Corat-coret singkat, atau tepatnya bisa dikatakan sebagai curhatan yang mendadak ditulis sehabis bangun tidur di Minggu pagi, menenggak tandas segelas kopi, 3 batang kretek, dan upaya melupakan sejenak 2 skripsi dari 2 instansi PTAIN yang berbeda –tempat di mana saya berstatus sebagai mahasiswa di keduanya..

***

Kampus hari ini, merupakan tempat yang nyaman dan purna untuk menenggelamkan diri dalam dunia yang serba tak nyata, namun begitu dekat dan telah menjadi kebutuhan; dunia maya, dengan Wi-fi yang sebetulnya hanya diperuntukan untuk para dosen dan karyawan yang belakangan, passwordnya sudah telanjur diketahui oleh sebagian mahasiswa. Wi-fi dengan password yang menyebalkan, memang harus segera dapat diretas. Kuota internet yang ditawarkan oleh provider-provider swasta itu harganya semakin mencekik, membuat kepala semakin pening dibuatnya.

Dengan Wi-fi, Mahasiswa-mahasiswa membangun dunianya sendiri. Dunia yang serba imaji dan penuh haha-hihi kehidupan. Menghadap layar monitor bak seorang introvert ulung, dengan headset yang selalu menyumpal kedua telinga.

“Brah, lu lagi donlot ye? lu connect ke Wi-fi mahasiswa?”

Nggak, gue connect ke wi-fi satunya, Wi-fi Rektorat, lebih kenceng.”

Loh, kan ada passwordnya?”

“Ahelah. Udah dari tahun kemarin kali gue pake Wi-fi ini, nih passwordnya, bla, bla, bla..”

Dengan begitu, semakin tersebarlah dari mulut ke mulut, password Wi-fi di kalangan para mahasiswa penyambang setia kampus yang mulanya sempat dirahasiakan oleh sebagian orang, terutama karyawan dan dosen. Demikianlah cara Tuhan tetap mencurahkan kasih sayangnya kepada anak-anak kosan di akhir bulan.

Mari perdayakan kampus sebaik-baiknya (?), donlot sebanyak-banyaknya lagu dan film, streaming acara talkshow yang rattingnya sedang naik, atau mengunggah satu album foto di akun sosial media masing-masing. Mari menikmati suasana kampus yang kian aduhai dengan dedek-dedek emes dan sehabis-habis upaya “memperkosa” Wi-finya.

***

Kendati semakin semrawutnya lahan parkiran yang kian brutal --sebagai bentuk perlawanan kecil mahasiswa yang tidak sepakat pemindahan ke lahan baru yang lebih jauh, kampus adalah surga kecil bagi mahasiswa di akhir bulan yang bosan semedi di kasur lusuh kosan, menuju kampus demi sekadar mendapat sebatang-dua batang kretek teman (gratisan) sembari menikmati kopi gelas plastik seharga yang sebetulnya, apabila kau menyeduh dengan bermodalkan air panas yang kau jerang sendiri, bisa mendapatkan tiga gelas sekaligus.

Menggenjreng gitar, memainkan lagu-lagu yang sedang hits, hingga petikan senar mengendur. Memperdebatkan beragam persoalan yang sedang marak diperbincangkan di televisi dan media sosial, sampai ketar-ketir urusan gebetan, menurut kabar yang beredar, sedang didekati diam-diam oleh teman sendiri. Menggunjing dosen yang “ajigileh” memberikan nilai di akhir semester, padahal absen terisi penuh dengan "titik-titik" pulpennya. 

Oh, terberkatilah kampus kami.

***

Kampus, basement-basementnya, taman-tamannya, lorong-lorongnya juga koridor-koridornya adalah tempat yang cukup seksi untuk dijadikan medan-medan diskusi, bertukar gagasan dan ide, serta meraup pengetahuan baru sebanyak-banyaknya. Selalu ada alasan kuat untuk berlama-lama di kampus, bahkan untuk sekadar ngobrol yang tak jelas juntrungnya.

Kampus dan seisinya, selalu menyenangkan, kecuali kelas yang diciptakan dengan sangat kaku dan sistematis. Kelas yang cepat mengundang kantuk di jam-jam siang, bagi sebagian Mahasiswa, terasa sangat membosankan. Beruntung beberapa dosen memahami hal ini, dan coba menerapkan metode pembelajaran yang asyik, juga diselingi guyon-guyon yang meregangkan saraf-saraf yang tegang.

***

Kampus hari ini, di luar urusan politik praktis menjemukan yang dianut oleh sebagian besar mahasiswa dengan seragam organ beragam corak dan warna; hijau-biru-merah, membuat orang-orang seperti saya ingin keluar dari hal tersebut, dan lebih intens membuka wawasan dengan menjamurnya lapak-lapak diskusi yang fokus membincangkan banyak hal, diantaranya: Filsafat, Bahasa dan Sastra.

Filsafat, Bahasa dan Sastra, bagi saya yang lulusan pesantren tradisionalis, yang dulunya hanya berkelindan dengan aksara-aksara arab tanpa baris, adalah sesuatu baru yang menarik dikaji dan dipelajari. Semakin sadarlah saya, betapa sempitnya dunia yang saya geluti selama ini jika tidak berinisiatif untuk ikut duduk lesehan, ngopi-ngudud, dan menyimak materi-materi diskusi yang tak mungkin saya dapat di Fakultas. Betapa surga yang dibangun di medan diskusi, lebih menggiurkan daripada surga yang dibangun di kelas.

Dan untuk alasan lain, suasana hiruk-pikuk kampus memberikan saya kenyamanan tersendiri, yang membuat saya betah lebih lama berstatus Mahasiswa, entah hingga semester ke berapa kelak.

Alasan terakhir barusan, sebetulnya semacam bualan atau dalih bullshit Mahasiswa seperti saya yang malas buru-buru mengerjakan skripsi. Haha.

Ciputat, 16 Otober 2016