Terpilihnya Joe Biden sebagai Presiden AS dan didampingi oleh Kamala Harris, perempuan pertama berkulit hitam dari Asia menjadi Wakil Presiden, merupakan antitesis sempurna dari sosok Donald Trump dan Mike Pence.

Sebagai pengukir sejarah perempuan minoritas pertama sebagai VP, Kamala tentu menjadi trending. Nyaris semua media sosial saya menglorifikasi sosok ini.

Ada sebuah makna yang saya temukan sendiri melihat framing pemberitaan yang mengangkat soal Kamala Harris.

Dalam lima tahun terakhir, ada banyak perempuan dan kaum minoritas berbasis ras juga agama yang mengukir sejarah di skala dunia hingga skala perusahaan. Tak hanya Kamala, bahkan skala Miss Universe 2019 saja diraih oleh Zozibini Tunzi, dia adalah perempuan berkulit hitam dari daratan Afrika.

Saya membaca pola, sebagian masyarakat dunia memang sudah mulai membuka mata terhadap pentingnya menjamin pembangunan masyarakat yang beragam. Cara termudah adalah dengan mendukung kelompok minoritas maju dan memimpin. Bagaimanapun, suasana hidup dan batin minoritas adalah nilai dan koreksi penting untuk mewujudkan pembangunan yang lebih baik, seturut misi SDGs untuk kesetaraan gender.

Namun benarkah semua pencapaian ini semua semata berkat kesempatan dari masyarakat? Bagaimana seorang Kamala Harris mencapai posisi saat ini dan bagaimana dia mengembangkan kapasitas dirinya sebagai minoritas?

Kamala Harris sejak awal sudah menarik perhatian saya karena dia lahir dari pasangan India-Jamaika yang jelas merupakan minoritas tulen di AS masa itu. Dia dibesarkan dalam tradisi Kristen dan juga Hindu. 

Sang ayah, Donald Harris, adalah profesor ekonomi di Stanford University. Sementara sang ibu, Shyamala Gopalan Harris, adalah peneliti biomedis bidang kanker payudara. Orang tua Harris, khususnya sang ibu, memang sudah lama menjadi simpatisan Partai Demokrat. Jadi jangan heran dia pun punya arah politik yang sama dengan orang tuanya.

Pada usia 7 tahun, Kamala Harris dan Maya Harris harus menerima kenyataan pahit perceraian kedua orang tuanya. Harris pun hidup bersama sang ibu.

Dari pola ini, saya bisa mengetahui bahwa meskipun minoritas sebagai kulit hitam di AS, Kamala Harris datang dari latar belakang keluarga terpelajar. Ini adalah sebuah poin penting yang membuat kita harus mengakui bahwa rumah sebagai tempat belajar pertama bagi anak tentu akan sangat memengaruhi pertumbuhan kapasitas dirinya. 

Artinya, Kamala Harris dan Maya Harris sudah hidup dalam sistem dan akses pendidikan yang cukup memadai pada masa itu. Sosok Kamala Harris tidak bisa disamakan dengan perempuan di daerah rural yang mungkin tidak mendapatkan akses pendidikan serupa.

"Makanya, Pak, kalau menurutku anak bisa jadi A, B, C, harus dilihat juga bagaimana proses pendidikan dalam rumah, sekolah, dan pengalaman hidupnya," begitu ocehan saya kepada ayah saya pagi ini sepulang gereja membahas Kamala Harris.

Hal lain yang menginspirasi saya dari sosok Harris adalah kedekatan dia dengan almarhum sang ibu. Banyak orang yang salah mengutip pesan Harris, maka saya lampirkan dalam foto ini. Sejatinya yang mengajarkan Harris untuk melanjutkan perjuangan kesetaraan perempuan adalah ibunya sendiri.

"My mother had saying, Kamala, you may be the first to do many things, but make sure you're not the last," - Shyamala Gopalan Harris.

Hal ini menandakan, pengalaman hidup sebagai perempuan minoritas di AS membuat Shyamala mendidik anak-anaknya menjadi pribadi yang independen dan berani berpikir analitis juga kritis. Dia memandu putri-putrinya mendobrak pintu pengekang pertumbuhan. 

Shyamala yang juga punya pengalaman perceraian tentu menambah dinamika hidup dia dan dua putrinya ini. Pada akhirnya saya percaya, pengalaman hidup akan selalu menjadi guru terbaik bagi pertumbuhan seseorang.

Nah, pengalaman sebagai anak dari orang tua yang bercerai juga diakui menjadi alasan Kamala sangat berhati-hati dalam berkeluarga. Kamala merupakan istri kedua dari pengacara Douglas Emhoff, seorang duda Yahudi dengan dua anak.

Kamala dan Douglas yang memulai perkenalan lewat kencan buta ini sangat berhati-hati sebelum akhirnya menikah. Kamala pun mengakui sudah sangat memahami suasana batin anak yang besar dalam kondisi perceraian orang tua. Dia pun mencoba menjadi ibu tiri yang baik, dan dia sudah kini berhasil mematahkan mitos ibu tiri selalu jahat.

Dari pengalaman hidup Kamala yang dahsyat dan unik, saya pun punya beberapa kesimpulan. Pertama, untuk bisa mewujudkan cita-cita kesetaraan bagi semua perempuan di dunia, harus ada jaminan pendidikan dan orang tua yang sadar penuh pentingnya pendidikan. 

Saya pribadi merasa beruntung punya orang tua, khususnya ibu saya, yang seperti halnya Shyamala Gopalan Harris, banyak mengajarkan dua putrinya untuk berani punya cita-cita dan berani pula mengejar juga meraihnya. Ibu saya adalah perempuan yang mendorong saya untuk mandiri dan berani.

Dua indikator yakni akses pendidikan dan orang tua yang supportif sudah saya dan Kamala miliki, tapi orang lain belum tentu demikian. Jadi terlepas dari cita-cita Harris mengajak anak perempuan untuk mau bermimpi, rasanya kita juga perlu berefleksi sejauh mana kita menjadi support system bagi anak-anak perempuan dalam rumah kita? 

Berikutnya, kita perlu memastikan bahwa akses pendidikan bagi anak perempuan benar terpenuhi bukan sekadar formalitas saja. Orang tua harus menjadin pendengar dan pengarah apa mau anak perempuan, bukan malah memaksakan kehendak kepada anak.

Janganlah jauh ke Amerika, di Indonesia hal ini masih sangat sulit. Selama pandemi, perempuan rentan dengan kekerasan rumah tangga, akibat beban ganda. Selama pandemi, anak perempuan rentan mengalami perkawinan anak. Ihwalnya sederhana, belajar model PJJ tidak bisa diakses dan membuat orang tua menyetujui anak untuk menikah saja daripada belajar.

Dalam temuan akan banyaknya kompleksitas perempuan pada masa pandemi, Kamala Harris tentu hadir sebagai setitik harapan. Namun itu bersifat sesaat, harus ada faktor penicu lain yang bisa membaptis Kamala Harris lainnya.

Kamala-Kamala lain yang tidak hadir dari kelompok elite. Kamala-Kamala lain yang sukses berangkat dari pengalaman suka duka hidup sebagai minoritas. Kamala-Kamala lain yang sudah menjadi pendahulu dan sungguh berjuang membuka akses serta memperbaiki ketimpangan pada sistem pendidikan. Kamala-Kamala lain yang mau menjadi pemandu bagi orang tua dalam pengasuhan anak.

Inilah kenapa saya memberi judul naskah ini, "Pendewasaan sebagai Minoritas." Artinya, Kamala Harris sampai di puncak kekuasaan karena dia telah didewasakan oleh pengalaman sesak dengan ragam identitas minor. Kamala memberi inspirasi bahwa kita tak bisa menerima apakah kita lahir dari rahim ibu golongan minoritas atau tidak, terpelajar atau tidak.

Kita harus belajar menari di tengah badai ketidakadilan tanpa terjatuh. Kita harus menerima fakta menjadi minoritas memerlukan daya ekstra dan nilai lebih dalam berjuang dan berkarya. Tidak bisa berpangku hanya pada kesadaran kolektif masyarakat dan menunggu kesempatan.

Kemenangan itu direbut bukan didapatkan. Dia harus dimulai dengan keyakinan, keberanian, dan diakhiri dengan sengitnya pertarungan. Tentu saja Kamala Harris mengajarkan itu kepada saya melampaui pidato-pidato formalitas soal perempuan dan keberanian bermimpi.

Selamat, Kamala. You did a good work, and I am waiting your innovations to build a better place for women and kids.