Seorang teman bercerita bahwa ia ingin menikah dengan alasan agar bahagia. Selama ini ia seperti diliputi oleh penderitaan. Maka kini ia gencar mencari pasangan hidup yang saleh dan mapan secara ekonomi. Kedua hal itu dipercaya sebagai faktor penentu kebahagiaan.

Satu hal yang perlu digarisbawahi dari kasus teman saya tersebut: ia mencari kebahagiaan dengan jalan menikah. Artinya, dalam benaknya, dengan menikah, orang akan otomatis menjadi bahagia.

Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Tak perlu menikah terlebih dahulu untuk mengetahui betapa rumitnya hidup pasangan yang sudah menikah. Kita bisa melihat dengan mata telanjang melalui kehidupan orang tua kita.

Dengan begitu, menikah bukan solusi seseorang terlepas dari segala persoalan hidup. Bahkan, masalah bisa bertambah. Jika ketika masih lajang ia hanya bergulat dengan masalah-masalahnya sendiri, saat menikah ia juga akan berhadapan dengan masalah pasangannya, masalah berdua, masalah anak-anaknya, dan masalah dari konsekuensi sosial pernikahan.

Berharap bahagia dengan menikah merupakan sesuatu yang naïf. Kalau memang pernikahan dapat membawa seseorang lepas dari penderitaan, mengapa justru ada banyak kesedihan yang lahir dalam/karena pernikahan: kekerasan dalam rumah tangga, perselingkuhan, orang tua yang merepotkan anak-anaknya, dan sebagainya.

Orang bisa bahagia dengan menikah atau tidak. Orang bisa menderita setelah menikah atau tidak. Orang bisa kesepian sesudah menikah atau tidak. Semua itu bisa terjadi pada siapa pun, kepada orang yang sudah menikah atau tidak.

Berharap bahagia dengan menikah jelas menuntut lembaga tersebut agar sesuai dengan fantasi-fantasinya bahwa kamu akan happily ever after. Bayangkan, jika seseorang menikah dengan maksud ingin bahagia, tetapi setelah menikah ternyata tidak bahagia, ia berpotensi menjadi orang yang mengambinghitamkan lembaga pernikahan. Ternyata menikah tidak membuatku bahagia. Lalu ia berubah menjadi orang yang trauma.

Celakanya, romantisme pernikahan terus direproduksi. Dalam mitos tersebut, pernikahan tidak dibiarkan tampak apa adanya. Cacat pernikahan berusaha disembunyikan dari orang-orang yang dianggap telah “siap” memasuki jenjang pernikahan. Sebagai gantinya, pernikahan di-make up dengan cerita-cerita dari dunia antah berantah. Persuasi menuju pernikahan selalu menggunakan taktik dongeng semacam ini.

“Nikah itu enak. Apa-apa ada yang ngurusin.”

“Tidur nggak lagi sendirian.”

“Dan halal.”

Tetapi lupa diceritakan bahwa beban (untuk menghindari kata “penderitaan”) dari pernikahan tak kalah banyak: banting tulang untuk mencukupi kehidupan rumah tangga, bangun malam-malam karena anak menangis, atau patah karena suami kepincut istri tetangga sebelah.

Salah satu residu dari berkembangnya mitos “bahagia setelah menikah” adalah meliyankan orang yang belum/tidak berminat menikah. Orang yang belum/tidak menikah dianggap tidak lengkap. Karena tidak lengkap, mustahil bahagia. Maka ia perlu sering-sering diingatkan dengan introgasi “kapan nikah”. Jangan sampai “telat” nikah supaya tidak telat punya anak (padahal orang menikah juga punya pilihan untuk tidak punya anak).

Biasa-biasa saja terhadap pernikahan adalah sikap yang paling realistis. Pernikahan bukan prestasi—meminjam kata-kata Avianti Armand. Cuma kebetulan saja ada orang yang mau hidup bersama.