Researcher
3 tahun lalu · 1956 view · 6 menit baca · Politik scapegoat.jpg
Scape•goat \ˈskāp-ˌgōt\, noun: a: one that bears the blame for others, b: one that is the object of irrational hostility

Kambing Hitam

Dalam dunia hewan, jarang ada eskalasi konflik sampai memusnahkan spesies. Kalau Anda senang nonton film-film yang diproduksi oleh National Geographic, Anda bisa menyaksikan bahwa konflik di dunia hewan biasanya terkait dengan perebutan dominasi, baik perebutan teritori maupun perebutan betina.

Konflik perebutan betina, misalnya, akan berhenti setelah salah satu pihak berhasil menunjukkan siapa yang lebih kuat. Pecundang mundur teratur dan tidak dibunuh oleh pemenang.

Di dunia manusia, insting itu kurang menonjol. Mungkin karena proses evolusi sudah menggantinya dengan akal. Konflik antarmanusia punya potensi eskalasi tanpa batas sampai menghancurkan spesies itu sendiri.

Jarang yang tahu bahwa eskalasi tanpa batas ini nyaris terjadi tahun 1983. Dunia nyaris kiamat karena perang nuklir seperti dikisahkan di artikel ini The Man Who Saved the World by Doing Absolutely Nothing. 

Jika benar manusia mudah terjebak dalam eskalasi konflik tanpa batas, tentunya manusia sudah punah dari dulu. Nyatanya, manusia tetap survive sampai saat ini. Jadi pertanyaannya, mekanisme apa yang digunakan manusia untuk mengatasi konflik agar tidak terjadi eskalasi konflik tanpa batas? Mungkin Rene Girard yang wafat tahun lalu bisa memberi jawaban.

Menurut Rene Girard, sejak jaman purba ekskalasi konflik diselesaikan dengan mengkambing-hitamkan satu orang atau satu kelompok. Namun, sebelum mengerti proses pengkambing-hitaman, sebaiknya kita mulai dari memahami akar konflik itu sendiri.

Mimetic Desire sebagai Akar Konflik

Menurut Girard, akar konflik adalah mimetic desire. Individu mengingini sesuatu (obyek) bukan hanya demi fungsi dan jasa yang diberikan oleh obyek itu, tetapi juga karena nilai/prestise yang melekat pada obyek tersebut.

Girard selanjutnya menambahkan bahwa desire itu bersifat mimetic. Saya (subyek) “belajar” menilai obyek dari orang lain (model/mediator) yang memiliki obyek tersebut. Contoh-contoh konkret berikut mungkin bisa membantu untuk memahami mimetic desire

Orang tentu tidak asing dengan perilaku anak-anak ketika sedang bermain. Satu mainan yang tadinya tergeletak di pojok dan diabaikan mendadak menjadi obyek perebutan di antara anak-anak ketika salah satu dari mereka mengambil mainan tersebut.

Dalam film Confession of a Shopaholic, Rebecca Bloom yang pada mulanya ragu-ragu dan tidak jadi membeli sepatu boots, mendadak makin bernafsu membelinya setelah mengetahui ada kastemer yang mengingini sepatu tersebut.

Remaja mengingini iPhone setelah melihat temannya memiliki iPhone. Ibu arisan mengingini Hermes setelah melihat teman arisannya memiliki Hermes. Tentu saja mimetic desire ini dimanfaatkan habis-habisan oleh biro iklan. Sepatu Adidas didamba banyak orang, karena Michael Jordan memakai sepatu Adidas

Singkat kata, saya menginginkan sesuatu karena kamu menginginkannya. Aku meniru apa yang kaudambakan, kamu meniru apa yang kudambakan. Girard menyebut fenomena ini the triangle of desire antara subyek-mediator-obyek

Selanjutnya, Girard menunjukkan bagaimana mimetic desire itu bisa memicu konflik semua terhadap semua. Karena obyek yang diingini subyek telah dimiliki oleh sang model, maka sang model sekaligus menjadi halangan bagi subyek untuk mendapatkan obyek yang diingini itu.

Mirip lirik lagu Benci tapi Rindu, subyek rindu terhadap model (karena sang model menjadi panutan) sekaligus benci (karena sang model menghalangi subyek memiliki apa yang subyek ingini). Karena setiap orang bisa menjadi model bagi yang lain, maka selalu ada potensi konflik semua terhadap semua.

Konflik akan menjadi lebih dalam lagi ketika muncul metaphysical desire. Subyek tidak hanya menginginkan obyek yang dimiliki sang panutan, subyek ingin menjadi sang panutan. Untuk menjadi sang panutan tidak ada pilihan lain kecuali menyingkirkan sang panutan.

Girard yang adalah seorang ahli sastra menemukan konflik yang berakar dari  triangular mimetic desire ini berkat analisis kritisnya terhadap novel-novel Cervantes, Stendhal, Flaubert, Dostoyevsky dan Proust.

Akhir-akhir ini teori Girard ini mendapat pengukuhan dari neuroscience dengan ditemukannya mirror neuron. Basis neuroscience dari mimetic desire bisa dibaca  di sini: You want that? Well I want it, too! The Neuroscience of Mimetic Desire.

Mekanisme Pengkambinghitaman

Telah disebutkan sebelumnya, karena setiap orang bisa menjadi model bagi yang lainnya, dan model tersebut sekaligus menjadi penghalang, maka konflik ini punya potensi eskalasi tak terbatas.

Kalau triangular mimetic desire ini diibaratkan sebagai telunjuk yang menuding maka dalam situasi konflik, tangan-tangan mulai saling tuding satu sama lain. Saling tuding itu terus menular (mimetic) beranak-pinak sampai semua tangan saling tuding. Konflik menjadi konflik semua-terhadap-semua (Mimetic Crisis)

Ekskalasi konflik ini terus berlangsung sampai “ditemukan” satu kambing hitam yang bisa dijadikan obyek tudingan bersama. Tudingan ke satu orang itu mulai kembali ditiru dan menular (mimetic) ... dia ... dia ... dia ... sampai akhirnya semua tudingan tangan mengarah ke satu orang atau satu kelompok.

Setelah kambing hitam itu "ditemukan" maka korban itu dimusnahkan di altar persatuan, dan solidaritas dipulihkan kembali. Kedamaian dipulihkan sementara sampai krisis mimetis dan pengkambing-hitaman terjadi lagi.

Girard mendokumentasikan jejak mekanisme kambing hitam ini dari telaah antropologis, mitos, dan sastra. Misalnya, masyarakat Yunani kuno menerapkan mekanisme pengkambinghitaman di mana orang cacat, pengemis, atau kriminal diusir dari komunitas sebagai tolak-bala terhadap becana alam, wabah penyakit, kelaparan, atau penyerangan asing. Kambing hitam ini disebut pharmakos. Perhatikan, pharmakos ini asal kata dari kata farmasi, obat

Rekam jejak kambing hitam ini juga tertulis dalam mitos Oedipus. Sindhunata menunjukkan legenda Watu Gunung di Jawa yang sangat mirip dengan cerita Oedipus.

Dalam kejadian sehari-hari betapa mudahnya kita jatuh pada ngerumpiin orang ketiga yang tentu saja tidak hadir dalam acara rumpi bersama. Betapa menggembirakan rasa kebersamaan in-grup ketika ngerumpiin orang ketiga. Di dunia akademis  ada adagium "the only thing that two academics can agree upon is how poor the work of a third academic is."

Bahkan Girard mengajukan teori bahwa agama purba itu berasal dari proses pengkambinghitaman. Karena proses pengkambinghitaman ini bisa menyelesaikan konflik dan melahirkan perdamaian maka masyarakat purba beranggapan bahwa pengkambinghitaman itu kehendak suci dewa-dewa.

Krisis mimetis itu cerminan dewa yang marah. Dewa memang menghendaki korban dan dewa merestui penghakiman masal. Menurut teori Girard agama purba lahir dari kekerasan bukan sebaliknya

Girard juga mengkritik mereka yang beranggapan bahwa agama-agama samawi itu hanya kelanjutan dari mitos-mitos purba. Walaupun di permukaan, kitab suci agama samawi sangat mirip dengan mitos-mitos purba, ada perbedaan mendasar antara keduanya.

Kitab suci samawi justru anti-mitos, membongkar kebohongan mitos. Pertama, agama samawi menolak pengorbanan manusia seperti diceritakan dalam kisah nabi Ibrahim.

Kedua, secara umum kisah-kisah dalam kitab suci samawi, jika dibaca secara keseluruhan dan teliti, menunjukkan bahwa Tuhan berpihak pada korban bukan pada pelaku kekerasan.

Bahkan, menurut kepercayaan umat Kristen, Tuhan sendiri, Yesus Kristus, menolak kekerasan dan menjadi kambing hitam yang menderita habis-habisan

Kambing Hitam dalam Sejarah Modern

Ironisnya, umat bergama terperosok juga dalam budaya kambing hitam ini. Ada yang berpendapat, perang salib berakar dari konflik berkepanjangan di dunia Kristen waktu itu. Untuk mempersatukan kembali umat Kristen, dibutuhkan musuh bersama, Islam.

Ideologi sekuler tidak luput dari budaya ini, mekanisme kambing hitam ini digunakan oleh Hitler melalui propaganda anti Semitisme. Melalui mesin propagandanya yang efektif, Hitler menuding bahwa segala kemunduran ekonomi dan kekacauan politik di Jerman setelah Perang Dunia I disebabkan oleh keserakahan orang Yahudi.

Dengan mengkambing-hitamkan orang Yahudi sebagai penyebab segala penderitaan rakyat Jerman, Hitler berhasil mempersatukan rakyat Jerman di atas tumpukan jutaan mayat orang Yahudi. Hal yang sama terjadi pada pemerintaahan Stalin, Polpot, Korea Utara

Bagaimana kambing hitam ini dipilih? Pertama, untuk memudahkan proses penudingan bersama, kambing hitam harus memiliki ciri yang mudah dibedakan, baik itu ciri fisik, budaya, maupun ciri perilaku yang dianggap "menyimpang." Dalam masyarakat prasejarah ciri fisik seperti orang kidal, albino, orang cacat, penderita kusta, anak kembar dianggap pembawa bencana.

Dalam masyarakat modern penduduk migran atau orang asing secara umum sering menjadi pilihan paling mudah untuk dijadikan kambing hitam. Kedua, agar mekanisme kambing hitam ini efektif, tentu saja kambing hitam itu harus lemah dan minoritas, kalau sama-sama kuat tentu konflik justru makin berkobar.

Apakah kambing hitam selalu tanpa dosa? Tidak selalu. Siapakah yang bebas dari dosa? Yang menjadi ciri proses pengkambinghitaman bukanlah apakah kambing hitam itu bersalah atau tidak, tetapi kesalahaan kambing hitam  direkayasa, dibesar-besarkan, dan diambah-tambahi, sehingga proses pengkambinghitaman terlihat “adil.”

Di tingkat kelompok, "taktik" yang digunakan adalah guilt by association menyamaratakan perilaku seluruh kelompok berdasarkan perilaku sebagian kecil anggota kelompok tersebut. Taktik saya tulis dalam tanda kutip, karena pelaku seringkali tidak menyadari bahwa mereka sedang terlibat dalam proses pengkambinghitaman.

***

Setelah membaca tulisan ini, silakan merenungkan dan meneliti apakah sejarah Indonesia luput dari mekanisme ini? Apakah agama lupa bahwa Tuhan selalu berada di pihak korban bukan di pihak masa yang menggeruduk? Apakah masyarakat sekuler lupa bahwa umat manusia pernah nyaris punah tahun 1983?

Masyarakat modern dihadapkan pada pilihan: terus menggunakan mekanisme kambing hitam untuk menyelesaikan konflik dan menghasilkan kedamaian yang sifatnya sementara atau menyelesaikan konflik dengan cara tanpa kekerasan walaupun sangat sulit

Menyelesaikan konflik tanpa kekerasan adalah pilihan Martin Luther King. Jr, Gandhi, Abul Kalam Azad, Abdul Ghaffar Khan, dan Nelson Mandela. Terlebih lagi, kita sudah memiliki deklarasi HAM. Itu bentuk modern perlindungan terhadap kambing hitam.

Artikel Terkait