Kambing hitam, sebuah istilah populer yang mengandung makna konotatif perihal seseorang yang dikorbankan atau ditimpakan sejumlah kesalahan karena dianggap menjadi penyebab sebuah peristiwa yang merugikan. Dalam bahasa Inggris disebut "Scapegoat".

Istilah ini sebenarnya sebuah kekeliruan yang terjadi pada penerjemahan bahasa inggris oleh William Tyndale pada tahun 1530 yang menuliskan "escape goat" menjadi "scape goat". Istilah "escape goat" sendiri merupakan upaya menerjemahkan kata Ibrani "azazel" yang dalam naskah Septuaginta berbahasa Yunani diterjemahkan "tragos apopompaios".

Artinya "goat sent out" dan Vulgata berbahasa Latin menerjemahkan "caper emissarius" yang artinya "emissary goat". King James Version pada tahun 1611 kemudian menerjemahkan dalam bahasa Inggris versi Tyndale menjadi "scapegoat".

Ritual kambing yang dikorbankan atau ditumbalkan berakar pada ibadah korban dalam Yudaisme yang diatur dalam Imamat (Sefer Wayiqra) 16:8 di saat jatuh Hari Raya Pendamaian (Yom Kippur) sebagaimana dikatakan:

וְנָתַן אַהֲרֹן עַל־שְׁנֵי הַשְּׂעִירִם גּוֹרָלוֹת גּוֹרָל אֶחָד לַיהוָה וְגוֹרָל אֶחָד [לָעֵז אֹזֵל]:

"Dan harus membuang undi atas kedua kambing jantan itu, sebuah undi bagi YHWH dan sebuah bagi Azazel."

Tidak ada kesepakatan di antara penerjemah perihal kata Ibrani "Azazel". Ada yang menghubungkan dengan nama dewa dan roh-roh jahat. Sementara "The lexicographer Gesenius" dan "Brown–Driver–Briggs Hebrew Lexicon" menjelaskan frasa "la-azazel" (Hebrew: עזאזל) sebagai bentuk reduplicative intensive dari akar kata "azel" yang artinya "remove", sehingga frasa "la-azazel" diartikan "for entire removal".

Selanjutnya dalam Imamat 16:21 dijelaskan apa yang harus dilakukan pada kambing jantan yang dipersembahkan bagi Azazel yaitu:

... dan Harun harus meletakkan kedua tangannya ke atas kepala kambing jantan yang hidup itu dan mengakui di atas kepala kambing itu segala kesalahan orang Israel dan segala pelanggaran mereka, apapun juga dosa mereka; ia harus menanggungkan semuanya itu ke atas kepala kambing jantan itu dan kemudian melepaskannya ke padang gurun dengan perantaraan seseorang yang sudah siap sedia untuk itu.

Dalam perkembangannya, istilah "kambing hitam" bukan hanya dimaknai sebagai hewan yang dikorbankan/ditumbalkan sebagai ganti dosa dan kesalahan sebuah bangsa agar menerima pendamaian namun menjadi sebuah istilah yang merujuk pada seseorang, etnis, organisasi politik, negara yang dituding menjadi penyebab terjadinya sebuah krisis yang menguncangkan kehidupan sosial politik serta ekonomi.

Kaisar Romawi, Nero, pernah membakar kota Roma lalu menuding penyebab kebakaran adalah orang-orang Kristen sehingga menyebabkan penghukuman dan kematian massal umat Kristiani. Hitler pernah membakar Reichstag (gedung parlemen Jerman) dan menuding orang Komunis pelakunya.

Saat naik ke tampuk kekuasaan Hitler menjadikan Yahudi sebagai kambing hitam terhadap berbagai krisis terutama ekonomi Jerman yang kemudian menuntun pada peristiwa Holocaust.

Akan semakin panjang daftar kambing hitam yang sudah begitu familiar dan menjadi ingatan kolektif masyarakat dengan nama Iluminati, Freemasonry, Yahudi, Amerika, Tionghoa dan agama-agama mana pun yang dapat menjadi kambing hitam ketika terjadi sebuah krisis sosial dan politik serta ekonomi.

Mencari kambing hitam tampaknya menjadi tabiat alamiah individu dan masyarakat tertentu ketika mereka tidak mampu menyelesaikan krisis dan persoalan yang harus mereka tanggulangi.

Bahkan ketika Adam harus mempertanggungjawabkan pelanggaran perintah Tuhan agar tidak makan "Buah Pengetahuan Baik dan Buruk", Adam malah menjawab (Kej 3:12), "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan."

Kuda Hitam, adalah nama sebuah anggota bidak catur yang memiliki kelebihan karena langkahnya yang berbeda dari bidak-bidak lain yaitu berbentuk L dianggap strategis dan tidak dapat diduga serta bisa membahayakan bidak lainnya.

Sedemikian berbahayanya kedudukan dan langkah kuda hitam sehingga diperlukan langkah cerdik mematikan langkahnya misalkan serangan dua arah Ratu Putih dan Menteri Putih kepada Kuda Hitam yang jika pergi akan membuat Raja Hitam dan Ratu Hitam terancam.

Istilah Kuda Hitam diperluas maknanya menjadi sebuah tindakan yang dikonotasikan sebagai tokoh politik yang tidak diduga dan tidak terlalu dikenal sebelumnya atau mungkin sudah dikenal namun pada saat yang tepat dan tidak dinyana-nyana dia muncul bersinar di tengah kerumunan dan krisis sehingga mengejutkan siapapun yang tidak menduga kemunculannya.

Kita sudah bicara soal "Kambing Hitam" dan "Kuda Hitam". Mungkinkah dalam percaturan politik Kambing Hitam menjadi Kuda Hitam? Mungkin ya, mungkin tidak. Pertanyaan ini menunggu sebuah keniscayaan dan kemungkinan.

Siapa pun Kuda Hitam yang dinantikan, adalah lebih baik jika kita merenungkan dalam-dalam agar kita tidak terjebak dalam perilaku defensif yang mudah mencari kambing hitam terhadap setiap kegagalan dalam mengatasi persoalan baik secara individual maupun kolektif selain mengoreksi setiap problem dan akar persoalan pada diri sendiri atau faktor-faktor yang lebih rasional dan obyektif sebagaimana dikatakan orang bijaksana (Ayub 5:6-7):

כִּי לֹא־יֵצֵא מֵעָפָר אָוֶן וּמֵאֲדָמָה לֹא־יִצְמַח עָמָל:

כִּי־אָדָם לְעָמָל יוּלָּד וּבְנֵי־רֶשֶׁף יַגְבִּיהוּ עוּף:

Ki lo yetse me'afar awen umeadamah lo yitsmakh 'amal. Ki adam le'amal yulad ubenei reshef yagbihu 'of.

"Karena bukan dari debu terbit bencana dan bukan dari tanah tumbuh kesusahan. melainkan manusia menimbulkan kesusahan bagi dirinya, seperti bunga api berjolak tinggi."