Penulis
1 tahun lalu · 882 view · 3 min baca menit baca · Politik 69054_26170.jpg

Kamikaze ala Novanto

Saya sangat percaya bahwa satu-satunya cara berperang yang bisa mendukung kami adalah serangan tabrakan menggunakan pesawat. Tidak ada cara lain. Beri saya 300 pesawat dan saya akan mengubah gelombang perang. ~ Motoharu Okamura

Nama Kamikaze terkait dengan legenda Jepang tentang dewa angin topan yang konon telah menyelamatkan Jepang dari invasi Mongol tahun 1281. Dan istilah Kamikaze populer jelang akhir perang dunia ke II.

Kamikaze adalah serangan bunuh diri yang dilakukan pilot pesawat jepang untuk mengalahkan musuh dengan cara menabrakan pesawat yang ditumpangi. Strategi Kamikaze digunakan Jepang untuk menghambat gerak pasukan MacArthur, Amerika Serikat, yang telah merebut kembali Filipina.

Dalam sejarah konflik, kita tentu sering mendengar serangan bunuh diri untuk bisa keluar dari kekalahan. Namun, sepanjang sejarah peradaban manusia, tampaknya tak ada yang seradikal seperti yang dilakukan pilot-pilot Jepang

Meski kelihatan konyol, tapi usaha menghambat gerak laju musuh dengan cara menabrakkan pesawat tempur terbilang cukup efektif. Setidaknya, gerak laju pasukan sekutu untuk masuk langsung ke jantung pertahanan Jepang menjadi lambat.

Kamikaze bukan rekayasa karena ada korban. Korban pada kedua bela pihak yang bertikai. Kamikaze adalah bentuk pertahanan diri yang bisa muncul di setiap diri manusia disaat terdesak. Ia bisa menciptakan daya kejut yang bisa mengubah strategi selanjutnya.

Sudah 73 tahun lalu, Kamikaze pertama dilakukan oleh Madya Masafumi Arima. Tiba-tiba malam tadi, kita menyaksikan di layar TV, mobil fortuner, Nopol B 1732 ZLO, yang ditumpangi Setya Novanto menabrak tiang listrik. Hasilnya, Setnov dilarikan di rumah sakit.

Kaget, sudah tentu. Tapi untuk urusan prihatin, berduka, dan empati pada korban, itu tidak muncul dalam naluri saya sebagai manusia normal. Di sana saya melihat ada pertarungan strategi. Terlebih korbannya hanya tiang listrik.

Bagi saya, hal yang dialami mobil fortuner dgn Nomor Polisi B 1732 ZLO adalah sebuah bentuk pertahanan diri dalam sebuah pertarungan. Setya Novanto tidak ingin kalah, maka segala strategi pertahanan yang pernah ada di muka bumi dipraktikkan.

Setya Novanto tidak sementara membodohi publik, tapi ia lagi mencoba mempertahankan diri dari kekalahan. Ia lagi mempraktikkan serangan Kamikaze yang pernah digunakan Jepang untuk mengulur waktu dari kekalahan. Kamikaze zaman now, tepatnya.

Sesungguhnya kekalahan Setya Novanto dari KPK mulai terlihat ketika ia mulai “membabi-buta” mengunakan seluruh sumber daya yang dimiliki untuk bisa keluar dari jeratan hukum kasus korupsi e-KTP.

Melalui pengacaranya yang kocak itu, ia berusaha menghambat gerak laju KPK. Seperti, meminta perlindungan pada Jokowi, Kapolri, TNI, dan menggugat UU KPK ke MK. Upaya yang dilakukan itu terkesan lucu. Tapi namanya juga usaha, kita harus hargai.

Pertahanan Setya Novanto hampir saja berakhir di Rabu malam: Saat tim pemyidik KPK tiba-tiba muncul di rumahnya membawa surat penangkapan. Oh, lagi dan lagi, Setnov telah membuat publik tercengang semalaman. Novanto raib bak ditelan bumi. Untuk menumbuhkan kesaktian, maka dibangunlah mitos tentang tamu misterius yang mendahului kedatangan tim KPK.

Tidak ada yang salah dengan lolosnya Setya Novanto dari sergapan tim pemburu KPK di kediamannya. Sekali lagi, ini pertarungan, dan Novanto sangat paham tentang pentingnya unit telik-sandi disebar di sana-sini untuk mencari segala informasi tentang strategi lawan. KPK harus belajar tentang ini.

Mengurai ulang kisah petualangan Novanto pada kasus korupsi e-KTP, itu sangat mirip dengan kisah petualangan pasukan Jepang pada perang dunia ke II.

Di awal perang, setelah menang di Burma, tentara Jepang bergerak cepat merebut Malaya, Singapura, Indonesia, dan membuat tentara Amerika mundur pada garis pertahanan yang paling dalam di Darwin, Australia. “Aku akan kembali” kata MacArthur saat meninggalkan Manila menuju Darwin, setelah kekalahan pada pertempuran Bataan.

Begitu halnya Novanto. Setelah meraih kemenangan gemilang di Sidang gugatan Pra Peradilan di PN Jakarta selatan, ia langsung bangun dari sakitnya, ia bergerak cepat secepat kilat mengonsolidasikan kekuasaannya.

Hasilnya, beberapa pengurus DPP Partai Golkar tereliminasi. Sembilan orang dijerat UU ITE dengan tuduhan menghina sang ketum beringin. Dan terakhir, pimpinan KPK disidik oleh Polisi dengan tuduhan mengeluarkan surat palsu.

Serangan kilat Novanto sepintas terlihat sukses. Akan tetapi, itu menjadi titik lemah karena telah membuat gerakan anti korupsi makin solid. Juga di internal KPK, perlahan tapi pasti, mereka memperkuat bukti-bukti keterlibatan Novanto. Tepat di hari pahlawan, KPK kembali menetapkan Novanto menjadi tersangka pada kasus yang sama.

Serangan balik dari KPK yang mirip strategi perang lompat katak-nya MacArthur telah membuat Novanto gagap menghadapinya. Perlahan sang jagoan ditinggalkan sendiri. Novanto mulai kehilangan sekutu. Ia hanya dibentengi beberapa pengurus DPP PG yang belum sadar tentang tanda-tanda kekalahan.

Novanto tidak hilang kendali diri, tapi ia menggunakan upaya terakhir untuk mengulur waktu dari kekalahan. Bila Jepang menabrakkan pesawat untuk menahan laju pasukan sekutu, Novanto mengunakan mobil fortuner untuk memperlambat penangkapan dari KPK.

Kamikaze telah mengulur waktu KPK. Novanto sekarang terdiam di rumah sakit Permata hijau. Mirip Teruo Nakamura, tentara Jepang, yang duduk terdiam di hutan nan hijau di Morotai, Maluku. 30 tahun ia bersembunyi di hutan Morotoai sambil berharap kemenangan dari pasukan Kamikaze. Semoga Setya Novanto tidak selama itu terdiam di Rumah sakit.

Artikel Terkait