Student
2 tahun lalu · 198 view · 4 menit baca · Politik dusun_cetho.jpg
Dusun Cetho di Pagi Hari (Dokumentasi Pribadi)

Kami Memilih Jadi Petani

Representasi Optimisme dari Pelosok Desa

“Kalau merantau, kami harus menunggu satu bulan untuk menerima upah. Sedangkan disini, di desa kami, kami hanya butuh satu minggu untuk mendapatkan uang, dengan bertani. Dengan tinggal di desa, kami juga berkontribusi untuk menjaga desa kami.”

Kurang lebih itu yang diungkapkan Anggoro, anak muda Dusun Cetho yang tergabung dalam Generasi Muda Hindu Cetho, yang tengah bertugas di Pos pintu masuk Candi Cetho sewaktu saya dan tiga orang kawan menemuinya.

Anggoro adalah potret pemuda hari ini yang mafhum bahwa desa yang sejatinya adalah rumah mereka, membutuhkan tangan-tangan anak muda untuk tetap terawat. Dan itu dimulai dengan keputusan besar, tinggal membangun dusun mereka dengan bertani. 

Secara lugas, ia bercerita bahwa sangat jarang ditemui pemuda di dusunnya ini yang memutuskan merantau. Kebanyakan dari pemudanya, sekalipun menuntut ilmu hingga keluar desa, tetap memutuskan untuk kembali. “Tetap ada yang keluar, namun tidak banyak,” ungkapnya.

Menurutnya, banyak pemuda yang awalnya memutuskan untuk keluar merantau, tidak mememukan alasan yang tepat, terlebih bersifat jangka panjang untuk tinggal menetap di luar dusun mereka mereka. 

Ada-ada saja alasannya, mulai dari kondisi geografis yang tidak seramah dusun mereka, hawa sejuk yang selalu membuat mereka rindu keluarga, hingga hitung-hitungan ekonomi yang dengan mantap mereka pastikan bahwa kalkulasi keuntungan jauh lebih tinggi yang mereka dapatkan dibandingkan jika mereka merantau. 

Ketakutan “tidak makan hari ini” adalah rasa takut yang tidak perlu mereka khawatirkan. Keputusan mereka untuk tinggal di desa juga didasari keyakinan bahwa saat mereka keluar rumah, lahan desa mereka tidak pernah membuat mereka kecewa, selalu ada yang bisa diolah.

Masyarakat Cetho meyakini pula bahwa yang paling penting mereka lakukan adalah menjaga kearifan lokal. Kearifan lokal yang mereka jaga menjadi wujud syukur agar apa yang diperoleh di musim ini bisa menopang hidup mereka hingga musim berikutnya. Berbagai “ritual kesyukuran” masih terawat di tanah ini.  

Cetho adalah dusun di lereng Gunung Lawu (jalur pendakian dari arah barat), tepatnya di Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, sekitar 1500 mdpl. Cetho yang terdiri dari 3 RT dan 108 KK ini, mahsyur dengan potensi wisatanya. Wajar saja, di dusun ini bisa dijumpai bukti sejarah Kerajaan Majapahit, Ya Candi Cetho dan juga Candi Kethek.

Dengan berbagai rentetan sejarahnya pulalah, puri Dewi Saraswati telah dipindahkan dari Bali ke Cetho beberapa tahun silam. Meski menjadi bagian dalam sejarah Hindu, Cetho tetap jadi rumah yang nyaman bagi masyarakatnya yang menganut Hindu, Islam maupun Kristen. Meski, Hindu adalah mayoritas. 

Dalam konsep komunikasi antaragama, Purwasito (2015) menuturkan bahwa pandangan inklusif agama dalam satu kelompok haruslah diimbangi dengan frekuensi dan intensitas interaksional antarkelompok agama.

Frekuensi interaksi inilah yang dijaga oleh masyaratkat Cetho, dalam sebulan terdapat tiga kali pertemuan rutin yang jadi wadah untuk masyarakat bertemu, ada atau tidaknya permasalahan menyangkut kedesaan maupun agama yang harus mereka musyawarahkan.

Dalam pembangunan, hal ini tentunya harus dirawat. Agar “kami” secara kolektif lah yang muncul, bukan “kami” secara parsial, terlebih “aku” secara eksklusif. 

Ismid Hadad, Ketua Dewan Pembina Yayasan Keanekaragaman Hayati, dalam salah satu artikel ilmiah yang ditulisnya menegaskan bahwa upaya pencarian pola pembangunan alternatif bukan hanya pada substansi masalahnya melainkan semestinya dimulai dari perubahan pola pikir dan cara pandang terhadap apa dan bagaimana “pembangunan” itu sebenarnya. 

Kultur Cetho, telah membentuk pemudanya untuk mengamini pembangunan yang jauh lebih kompleks dari sekedar hitung-hitungan ekonomi. Pembangunan justru mendidik mereka untuk tidak abai pada faktor-faktor lain selain ekonomi, semisal ekologi dan kehidupan sosial mereka.

Mengapa pembangunan?

Rogers (Dilla, 2007) mengungkapkan bahwa pembangunan sebagai suatu proses sosial yang bersifat partisipatori secara luas untuk memajukan keadaan sosial dan kebendaan (termasuk keadilan yang lebih besar, kebebasan, dan kualitas yang lebih tinggi) bagi mayoritas masyarakat melalui manfaat yang diperoleh serta kontrol terhadap lingkungan.

Hematnya, pembangunan adalah proses yang (semestinya) membawa menuju perbaikan. Maka hari ini, pembangunan adalah keniscayaan dan politik punya ruang kebermanfaatan di dalamnya. 

Politik hari ini, tidaklah melulu tentang lakon dalam partai A atau B. Namun lebih dari itu, politik adalah keberanian untuk memutuskan dan terlibat dalam tujuan perubahan yang disepakati secara bersama.

Keputusan pemuda Cetho untuk tetap tinggal di desa dan menjadi petani adalah keberanian yang tidak dimiliki oleh banyak pemuda hari ini. Dan itu adalah keputusan politik. Partisipasi mereka untuk membangun daerah semestinya mendapat ruang perhatian yang lebih dari para pelaku politik mainstream

Dilansir dari salah sau portal berita, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikemukakan oleh Oxfam Indonesia bersama dengan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) menemukan bahwa dalam kurun waktu 2003 hingga 2013, jumlah rumah tangga petani berkurang hingga 5 juta.

Sedang dalam kurun waktu 2010 hingga 2014, terjadi penurunan tenaga kerja pertanian sebanyak 3.15 juta orang. Tentu angka ini bukan angka yang kecil untuk Negara yang pernah berhasil melakukan swasembada pangan di era lalu, dan terus mengusahakan kedaulatan pangan hingga hari ini.  

Pada tahun 1999, International Rice Research Institute merilis bahwa Penduduk Indonesia merupakan pemakan beras terbesar di dunia dengan konsumsi 154 kg per orang per tahun (Subejo, 2013). Sedang di tahun 2011, BPS merilis bahwa total konsumsi beras per kapita per tahun secara keseluruhan baik yang dikonsumsi untuk makanan maupun non-makanan mencapai 113,72 kg.

Dalam hal ini, dari sektor pertanian padi saja, masalah tidak berhenti pada ketersediaan lahan, atau keberpihakan pemerintah hari ini yang dipertanyakan. Namun lebih dari itu, ketertarikan anak muda untuk meramu tanah mereka juga mulai menjadi ancaman. Padi, jagung, sayuran lainnya, tidak serta merta terhidang di atas meja kita, sebelumnya ada banyak tangan-tangan baik yang mengolah mereka dengan nilai-nilai hidup yang sakral. 

Olehnya pemuda Cetho, meski belum merepresentasikan keseluruhan pemuda hari ini, adalah representasi dari optimisme yang hadir dari pelosok desa. Artinya, sekali lagi, laku-laku politik mainstream seharusnya mampu merangkul, memihak kepada mereka. Toh, keberpihakan kepada rakyat adalah kewajiban. Maaf, bukan pencapaian apalagi prestasi.