiner selesai mandi tadi sore. Apa saja. Termasuk angka-angka yang tak melulu matematika. 

"Ngapain sih bongkar-bongkar, nyari apa?" ⁣

"Ini, buku antologi puisi 3 tahun lalu. Buku ke 3 yang ada tulisanku di dalamnya. Nyempil di antara tulisan megah teman-teman Rumah Literasi. Senangnya.. ⁣

"Puisi mana yang kamu suka?" ⁣

"Di halaman 83 dan 86. Puisi yang tak panjang-panjang amat tapi judulnya cukup panjang, 10 dan 7 kata."⁣

"Kenapa judul aja sepanjang itu?"⁣

"Entahlah, hanya merasa judul dan isinya sudah saling melengkapi, meski tak sesempurna Hujan di Bulan Juni milik Sapardi." ⁣

"Apa judulnya?" 

"Sebab Kehilangan Adalah Cara Tuhan Memberi Ikhlas Pada Masing-masing Kita, dan Kepada Laki-laki yang Kutemukan di Dalam Cermin." 

"Berapa kali membacanya?" ⁣

"Lebih dari 10 kali mungkin." ⁣

"Ada yang menarik?" ⁣

"Tebak saja.."⁣

"Keduanya hasil imajinasi liar dari sesuatu yang sangat kamu benci sekaligus kamu suka." ⁣

"Ehe.. bener. Tahu aja." ⁣

"Yaiyalah tau wong kita ini 1 otak, aku di kiri kamu di kanan. Eh ada yang liar lagi nggak?" ⁣

"Ya kita ini. Kota penuh angka dan kata-kata yang tak berhenti bekerja."⁣

"Eh soal rindu, seliar apa by the way?" ⁣

"Haha.. bodo amat!" ⁣