Kegiatan berwisata kini menjadi sebuah kebutuhan bagi semua orang. Berwisata dilakukan dengan mengunjungi tempat-tempat yang telah menjadi destinasi wisata. Kini banyak pilihan destinasi wisata yang dapat Anda kunjungi sesuai dengan preferensi berwisata Anda. Seperti pantai atau destinasi wisata yang terbilang photogenic digemari oleh kalangan wisatawan milenial.

Kota Yogyakarta merupakan salah satu kota yang menawarkan beragam pilihan destinasi wisata. Banyak tempat yang dapat Anda jadikan pilihan untuk berwisata ketika berada di Kota Yogyakarta. Salah satunya ialah Kampung Ketandan yang terletak tidak jauh dari kawasan wisata Malioboro.

Kampung Ketandan ini cukup populer di kalangan wisatawan milenial. Kaum milenial memandang Ketandan sebagai destinasi yang photogenic. Hal ini dikarenakan Kampung Ketandan merupakan salah satu cagar budaya di Kota Yogyakarta yang menampilkan keunikan gaya arsitektur khas perpaduan budaya Jawa dan Tionghoa.

Kebanyakan dari mereka hanya menikmati arsitektur khas Tionghoa di kampung ini. Padahal ada sesuatu yang tak kalah berharga dibandingkan arsitektur itu sendiri. Hal itu ialah toleransi. Sesuatu yang kini menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat.

Kampung yang terletak di daerah Malioboro ini sangat mudah untuk ditemukan. Gapura merah menjadi penanda untuk masuk ke Kampung Ketandan. Warna serta ornamen merah kuning khas kebudayaan Tionghoa membuat mata langsung tertuju kepada gapura ikonik ini. Di sinilah perjalanan itu dimulai, sebuah perjalanan mengenai toleransi di antara dua budaya yang berbeda

Kampung Ketandan yang dibatasi oleh Jalan Ahmad Yani, Jalan Suryatmajan, Jalan Suryotomo, dan Jalan Los Pasar Beringharjo ini berasal dari kata “Tondo” yang merupakan ungkapan untuk para penarik pajak atau pejabat tondo yang wewenangnya diberikan langsung oleh Sultan Hamengkubuwono II kepada etnis Tionghoa. 

Kampung Ketandan ini diperkirakan sudah berdiri sejak masa kolonial Belanda sekitar 200 tahun yang lalu. Pada masa itu, Belanda sengaja membatasi pergerakan dan wilayah tempat tinggal masyarakat keturunan Tionghoa. Dengan izin Sultan Hamengkubuwono II, mereka dapat menetap di daerah utara Pasar Beringharjo dengan tujuan aktivitas perniagaan terdorong dengan adanya kehadiran mereka.

Saat memasuki kampung, kita akan disambut dengan suasana khas Tionghoa. Bangunan dengan ciri memanjang ke belakang, ornamen serta cat rumah yang berwarna merah dan kuning, pintu serta jendela yang khas akan menambah pengetahuan kita mengenai bentuk arsitektur khas Tionghoa pada zaman dahulu.

Kebanyakan dari warga keturunan Tionghoa di Kampung Ketandan ini berprofesi sebagai pedagang. Hingga saat ini mereka masih berperan aktif dalam hal perdagangan di wilayah Malioboro. Mayoritas dari mereka berdagang emas dan sisanya membuka toko kelontong, alat listrik maupun warung masakan khas Tionghoa.

Hal yang sangat menarik dari Kampung Ketandan ini salah satunya ialah perpaduan yang serasi antara budaya Tionghoa dan budaya Jawa. Masyarakat keturunan Tionghoa hidup berdampingan dengan masyarakat suku Jawa sejak zaman dahulu. Tidak diketahui secara pasti sejak kapan masyarakat suku Jawa menetap di daerah ini.

Dari segi arsitektur, akulturasi dapat dilihat dari perkembangan bentuk atap rumah. Pada bentuk yang asli atap rumah masyarakat Tionghoa biasanya berbentuk gunungan. Namun, seiring perkembangan atap-atap itu direnovasi menjadi berbentuk lancip. Hal ini menambah keberagaman kebudayaan di kota Yogyakarta serta menunjukkan bagaimana akulturasi budaya Tionghoa dengan kebudayaan setempat.

Selain dari arsitektur bangunan, perpaduan budaya juga dapat kita lihat pada wayang potehi. Wayang potehi merupakan pertunjukan boneka dari daratan Tiongkok. Namun, seiring berjalannya waktu, wayang potehi tumbuh bersama kebudayaan lokal dan melebur menjadi salah satu kekayaan budaya yang ada di Indonesia khususnya Kota Yogyakarta.

Sisi toleransi dapat dilihat dari kehidupan bermasyarakat di Kampung Ketandan. Masyarakat di Kampung Ketandan ini saling mengucapkan serta berbagi rezeki ketika perayaan agama tiap tahun mereka tiba. Masyarakat Tionghoa di sini juga ikut berpartisipasi dalam hal birokrasi. Dibuktikan dengan salah seorang ketua RW yang merupakan keturunan Tionghoa.

Selain itu, toleransi juga dapat dilihat ketika ada salah satu masyarakat, baik dari keturunan Tionghoa ataupun masyarakat Jawa tertimpa musibah atau kemalangan mereka saling sigap untuk saling membantu yang kesusahan. Lagi-lagi di sini kita akan dibuat takjub dengan toleransi yang ada di antara dua kebudayaan yang berbeda ini.

Mereka merasa bahwa perbedaan warna kulit, bentuk mata, hidung, dan lainnya bukanlah alasan bagi mereka untuk saling bermusuhan dan merasa unggul antara satu sama lain. Namun, mereka melihat dan merasakan bahwa perbedaan yang ada diantara mereka sebagai sesuatu yang tak ternilai harganya.

Mereka dapat hidup berdampingan dan saling melengkapi antara satu sama lain tanpa merasa terkungkung oleh perbedaan yang mereka miliki. Di sinilah kita harus belajar untuk dapat menerima perbedaan yang ada di sekitar kita. Hidup akan indah dan tenteram ketika semua perbedaan dapat hidup berdampingan tanpa ada perpecahan.