Kemarin aku mengunjungi ibu dan ayahku di rumahnya di suatu pinggiran Kota Makassar, Mandai. Aku bilang rumahnya karena aku telah memiliki tempat tinggal sendiri di Mamuju. 

Aku dan orang tua kini memang sudah berjarak. Berjarak dalam arti kami punya tempat tinggal dan kesibukan yang berbeda-beda.

Aku datang ke Mandai karena orang tua sejak awal sudah memberitahuku bahwa buku-bukuku dalam lemari sudah banyak di makan rayap. "Rayap?" tanyaku pada mereka. Namun, orang tua tidak menjelaskannya secara rinci, tapi memintaku untuk datang mengurusnya dengan mengatakan, "Lihat saja sendiri." 

Aku jelas saja khawatir. Buku-buku itu adalah buku-buku yang telah aku beli dan pelajari selama berkuliah di Yogyakarta. Sayang sekali jika buku-buku itu akan rusak gara-gara rayap, anai-anai, atau kutu buku itu sendiri karena ilmu dan pengetahuan ada di sana.

Ketika aku tiba di sana, tampak dari luar rumah begitu rimbunnya pohon-pohon yang sudah besar yang ditanam oleh orang tua di halaman yang cuma beberapa meter.

Ada pohon kelor, mangga, asam, nangka, bahkan tanaman labu yang menjalar ke atas dinding rumah. Belum lagi kayu-kayu dari pohon yang jatuh dan mengering tersebut memenuhi halaman karena dibuat sebagai kayu bakar untuk memasak.

Orang tua suka sekali memasak menggunakan kayu. Mereka adalah tipe orang tua yang konvensional yang masih menggunakan kayu bakar walau kami juga mempunyai kompor gas. Saking konvensionalnya, beberapa barang-barang tua di rumah itu masih tersimpan dan dijaga pada tempatnya. 

Seperti motor vespa yang telah rusak bertahun-tahun yang oleh ayah yang tidak diperbaiki dan tidak dijual juga. Ia suka melihat kenangannya bersama motor itu di ruang tamu.

Ibuku lain lagi. Ia suka menyimpan koleksi baju-bajunya ketika masih muda dulu dalam satu lemari sendiri. Ketika kami melihatnya, ibu akan bercerita tentang momen baju itu ketika dipakai dalam suatu acara penting.

Orang tua bukan hanya konvensional dalam arti tradisional. Mereka mungkin telah lelah dengan slogan kebersihan bahwa bersih itu sehat dan menganggap kebersihan sebagian daripada iman hanyalah ketika bersuci sebelum salat. 

Mengapa aku katakan demikian? Karena mereka kurang mempraktikkan kebersihan itu sendiri dan bagaimana hidup sehat. Lihat rumah ini yang berantakan. 

Mereka juga pasti tahu perintah agama ini, "Janganlah kamu menjadi umat lain karena menumpuk barang di rumah."

Aku baru masuk ke rumah saja di ruang tamu, kertas-kertas ujian mahasiswa milik ayah yang menjadi dosen panggilan di suatu kampus di Makassar bertumpuk di bawah meja kursi tamu. Beberapa buku-buku agama yang biasa dipakai berceramah tampak tersusun secara serampangan di suatu kursi.

Masuk ke ruang tengah, dua lemari buku yang terbuat dari kayu dan kaca itu tampak hancur. Kayunya telah keropos, kacanya juga sudah buram. Aku melihat beberapa buku-buku koleksi ayah tampak bolong dimakan si kutu buku. Aku juga memeriksa rak buku yang satu, rak bukuku ketika kuliah S1. Ada beberapa buku yang hancur. Buku itu benar-benar jadi santapan lezat si kutu buku.

Aku segera berlari masuk ke kamar satu, kamar tempat bukuku sewaktu kuliah S2 yang berada dalam satu lemari. Ada juga beberapa buku yang bolong, namun masih lebih aman. Aku bersyukur, masih banyak buku yang bisa diselamatkan. Buku-buku itu akan kubawa ke Mamuju untuk menjadi referensi literatur mahasiswaku.

Aku mencari tahu mengapa hewan-hewan ini hidup subur di rumahku. Aku kembali memperhatikan rumahku. Rumah ini hawanya dingin karena banyaknya pohon yang tumbuh di halaman rumah. 

Namun, di sisi lain, rumah ini menjadi lembab sehingga menjadi tempat yang nyaman bagi rayap dan anai-anai untuk hidup di perabotan kayu apalagi di material kayu rumah. Bukan cuma itu, si kutu buku hidup subur dalam buku-buku yang tak pernah lagi di-open access.

Orang tuaku sudah pensiun sejak sepuluh tahun yang lalu. Mereka juga jarang menempati rumah ini. Mereka kebanyakan keluar mengunjungi anak-anaknya, saudara-saudaraku di daerah lain. Jelas saja, rumah ini tampak tidak terawat. Apalagi barang-barang bekas yang ada di rumah tidak dieksekusi dengan baik oleh mereka.

Lihat saja di dapur, ada berdus-dus karton kosong yang mereka simpan. Kata mereka, karton-karton bekas (dus) itu bisa digunakan sewaktu-waktu ketika aku mau memberikannya pada pemulung. Bukan hanya itu, ada beberapa botol-botol bekas air mineral, dan botol-botol bekas sirup memenuhi sudut di ruang makan.

Mereka tidak mau memberikannya ke pemulung apalagi membuangnya. Seperti alasan mereka tadi kalau sewaktu-waktu akan digunakan kembali. 

Ketika aku berkata ke mereka, aku mau membersihkan rumah ini, mereka menjawab, "Bereskan saja buku-bukumu dulu." Dan aku hanya diam.

Aku masuk ke ruang tidur utama, ruang tidur mereka. Kamar ini tampak parah. Ayah yang memakai bedak merek Gatsby tampak menyimpan bekas-bekas tempatnya di meja kerjanya. 

Belum lagi minyak rambut merek Tancho yang telah habis banyak di bawah ranjang. Kertas-kertas bekas seperti undangan, amplop kosong, dan beberapa kertas-kertas lain tampak bertumpuk di meja yang tak boleh disentuh, takut ada catatan pentingnya.

Apakah Kami Penimbun Barang Bekas yang Baik?

Aku mencari artikel tentang perilaku penimbun barang melihat banyaknya barang bekas di rumah ini. Ada istilah yang telah disematkan kepada penimbun barang yaitu, hoarders

Hoarders adalah seseorang yang mengalami gangguan hoarding (penimbun barang). Gangguan ini termasuk bentuk dari Obsessive Compulsive Disorder (OCD). Ini adalah bentuk kecemasan atau stres berlebih untuk menyimpan barang yang tidak dibutuhkan. Perilaku ini disebabkan oleh lingkungan keluarga yang kurang harmonis dan kekurangan materi ketika kanak-kanak.

Aku jadi mengingat kembali, apakah orang tuaku yang hoarders ini pernah mengalami hal-hal seperti di atas? Mereka mengalami kekecewaan akibat keluarga yang kurang harmonis?

Iya, aku ingat. Sewaktu kecil, ayah yang dulu jadi kepala sekolah di yayasan keluarga kami dituduh korupsi oleh keluarganya sendiri sehingga diturunkan dari jabatannya. Padahal, tuduhan itu sama sekali tak berdasar, karena ayah punya catatan transparansi keuangan dan membuat publikasi sehingga sekolah itu maju, namun dihentikan langkahnya oleh keluarga sendiri. 

Ayah kemudian menjadi tenaga pengajar di tempat lain. Ia kemudian menjadi lebih pendiam. Padahal, pada dasarnya ia memang lelaki pendiam. 

Aku juga ingat, ibu yang suka bercerita, kalau sewaktu kecil belum sekolah di sekolah dasar sudah bekerja di pagi hari menjual kue di kampung karena membantu perekonomian keluarga. Ia tidak mempunyai materi yang cukup. 

Bisa jadi ini penyebab mereka menimbun barang. Ayah yang merasa harga dirinya diinjak-injak mengakibatkan keluarga jadi kurang harmonis. Ada rasa tidak percaya diri pada orang lain. Ibuku juga karena hasrat pemenuhan barangnya dalam hal pakaian yang tidak terpenuhi menjadi pengumpul baju-baju.

Aku juga sadar, aku dan mungkin bersama saudara-saudaraku yang lain juga sudah jauh dan kurang bisa memperhatikan orang tua. Apalagi sekadar datang untuk menginap berlama-lama sambil membersihkan rumah mereka. 

Kami sudah jauh dan datang biasanya hanya untuk sekadar singgah. Sehingga, ikatan (bounding) di antara kami agak lepas. Mereka mengurus urusan mereka sendiri, dan kami anak-anaknya pun begitu.

Aku kembali membaca artikel tentang OCD ini bagaimana cara menyembuhkannya. Kata artikel itu, perilaku hoarding dapat diatasi dengan terapi kognitif yang bertujuan mengubah pola pikir dan bagaimana seseorang bertindak dengan mengubah konsep akan dirinya dan orang lain. Pelaku ini harus didampingi dalam terapi sehingga pada akhirnya perilaku dapat mengambil keputusan barang yang dia butuhkan dan tidak.

Lebih lanjut, artikel itu menulis bahwa belum diketahui apakah gangguan hoarding ini bisa turun menurun atau tidak. 

Alamak, aku jadi takut. Apalagi bagi yang hidup sendiri. Aku memperhatikan isi lemariku, beberapa buku catatan semacam diary ketika aku naksir seseorang dan sms-sms dari teman-temanku yang suka aku tulis sewaktu kuliah dulu ada tersusun rapi. Belum lagi disket-disket zaman dulu dan beberapa pernak-pernik yang aku sukai menjadi koleksiku cendera mata dari Jogja.

Aku juga memperhatikan barang-barang yang kakak dan adikku simpan di rumah ini. Layar komputer yang entah masih bagus atau tidak yang tersimpan di atas lemari yang kini fungsinya digantikan laptop. Koleksi kaset-kaset kami, CD-CD penyanyi favorit kami. Foto-foto yang sekardus sendiri. Banyak juga timbunan barang kami, anak-anaknya ini.

Kami adalah penimbun barang yang baik, bukan penimbun ilmu yang baik. Aku menyesal, mengapa tidak banyak menimbun ilmu dari orang tua. Ayah memberikan banyak bacaan dari buku-buku dan majalah-majalah koleksinya. 

Ada buku-buku terbitan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dalam bentuk biografi para pahlawan, sejarah-sejarah Indonesia dan dunia, buku-buku agama karya Buya Hamka. Belum lagi majalah zaman dulu, lihat saja Panji Masyarakat yang berbagai edisi yang ketika kami baca menjadi berita-berita penting saat itu. Inti sari yang penuh ide cerita belahan dunia dan inspiratif dan lain sebagainya.

Dari ibu, mengapa kami tidak menimbun cerita-cerita zaman mudanya ketika pergi bersekolah di suatu tempat, pergi mengaji menjadi Qoriah, menyanyi berkasidah ria atau jalan-jalannya ke berbagai tempat yang bisa jadi ide penulisan sejarah dan perjalanan?

Aku berjanji, aku ingin kembali pulang ke rumah ini, kembali ke mereka, kembali menjadi menjadi anak yang baik, kembali menjadi penimbun yang baik.

Batangase, 190519