Bagi sebagian besar penduduk, tujuan pendidikan adalah untuk memperbaiki taraf hidup diri sendiri dan keluarga. Semakin tinggi jenjang pendididikannya, semakin besar kesempatan untuk mengubah nasib. 

Ekspektasi dari pendidikan tinggi adalah dapat pekerjaan, dapat gaji, strata sosial di masyarakat naik, dihormati, jadi teladan warga di komplek rumah, dan ujung-ujungnya bisa diterima oleh calon mertua untuk menikahi anak gadisnya. Menikah, punya gaji, bahagia.

Itu ekspektasi, atau dalam judul lagu Peterpan disebut dengan khayalan tingkat tinggi.

Menanggapi fenomena seperti ini, saya meminjam analisis dari Mayling Oey-Gardiner yang terpublikasi di harian Kompas, 15 juni 2019. Walaupun tujuan pendidikan adalah agar dapat menggapai pekerjaan dengan imbalan yang didambakan, tidak semua orang berhasil, bahkan untuk pekerjaan apa pun. Ada yang terpaksa bekerja terlepas dari besarnya imbalan yang dapat diperolehnya.

Dulu, misalnya, sebagian masyarakat masih berpikir bahwa hanya dokter, insinyur, pegawai negeri, atau polisi dan tentara yang bahagia di dunia ini, yang bisa mengubah strata sosial berkat pendidikan tinggi.

Sebagai contoh, tokoh Doel dalam sinetron yang bergenre Betawi, yang filmnya sedang tayang di bioskop bulan ini. Doel adalah sosok insinyur teknik mesin yang susah untuk mendapatkan pekerjaan, meski babenya mengampanyekan anaknya ke seluruh kampung, nih lihat, anak gue insinyur. Lu tau kan insinyur? yang gajinya gede itu. Padahal Doel baru aja lulus, belum dapat pekerjaan.

Sebenarnya ada banyak faktor mengapa banyak yang berstatus alumni perguruan tinggi, tapi sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Kualitas rendah, tapi menuntut pekerjaan yang mudah dan gaji yang tinggi.

Pemerintah banyak menyediakan jurusan di perguruan tinggi, tapi tidak menyediakan lapangan pekerjaan yang memadai. Persaingan global yang menuntut kita harus punya jiwa untuk belajar dan mengembangkan diri.

Siapa pun presidennya, kalau kita mengembangkan diri dan mau belajar, jangan harap bisa mendapatkan pekerjaan atau menciptakan lapangan pekerjaan.

Output sarjana yang bermental tempe dan pemalas serta cenderung instan seperti itu harus ditelusuri lebih jauh. Misalnya dengan mengajukan pertanyaan, bagaimana kampus mereka menerapkan sistem pendidikannya sehingga lulusannya seperti itu?

Di beberapa kampus di Indonesia, misalnya, fenomena kampus abal-abal yang izinnya tidak jelas, nama pengajarnya masih tanda tanya, metode pembelajarannya amburadul masih banyak sekali. 

Data yang dipublish di harian Kompas menyatakan bahwa sampai akhir tahun 2018, tercatat ada 600 universitas, 2.554 sekolah tinggi, 1.047 akademi, 290 politeknik, dan 228 institut yang tersebar di seluruh Tanah Air. Perguruan tinggi tersebut memiliki 15.451 program studi yang sangat beragam. Paling banyak program studi pendidikan, yakni 5.023, kemudian 2.975 program studi sosial, dan 2.884 program studi teknik.

Jumlah mahasiswanya lebih dari 7 juta mahasiswa dan paling banyak menempuh bidang studi pendidikan, yakni 1,41 juta mahasiswa, disusul ekonomi 1,18 juta mahasiswa, dan ilmu sosial 1,07 juta mahasiswa. Adapun jumlah dosennya 41.504 berpendidikan S-1, sebanyak 119.959 berpendidikan S-2, serta 21.872 berpendidikan S-3. Adapun jumlah guru besar tercatat 4.949 orang.

Data ini menimbulkan berbagai interpretasi tentang dunia perguruan tinggi. Di satu sisi, banyak anak bangsa yang ingin tumbuh dan belajar di perguruan tinggi. Namun, di sisi lain, pemerintah terlambat peka untuk merangkul dan membenahi kampus yang minim kualitas.

Apakah mungkin perguruan tinggi yang abal-abal itu mempunyai strategi khusus untuk membina mahasiswanya? Saya sangat yakin menjawab dengan lantang bahwa mereka tidak punya. Membereskan urusan administrasi saja tidak becus, apalagi metodologi khusus untuk mengembangkan mahasiswanya.

Yang ada hanya yayasan yang menaungi kampus itu dapat keuntungan. Mahasiswa pun dapat keuntungan juga, berupa gelar akademik yang miskin kualitas.

Idealnya, perguruan tinggi di Indonesia harus berorientasi pada masa depan. Orientasi itu penting agar proses pendidikan yang diselenggarakan perguruan tinggi mampu menjawab berbagai tantangan yang muncul di masa mendatang. Salah satu tantangan yang kita hadapi adalah revolusi industri.

Sejak beberapa tahun lalu, dunia telah memasuki era revolusi industri 4.0 yang diwarnai dengan kehadiran banyak teknologi baru, misalnya berupa kecerdasan buatan, internet of things, hingga teknologi robotik. Oleh karena itu, pada masa mendatang, akan muncul banyak teknologi inovatif yang bisa mengubah model bisnis yang ada sekarang.

Apa dampak yang dimunculkan dengan adanya revolusi industri 4.0? Dampaknya tentu berimbas pada peluang lapangan pekerjaan. 

Revolusi teknologi 4.0 telah menyebabkan terjadinya pergeseran tenaga kerja. Hal ini karena revolusi teknologi 4.0 memunculkan teknologi baru yang bisa menggantikan peran manusia sebagai tenaga kerja.

Menurut Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir, sebagaimana yang dilansir dari laman Kompas.com, bahwa berdasarkan data perusahaan riset Gartner tahun 2017, ada sekitar 1,8 juta tenaga kerja manusia di dunia yang telah digantikan oleh kecerdasan buatan. Kondisi semacam itu diprediksi juga ikut terjadi di Indonesia sehingga pihak-pihak terkait mesti melakukan antisipasi.