Peneliti
1 bulan lalu · 1930 view · 5 min baca menit baca · Gaya Hidup 91238_76201.jpg
Twitter Mia Khalifa

Kami Akan Hijrah (ke Kiri)

Seorang temanku, sebut saja Nove, mengatakan bahwa awal tahun ini dia punya pengalaman yang membuatnya malu bertemu dengan mahasiswinya. Malu karena dia tidak nyaman dengan gaya berkerudungnya. 

Selama ini, kerudung yang dipakainya adalah kerudung dari kain segi empat yang dilipat menjadi segitiga dan pas menutup di bagian dada.

Sedangkan, rata-rata jilbab yang dipakai mahasiswinya adalah jilbab yang besar dan panjang yang menutupi sampai di bagian pantat. Nove yang selalu memakai tas ransel yang ditaruh di punggung itu kemudian membalik tas ranselnya untuk digantung di depan, dada.

Aku bilang ke Nove, tidak selamanya semua mahasiswi yang memakai jilbab besar itu seperti itu model jilbabnya. Apalagi sekarang trend model jilbab masa kini adalah jilbab syar'i. Maksudku, bisa saja jilbab hanya sebatas pakaiannya saja, bukan benar-benar perilaku berjilbabnya.

Belum itu, belum lagi pengalaman Nove yang lain. Pengalaman yang membuat dia kaget, yaitu ketika bertemu dengan seorang perempuan yang memakai cadar di suatu warung yang langsung mengambil tangannya untuk bersalaman kemudian mencium tangannya sambil berkata, "Ibu kenal, kan, sama aku?"

Terang saja, Nove kaget dan bertanya-tanya, "Siapa, ya?" Lalu dijawab oleh perempuan itu bahwa dia adalah salah satu mahasiswinya. 

Nove kemudian tahu bahwa benar perempuan tadi adalah mahasiswinya. Nove hampir tidak mengenalnya karena ia dulu hanya berjilbab tapi kemudian (hijrah) bercadar.

Nove yang dulu sekolah di Madrasah Tsanawiyah itu jadi mempertanyakan kerudungnya. "Salahkah dengan kerudungku ini?"

Seperti Nove, aku juga pernah kaget disapa seorang perempuan yang bercadar di suatu mall. Ketika kuperhatikan dengan saksama, aku baru sadar ternyata mahasiswiku juga. 

Dia memang salah satu dari dua mahasiswi yang bercadar di kampusku. Mahasiswiku ini sangat ramah, padahal awalnya aku sudah pasang tampang jutek ketika disapa dan aku tak sapa dirinya.

Lain Nove, lain Ami. Ami merasa sakit hati dengan teman-temannya yang berjilbab besar. Mereka berjilbab besar namun tingkah lakunya atau perilakunya membuat sakit hati. 


Aku tidak tahu, Ami sakit hati karena apa. Yang jelas, Ami yang juga berjilbab itu mengirim chat padaku begini: "It makes me think to leave my hijab someday. " 

Aku bilang ke Ami kalau aku juga masih buka tutup kerudung, buka tutup jilbab. Bagiku, kerudung adalah model hijab yang berbentuk seperti selendang. Sedangkan jilbab merupakan kain yang lebih panjang menutup dada. 

Di ruang-ruang tertentu, seperti di ruang resmi, di kampus, aku akan memakai terus jilbabku. Namun, ketika pergi ke mall, atau ke rumah orang lain, aku hanya memakai kerudungku. Ketika aku ke laut, untuk mandi laut, aku akan membuka kerudungku walau di sana banyak orang, para nelayan.

Aku juga bilang ke Ami, aku akan berkerudung terus saja ala Yenny Wahid. Ketika aku melihat Mbak Yenny yang waktu itu datang ke kotaku dalam rangka kampanye Jokowi, kerudungnya biasa saja. Tidak panjang lebar, besar dan kuat. Kerudungnya tipis yang berwarna putih, terlihat biasa saja namun sangat bersahaja. 

Kata Ami yang lagi kuliah S2 di kampus Islam itu, "Aku tidak mau bersandar pada orang lain. Bersandar pada jilbab atau kerudung orang lain. Yang penting, orang tuaku meridainya. Suatu hari nanti, aku akan hijrah. Mungkin ini namanya hijrah ke kiri karena akan buka hijab."

Apa Itu Hijrah?

Hijrah menurut Mas Wiki, Wikipedia, adalah perpindahan atau migrasi Nabi Muhammad saw bersama pengikutnya dari Makkah ke Madinah pada Juni 622. Ini merupakan hijrah menurut sejarah. 

Namun hijrah secara makna artinya sangat luas karena berarti meninggalkan, menjauhkan diri, berpindah tempat. Yang berarti keluar dari kekufuran berpindah pada keimanan.

Ngomong-ngomong soal hijrah, aku pernah pasang status bertuliskan "Hijrah".

Ketika itu, aku pasang status di WA, status yang bergambar. Tepatnya, susunan dua gambar. Yang pertama dari kaleng biskuit Khong Guan. Gambar karikatur, seorang ibu yang menikmati teh dengan dua anaknya, seorang anak laki-laki dan yang satunya lagi anak perempuan. 

Dan gambar yang satu lagi, seperti model gambar di atas. Bedanya, gambar yang satu ini adalah gambar manusia (orang) asli. Seorang perempuan berperan seperti ibu, atau mungkin tuan rumah yang duduk di tengah dengan dua tamunya seorang laki-laki dan perempuan. Namun, perempuannya sudah memakai kerudung. 

Aku memberikan kalimat di bawahnya dengan kalimat "Pada 'Hijrah'...". Kata hijrah sengaja kuberikan penanda, karena gambar di atas pada mulanya adalah dari gambar karikatur yang tidak berkerudung lalu gambar orang (perempuan) berkerudung.

Langsung saja, status itu dikomentari melalui chat jalur pribadi (japri) oleh dua orang anak muda, laki-laki. Kata mereka hampir mirip. 

Anak muda yang pertama: 


"Kak, tahu tidak siapa dalam gambar itu?" sambil melingkari gambar yang sudah di-screenshot perempuan yang duduk di tengah yang berperan sebagai ibu. "Mia Khalifa, kak. Mantan bintang porno, kak."

Anak muda yang kedua:

"Kak, itu gambar kedua yang di bawah, kita tahu gambar apa? Maaf, potongan video porno. Genrenya mungkin begitu. Namun si Mia Khalifa sudah berhenti." 

Aku terdiam, di awal lihat gambar status ini dari teman. Yang kukomentari dengan kalimat, "kerudungan." Dijawab temanku dengan tertawa. Kemudian, gambar itu ku-share tanpa pikiran yang macam-macam tentang model gambarnya.

Aku pun mencari biografi Mia Khalifa, yang katanya, pemeran video porno itu. Namun, memang sudah tidak berprofesi seperti itu lagi. 

Aku membalas anak muda yang pertama dengan kalimat, "Sudah hijrah, kan?"

Chat itu dibalas dengan kalimat, "Hati manusia, siapa yang tahu, kak?" dengan emotikon tersenyum.

Kubalas chat itu dengan kalimat, "Biar Tuhan yang tahu," sambil menambahkan emotikon malaikat dan dua tangan yang bersatu.

Kemudian, anak muda yang kedua kubalas dengan chat, "Tapi sudah hijrah."

Dijawab oleh anak muda itu, "Saya tidak mengerti istilah hijrah yang booming sekarang, kak. Saya hanya tahu tobat."

Kujawab, "Memang terlalu banyak yang berhijrah. Hijrah maknanya luas, yang berarti menjadi orang yang lebih baik."

Kembali ke Ruang Nove, Ami, Mia, dan Aku (Sendiri)

Hmm,.. tarik nafas dulu. 

Ani, mempertanyakan keberadaan kerudungnya di tengah-tengah "gempuran" jilbab dan cadar mahasiswinya. Sampai bertanya-tanya sendiri, salahkah dengan model kerudungnya?

Ami ingin melepas hijabnya, suatu saat nanti ketika sakit hati dengan teman-temannya yang berjilbab besar. Namun, intinya, dia ingin meminta rida orang tuanya dulu.


Mia, yang dulu berprofesi sebagai bintang film porno, sudah beralih profesi. Namun, bagi yang sudah tahu masa lalunya, mungkin masih men-cap-nya begitu.

Aku sendiri ingin memakai kerudung saja atau selendang saja. Bukan dengan jilbab yang agak panjang. Ini karena aku pribadi masih terkadang open-veil.

Kiri Itu Seksi!?!?

Kami semua ingin "berhijrah". Maaf, cara atau model kami berhijrah seperti ini. 

Nove ingin berhijrah dengan tetap mengenaikan kerudungnya yang seperti itu. Ami ingin berhijrah ke kiri dengan tidak memakai kerudung. Mia berhijrah dengan tidak menjalani profesinya yang dulu. Aku berhijrah dengan memakai selendang.

Mungkin hijrah kami terdengar seksi. Namun, inilah cara kami berspiritual. Spiritual yang kami dapatkan dari kepercayaan, pengalaman hidup, budaya, gagasan, dan ide-ide. 

Bagiku, biarlah 'hijrah' spiritual ini hanya bagi Aku dan Tuhan yang tahu.

Artikel Terkait