Harry, direktur sebuah perusahan desain, suatu sore pulang ke rumah dengan riang. Karen menyambutnya dengan keriangan yang lebih dari biasa. Itu sore menjelang malam Natal. Isteri yang manis dan sabar itu membukakan jas panjang suaminya, dan meraba sesuatu di kantongnya.

Dengan gesit dan tanpa diketahui suaminya ia melihat kotak itu, dan tahu bahwa isinya sebuah kalung. Ia tersenyum bahagia. Ia akan pura-pura tidak tahu hadiah apa yang akan ia dapat dari sang suami, nanti malam.

Malam di ruang tamu, keluarga kecil itu berkumpul. Pohon Natal yang cukup besar tegak di pojokan; lampu-lampu yang menyala di sekujur tubuhnya membuat pohon piramidal seolah itu tersenyum. Saatnya saling bertukar hadiah.

Ketiga anak mereka dengan gembira menerima hadiah-hadiah indah dari sang ayah. Harry lalu menyerahkan kado kecil untuk Karen tercinta. Karen sudah bersiap untuk pura-pura terkejut bahagia mendapat hadiah istimewa yang sudah diketahuinya.

Dan ia terkejut sungguhan ketika membuka kotak yang mirip kotak kalung di jas suaminya itu: sebuah CD album Joni Mitchel, penyanyi favoritnya.

Dengan mengerahkan segenap kemampuan untuk mengendalikan diri, Karen mohon pamit sebentar kepada suami dan anak-anaknya untuk masuk ke kamar.  Ia kembali memeriksa saku jas suaminya. Kotak kalung itu masih di sana. Ia seperti akan meletus membayangkan perempuan mana yang akan  mendapat kalung indah itu dari suaminya.

Foto: www.marieclaire.co.uk

Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya sampai habis. Ia mati-matian membendung airmata, tapi tanggul matanya akhirnya jebol. Karen duduk di bibir ranjang, membungkukkan badan. Ia berjuang sebisa-bisanya untuk menjinakkan gejolak perasaannya. Dan ia tak boleh berlama-lama jika tak ingin anak-anak mencari dan menyusulnya ke kamar.

Sesudah menghapus airmata dan menghilangkan jejak-jejak tangis di matanya, Karen keluar kamar dengan tersenyum dan berbaur kembali dalam pesta Natal keluarga yang riang itu. Anak-anak tak ada yang tahu apa yang sedang terjadi. Apakah Harry sadar tentang apa yang diketahui isterinya? Tak pasti.

Lebih dari sepuluh tahun setelah saya menyaksikan Love Actually, saya masih terkenang akan adegan itu. Dan saya menyimpulkan: hanya Emma Thompson yang sanggup berakting seperti itu.

Kalaupun detail adegan itu ada di skenario yang dibuat Richard Curtis (yang juga sutradara), itu tak mengurangi kekaguman saya pada Emma, salah satu bintang terbesar dalam sejarah film.  Tapi saya cenderung yakin bahwa setidaknya sebagian dari gestur Karen di kamar itu adalah temuan Emma Thompson sendiri.

Tentu tak terbatas kemungkinan yang tersedia bagi akting untuk situasi yang dialami Karen. Dari segala kemungkinan itu, Emma Thompson memilih yang tadi: menarik dan menghembuskan nafas, membelalak-belalakkan mata untuk membendung airmata dan menghilangkan bekas tangis; terduduk dan terbungkuk di tepi tempat tidur…

Dan kita bisa mengerti mengapa ia segelisah itu: rasa sakit hati tak terkira tapi sekaligus ia harus menekannya keras-keras agar tak diketahui anak-anak. Ia harus tampil sebagaimana yang dikenal anak-anaknya: ibu yang sangat baik dan isteri setia yang memilih untuk hanya tinggal di rumah, mengurus rumah tangga dan anak-anak.

Emma Thompson memang tak tertandingi untuk adegan semacam itu. Kita juga tercekat menyaksikan kesedihannya, sebagai Sarah Kenton,  menghadapi cinta yang tak berbalas di The Remains of the Day.

Sebaliknya, kita menyaksikan kecemerlangannya dalam bentuk lain di Pride and Pejudice (ia juga mendapat Oscar untuk skenario yang ditulisnya): ketika ia nyaris sesak nafas karena terharu sambil memukul-mukul lembut perutnya, ketika tahu bahwa lelaki yang dicintainya, yang sudah direlakannya karena pria itu lebih memilih adik yang dikasihinya, ternyata mencintai dia.

Emma Thompson sama cemerlangnya dalam berakting sedih karena menderita maupun terharu karena tak sanggup menampung gelombang kebahagiaan yang tak terkatakan. Tidak ada yang lebih hebat daripada dewi Inggris itu.

Insiden kalung itu sudah dimaafkan tapi tak terlupakan oleh Karen.

Ia berusaha keras untuk kembali menjalankan kehidupan rumah tangga senormal sebelumnya, meski ia tahu itu tak mungkin.

Kepada Harry (Alan Rickman) yang kemudian mengaku betapa bodohnya ia, Karen menyatakan: “Tindakanmu bukan hanya melecehkan perkawinan kita dan diri saya, tapi juga meremehkan pilihan yang sudah saya tetapkan dalam menjalani hidup” – menjadi ibu rumah tangga semata.

Ibu rumah tangga. Status yang selalu diberi predikat “hanya” di depannya ini memang kerap disalahpahami dan dimanfaatkan sebagai peluang oleh banyak suami untuk melakukan banyak hal yang mereka duga tak akan diketahui oleh isteri.