Peneliti
10 bulan lalu · 51 view · 6 menit baca · Cerpen 28128_20768.jpg
Foto: overtheplacewordpress.com

Kami Saling Melambaikan Tangan di April yang Gelisah

Ini hari ke delapan dari kematian kakekku. Aku memang tak ingin berlama-lama tinggal di kampung. Tentu saja ayah dan ibu terlihat keberatan saat aku bercerita ingin segera kembali ke tanah rantau. Tapi kesedihan ditinggal kakek pergi untuk selama-lamanya adalah pukulan berat bagiku. Kakek tercinta.

Di tempat rantau memang bukan pelarian yang dapat membuatku terhindar dari kesedihan. Tempat rantau juga punya cerita tentang kepergian. Ini juga susah untuk membuat aku lupa dari cerita ini. Aku lelaki yang menanggung kesedihan di kampung dan di tanah rantau.

Air mata menitik. Sesekali aku itu terjadi jika aku mengingat segala yang terjadi. Serangkaian hari yang tak mudah aku lewati.

Kini hari kedelapan dari kematian kakekku. Aku memutuskan untuk kembali ke tanah rantau. Aku sudah berangkat dari rumah dan kini tengah duduk seorang diri di sebuah terminal yang tak sepi tapi tak membuat hati bebas dari sunyi.

Suasana di terminal tampak lengang. Ada beberapa orang memang. Tapi angka-angka itu seolah tak masuk hitungan. Bila dia yang satu tak dapat hilang dan tak dapat kau lupakan. Dalam kenangan yang indah dan penuh sayang.

*

Hari ini 24 April. Aku harus tersenyum. Ini bulan penuh kesedihan. Orang-orang tercinta tinggal terkenang. Hilang di bulan ini. Segala cerita yang pernah dibayangkan dengan indah penuh harapan kini mampus terbakar jadi kenangan. Terbakar jadi abu. Disapu oleh gelombang angin berterbangan ke sekian penjuru.

Di selembar kertas yang tak jadi kurobek adalah sebuah catatan yang singkat tentang April. Kubacai lagi di antara deru pagi.

Yang tersisa adalah luka. Yang terkenang adalah ketakrelaan.

Setelah sekian menit terjebak dalam pergulatan kesedihan dan kadang-kadang menyabarkan diri agar tak seterusnya mengutuk April, gawai cerdas di tangan berdering menandakan seseorang menelpon.

“Iya aku di sini”.

“Di mana?”.

“Oh iya, di terminal maksudku”.

“Aku ke sana”.

“Oke aku tunggu”.

20 menit, waktu melintas tanpa malas. Dua orang perempuan datang. Seseorang tentu saja tak asing bagiku. Dia kakak sepupu. Seperti biasa, dia selalu begitu cerewet saat bertemu. Aku hanya tertawa menanggapi kebiasaannya yang tak berubah. Kedatangannya membuat aku lupa dengan apa yang aku pikirkan dari tadi sepanjang sepi.

Dan seseorang lagi? Seorang perempuan yang belum aku kenal. Ia tampak bingung bagaimana menunjukkan ekspresi berhadapan denganku yang juga tak dikenalnya. Dia lalu tersenyum. Terlihat malu-malu. Gerak bibirnya terhambat antara hendak tersenyum lepas atau terkekang malu. Begitu aku menerka-nerka.

Aku mencuri pandang pada wajah perempuan yang lebih sering terlihat hendak menyembunyikannya dengan cara nunduk. Kupergunakan kepandaianku yang tak sia-sia untuk terus mengamati perempuan itu dari berbagai sudut. Tentu saja aku tak boleh kelihatan penuh perhatian sama dia di depan kakak sepupu yang tak kan mungkin dapat menyimpan banyak cerita. Aku kenal betul kakak sepupuku ini.

“Ini temen yang mau aku kenalin”, akhirnya kakak sepupu mengenalkannya kepadaku.

Perempuan itu akhirnya memandangku lagi. Perkenalan segera menjadi gerak yang otomatis: kami saling berkenalan. Dan yang penting: aku dapat memandangnya dengan cara lelaki. Aku tahu bagaimana memandang perempuan dan membuat tersipu malu. Aku tahu bagaimana caraku tak berhenti menatapnya. 

Kalau sepupuku menegurku, aku menjadi sadar tatapanku telah melebihi waktu yang normal sebagai seorang yang berkenalan. Tapi akhirnya isyarat yang kuberikan dapat dimengerti: aku dibuat kagum olehnya dalam pandangan pertama.

24 April adalah ajang perkenalan. Nanti di perjalanan menuju kota tempat rantau, aku akan membuka buku catatan harian. Pada satu lembar yang kosong, aku menulis: perjumpaan yang membuatku bergairah untuk menulis cerita. Perjumpaan yang membuatku tak takut untuk memulai lagi kisah cinta yang pernah membuatku terjungkal pada satu titik di mana hampir aku berkata: persetan dengan cinta.

Tentu aku melanjutkan dengan kalimat-kalimat lain: mungkin ini adalah cerita yang lebih baik? Oh mungkin Tuhan sedang berbaik hati di bulan April ini? Oh mungkin bulan April sudah menyudahi narasi kutukannya untuk seorang lelaki sepertiku? Dan bayang-bayang kalimat lainnya yang muncul dan tumbuh subur seperti musim kawin di dalam imajinasiku.

Tapi segera setelah itu aku putuskan untuk tak menuliskannya. Cerita ini baru saja mau dimulai. Aku takut cerita yang kutulis berjalan ke arah yang berbeda di akhir nanti.

*

Bis yang ditunggu sudah datang. Aku bergegas mengambil barang-barang bawaan. Dengan ucapan perpisahan yang singkat, aku menuju ke bis yang menunggu di depanku. Aku segera menemukan satu kursi yang kosong dekat dengan jendela bis. Ada sekitar sepuluh menit, dan bis itu masih belum jalan. Tapi aku tak menyadari waktu. Terlena memandang pada suatu objek di luar bis.

Dalam pikiranku, muncul benang-benang harapan. Perkenalan yang singkat, yang diisi dengan obrolan-obrolan sebentar tentang siapa sosok perempuan itu dan segala yang menyangkut dirinya.

Tapi waktu terlampau buru-buru.

Bisakah waktu tak selalu mengalir begitu cepat dalam momen-momen yang bahagia? Waktu itu adalah pencuri yang bekerja dengan baik memisahkan seseorang yang tengah bahagia melalui waktu dengan cara singkat.

Bis yang ditumpangiku akhirnya bergerak. Perempuan itu, yang berdiri seperti patung yang indah, yang tak mengedipkan mata sedetik pun akhirnya perlahan tampak seperti semut kecil dan mengerut seperti sebuah titik dan hilang.

Bis telah meninggalkan sebanyak mungkin jejaknya.

Apakah ini sebuah harapan? Apakah aku harus merebut kesempatan ini untuk menggantikan penderitaan-penderitaan yang tertinggal di belakang?

Tapi sekejap aku dicekam keraguan. April belum hilang. April menjadi bulan yang membuatku bertanya-tanya di antara harapan dan ketakutan: dapatkah aku bangkit dan pulih dari kepedihan?

Oh tidak. Aku masih terus diganggu oleh kuatnya perasaan bahwa perempuan adalah mahluk aneh yang datang dengan keraguan-keraguan yang tak dapat ditebak. Kekasihku yang berbicara banyak hal tentang masa depan kita, akhirnya harus aku anggap sebagai pengarang cerita. Kata-kata itu menjadi tidak istimewa. Bahkan membuatku buta membedakan mana kata-kata yang jujur atau bohong belaka.

Aku masih disiksa oleh ingatan tentang detail-detail yang muncul dari ucapan-ucapannya, yang terbaca dari isyarat air mukanya, yang nampak dari senyum dan tawanya. Dan dari keseluruhan itu, aku menjadi tawanan keindahan yang menancapkan kuatnya harapan di hatiku.

Dan harapan itu segera menjadi cerita atau dongengan belaka. Dan aku menjadi begitu rapuh. Aku seperti anak kecil kehilangan sesuatu yang berharga. Perbedaannya: anak kecil dapat melupakannya begitu cepat lewat jerit tangis dan air mata yang lepas. Sedangkan aku tak dapat berteriak atau menjerit atau mengalirkan air mata dengan bebas. Akhirnya aku tak dapat segera terbebas dari ingatan tentangnya.

“Kau tak ada dalam doa ibuku”. Tak kusadari aku telah menggemeretakkan gigiku.

Tapi baiklah, mungkin baginya itu adalah cara terbaik untuk memutuskan hubungan. Itu cara yang sopan. Tapi bagiku, itu adalah cara yang tak mungkin termaafkan. Apapun alasannya, aku jadi terluka.

Pada kegagalan ini, aku berhenti pada satu kesimpulan: perempuan tak dapat dipercaya. Ikatan-ikatan yang dijanjikan di masa kini bisa hancur di lain waktu.

“Kalau aku percaya lagi pada janji yang seperti ini, aku bisa hancur lagi dan bagaimana aku harus bangkit lagi”.

*

Tapi perempuan tadi, bagaimana aku melupakannya. Kadang aku berpikir mengapa ketakutan, keraguan dan harapan bisa timbul tenggelam dan silih berganti secepat ini?

Yang terbayang kini adalah perjumpaan dengan perempuan yang dikenalkan kakak sepupuku. Perempuan itu berkerudung pink. Wajahnya agak tersembunyi di balik kerudungnya. Tapi aku pandai mencari titik manis yang dimiliki perempuan itu. Maka segalanya menjadi jelas terlebih lagi perempuan itu tak mungkin bertahan tanpa tatapan pada saat berkenalan. Pada saat itu segalanya menjadi jelas bagiku. Ia menjadi pusat perhatian dua mataku. Tak terasa aku tersenyum-senyum sendiri. Untung saja tak ada yang menyadari ekspresi kegilaanku.

Setiap pandang yang jatuh pada wajah perempuan itu menghasilkan satu kesejukan yang luruh di hati yang tengah sekarat memikirkan penderitaan cinta di tanah rantau ini. Tiap detik tatapan matanya melahirkan satu terang dalam hati ini. Ini bukan mantra. Tentu saja. Ini cinta. Aku sendiri tak mengerti di mana posisi cinta dan nafsu belaka dalam perjumpaan yang sebentar ini. Adakah ini cinta?

Oh tidak. Biarkan para filsuf yang duduk mempersoalkan duduk perkara ini. Aku itu tak mungkin punya minat untuk memperkarakan peristiwa perjumpaan yang baru saja terjadi. Kelak kalau sang filsuf datang dan berkumpul, biarkan aku tanyakan ini pada mereka: adakah peristiwa pandangan pertama itu sebuah cinta atau nafsu belaka?

Mungkin para filsuf akan saling meributkan sendiri melalui argumen-argumen yang tak bakal dapat dipahami oleh bahasa perasaan orang yang sedang jatuh cinta. Mungkin mereka juga akan meributkan apakah yang dimaksud dengan konsep manis pada wajah perempuan yang sedang aku rasakan?

Artikel Terkait