“Mas, apakah meninggalnya dokter Miftah benar adanya?”

“Iya, dek, innalillahi. Doakan semua kebaikan untuk almarhum ya, dek.”

Begitu pesan WA grup beberapa hari yang lalu. Seketika aku langsung lemas. Masih tidak percaya orang sebaik beliau harus dipanggil secepat ini.

Dokter Miftah adalah Chief Resident Program Pendidikan Dokter Spesialis di Universitas Airlangga. Terhitung kurang beberapa bulan lagi beliau menuntaskan sekolahnya. Sayang, beliau harus gugur karena Covid-19 pada 10 Juni lalu. 

Teringat beberapa bulan yang lalu ketika saya ujian pendidikan profesi di Departemen Jantung dan Pembuluh Darah. Ya, sebagai dokter muda, aku harus melewati ujian ini supaya aku bisa melangkah ke putaran bagian selanjutnya.

Hari itu hari Rabu. Dengan semua kebodohanku, aku harus ujian di hari itu juga. Setelah diantar oleh residen pendamping ke bed pasien, aku sedikit demi sedikit menanyai pasienku perihal sakitnya. 

Perasaanku tiba-tiba tidak enak. Pasienku tidak menjawab pertanyaan dan acuh saja. Lalu bagaimana nasibku nanti ketika diskusi dengan dokter penguji? Tanyaku bodoh ke diri sendiri. Tanpa menggubris, pasienku pun memalingkan muka dan beranjak tidur. 

Sudah 30 menit berlalu. Pasienku hemat benar berbicara. Bahkan aku hanya tahu kalau dia gagal jantung. Cukup, tidak untuk informasi lainnya.

Tiba-tiba pintu terbuka. Masuklah dokter residen berbadan tinggi besar yang rupanya aku tidak asing.

”Lho, dok, ngapain ke sini?’ tanyaku ke dokter Miftah. 

“Harusnya kamu yang aku tanya kenapa di sini, dek, hehehe”. 

“Saya ujian, dok, dapat jantung.”

“Walah enak toh, pasti lulus.” 

“Nggak tahu, dok, saya bingung, hehe”

Dokter Miftah langsung melihat pasiennya. Sambil tersenyum, beliau lalu menceritakan semua keluhan, pemeriksaan fisik, dan lab pasien ujianku hari ini. 

“Jangan bingung, dek, pasiennya sudah sebelas kali opname. Wajar kalau males kamu tanya-tanya. Sudah ya, wes-wes lulus-lulus.” Tak kusangka ternyata kata-kata itu adalah kata-kata terakhir yang beliau katakan kepadaku.

Sebagai dokter muda, sebenarnya aku cukup resah harus dipulangkan ke rumah masing-masing. Dalam proses menjadi dokter, pelajaran terbaik bagi kami adalah bertemu pasien dan belajar kepada mereka. Melakukan wawancara, pemeriksaan fisik, mengusulkan pemeriksaan laboratorium.

Ya, hal-hal itu saja yang membuat skill kami terasah menjadi dokter. Nyatanya sekarang, kami hanya dibebani untuk kuliah online saja di rumah masing-masing. Miris pikirku, lalu akan jadi dokter macam apa aku nanti? Tanyaku ke diri sendiri hampir setiap hari. 

Seakan seperti bumi dan langit. Kakak-kakak kami, senior-senior kami sedang bekerja keras di rumah sakit untuk berperang melawan Covid. Tak terbayang bagaimana rasanya kalau aku menjadi mereka. Harus meninggalkan keluarga, berjibaku dengan pasien, dan tentunya harus menanggung risiko kalau tertular. 

Belum lagi anggapan-anggapan negatif masyarakat yang mendiskreditkan mereka. Dibilang sumber penularanlah, tidak boleh ke kampunglah, dan pandangan super menohok lainnya.

Ya, beberapa masyarakat akan bilang kalau hal ini lumrah. “Tidak apa-apa, lha memang tugas dokter emang kayak gitu!” Lainnya pun menimpali: “Oh ya ndak apa-apa, dokter-dokternya masih muda, mungkin cuma batuk pilek sedikit saja terus nanti ya sembuh. Asal tidak nulari kita saja.” Dalam hati ikut merenung, sebenarnya apa yang salah dengan orang-orang ini? 

Beberapa di grup WA yang tergabung bersama senior dan dokter yang sudah berpuluh-puluh tahun praktik. Beliau-beliau juga tidak habis pikir. Betapa kesal mereka akan orang-orang yang secara tidak tanggung jawab menyebarkan berita-berita yang mereka sendiri bahkan tidak tahu kebenarannya. 

Walaupun jam terbang sudah tinggi, tetapi beliau-beliau juga bukan serta-merta penyihir yang bisa secara instan menyulap semua orang di Indonesia melek perkara Covid ini.

Mirisnya lagi, ada saja orang-orang yang menganggap bahwa Covid ini hanya konspirasi belaka. Sekadar berita jadi-jadian, bahkan pertambahan kasus hanyalah angka yang dibuat-buat katanya.

Lebih ekstrem lagi beberapa influencer malah menantang masuk ke rumah sakit untuk mencoba menghirup virus penyebab Covid. Dan jika mereka selamat, maka pemerintah, Satgas, dan tenaga medis harus beramai-ramai meminta maaf kepada publik kalau Covid hanyalah bualan belaka.

Senada, ada juga influencer yang terang-terangan meminta pemerintah segera meniadakan PSBB. Serta membuka mall-mall, tempat ibadah, sekolah-sekolah, dan sebagian tempat umum lainnya. Seakan benar-benar takut jika ekonomi benar-benar akan ambruk jika keadaan terus-menerus seperti ini.

Aku pun masih terduduk kaku di pojok ruangan. Tak habis pikir, apakah nyawa seseorang itu cukup pantas untuk digadaikan dengan kepentingan ekonomi? 

Memang, kita tidak hanya berperang melawan Covid saja. Tapi kita juga berperang melawan Covidiot!

Tanpa menafikan akan semua kemungkinan, pemerintah pastinya juga sudah punya pakar-pakar ahli hitung yang paham bagaimana dampak dari Covid ini. Seakan memang jalan menuju New Normal adalah solusi konkrit mengatasi semuanya. Tapi sepertinya memang bukan sepenuhnya untuk mengatasi jatuhnya korban yang lebih banyak ya?

Sampai tahap ini, aku hanya bisa geleng-geleng. Sebenarnya sesakit apa orang-orang yang menganggap ini lelucon? Apakah harus menunggu orang-orang dekat mereka yang jadi korban? Apakah harus menunggu mayat bertebaran?

Ketika berita meninggalnya dokter Miftah diposting teman-teman dan senior di berbagai media sosial, aku hanya bisa bersedih dan merenung. Mengingat perjuangan beliau yang menghabiskan tujuh tahun sekolah menjadi dokter umum, ditambah lima tahun perjalanan sampai menjadi Chief Resident Program Pendidikan Spesialis Ilmu Penyakit Dalam.

"Mengapa harus orang-orang seperti ini yang gugur? Mengapa tidak influencer dan pendukungnya itu saja yang mendapat batunya?" gerutuku yang masih tidak terima.

Kepada dokter Miftah dan semua dokter dan senior kami yang telah gugur, kami sebagai penerus tidak akan menyerah begitu saja. Walaupun status kami hanya sebagai dokter muda. Kami selalu yakin, Anda semua hanya meninggal dalam bentuk jasad, tidak untuk semangat yang masih dan akan terus bersama kami.