Ia terus mencari dan mencari pusat dari kebenaran itu. Sumur kebenaran satu dengan yang lainnya sudah ia jamah satu per satu tanpa satu pun yang terlewatkan. He didn’t skip anything, although only one hole, no one was skipped by him. He didn’t!

Tetapi semakin ia mencari, justru wujud, sketsa dan gambaran tuhan semakin menjauh dari imaginasinya. Lantas, setelah kembali dari rantaiannya mencari Tuhan, ia memutuskan untuk membuang tasbih dan salib yang sudah hampir empat tahun melingkar di tangan kanan dan lehernya. Kini, ia sudah bisa tersenyum kembali, walau tanpa Tuhan”

Ia adalah seorang lelaki tampan dengan kecerdasan yang sungguh luar biasa. Setiap harinya selalu bergelut dengan angka-angka yang begitu gila, you may just say all crazy number along the day, from Monday to Monday and repeated again and again like a roller coaster.

Keseharianya dipenuhi dengan hal-hal yang berbau sangat serius. Ia bekerja dengan penuh semangat dan motivasi. Ia sama seperti manusia biasanya, hanya saja ia berkalung salib dan bergelang tasbih.

That was really strange, wasn’t it? Namun itulah yang terjadi. Terlahir dari keluarga yang sangat independent, membuat otak dan pikirannya berkembang begitu pesat. Begitu pula dengan imaginasinya.

Ia memiliki imaginasi yang out of the box, out of the expectation of human being. Itulah salah satu alasan ia mampu terpilih sebagai salah satu petinggi di sebuah bank yang begitu ternama sebagai seorang auditor yang ditakuti seantero kota Jakarta.

Umurnya masih sangat muda, hanya dua puluhan, but for achievement, he nailed it. He was so aggressive about it. For him, being strong shouldn’t wait your age in the limit of the border.

Ia begitu ambisius, bahkan ketika mengenyam bangku senior high school and university, para guru dan dosen sampai kewalahan menghadapinya. Otaknya begitu cerdas. Tuhan begitu sempurna menciptakan hidup dan raganya. Wait a moment! God? Unfortunately, ia sudah tak memiliki tuhan. He has no god right now.

Sejak empat tahun yang lalu, Ia mengalami delima yang begitu keras mengenai tuhan. The existence of god for this world. Selama pada masa itu, otaknya sudah tak dijejali lagi dengan angka-angka gila pada laporan hasil audit financial statement, namun sudah mengarah kepada hal yang lebih gila lagi. It’s more than just number, auditing and accounting, but now it is about the existing, Do I have god?

Bukankah itu gila? Don’t you think that he’s still sober? Are too much numbers in his life made him so insane? Tidak. Ia justru sedang mengasah ketajaman analisanya terhadap keberadaan tuhan. Ia sudah muak diperbudak oleh imaginasinya yang liar akan keberadaan tuhan. Hingga akhirnya sebelum memilih meninggalkan tuhan, ia memilih mengenakan gelang tasbih dan kalung salib untuk membuatnya semakin yakin akan the existence of god. But the result is zero, he found nothing about god.

Paginya ia tak pernah melewatkan salat subuh dan membaca surat al-Mulk yang berjumlah 30 ayat. Duha di sela-sela jadwal Auditing yang begitu padat tak pernah dilewatkannya. Ia bahkan lebih rajin dibandingkan dengan rekan-rekannya yang sering menceramahi orang lain untuk tunduk kepada tuhan.

Namun, ia tidak hanya sembahyang. Minggu paginya pun ia tak pernah melewatkan jadwal ke gereja katolik. Itu semua dilakukannya untuk mencari sebuah kesejahteraan yang hakiki. But it is still nothing, like you produce something with much material, but you found no product in the end of the process. 

Yesus tak pernah luput dari ucapan bibirnya. Kalung salib tak pernah lupa di kecup sebelum melangkahkan kakinya menuju kantor yang memiliki 140 lantai itu. Tak lupa, setelah sampai di tempat kerja, ia membaca “Bismillah” agar pekerjaan auditnya berjalan dengan lancar.

Hoping so much, so that the god always bless him in every inch of his step. But again-and again, the result is still nothing. No progress about his life. It’s like zero move to zero, not even going to minus. Still in stuck without moving. 

Hingga akhirnya ia mulai gerah dengan segala skenario kehidupannya sendiri. Ia sudah muak dengan segala settingan hidup yang telah dibuatnya sendiri dengan imajinasi dan kepintarannya sendiri pula. Ia kemudian bertekad untuk menggugat tuhan dengan segala kekuatan dan kepintarannya.

Ia bisa membabat habis seluruh fraud case yang ditemukan dalam audit finding nya. Lantas, bukankah tuhan juga akan lebih mudah juga ditaklukkan olehnya? He’s so smart, isn’t he? 

But the result is still zero. Semakin ia mencari keberadaan tuhan itu sendiri, ia justru semakin merasa tertipu dengan the existence of god. He wants to say that god is created by imagination. And of course, for his tough, man isn’t created by god. Ia menyumpahi kebodohannya selama ini di saat usianya sudah 24 tahun, ternyata selama 20 tahun lebih ia telah dibohongi oleh dalil-dalil suci tentang the existence of god. God is not here, and never here. Human was making god by his own imagination.

Matanya merah, jantungya berdetak begitu kencang. Ia sungguh benar-benar merasa telah dibohongi selama ini. Semua waktu yang ternyata selama ini ia gunakan untuk menyembah ternyata hanyalah sebuah kesia-siaan semata. Ia merasa getting nothing for all of his sacrifices to the god. It was just wasting his time.

Ia benar-benar marah terhadap kebodohannya selama ini. Mengapa ia harus berzikir dan bersujud setiap malam, menyembah yesus dan membuat pola salib setiap hari namun ternyata yang disembah tidak pernah ada? Ia sungguh benar-benar menyesal telak melakukannya. Dunia ternyata telah berkhianat kepadanya. All part in this world like betrayed him so well, and yeah succeeded. 

Dan kini, setelah semua kejadian yang telah dialaminya akan the adventure to find the god. Kalung salib yang selama ini melingkar di lehernya di patahkannya dengan enteng tanpa beban.

Tasbih 99 butir yang selama ini menemaninya untuk berzikir pun di cabik-cabiknya hingga akhirnya terputus dan memencar kemana-mana. Tak lupa, diinjaknya sebagai bentuk rasa marah dan balas dendamnya atas kebodohannya yang selama ini dilaluinya. It was really stupid moment for him.

Akhirnya, kini ia sudah tak bertuhan lagi. Ia memilih untuk menjadi seorang ateis. Dengan kekayaan melimpah dan otak yang sangat pintar. Ia tak perlu lagi wasting his very important hour just for bullshit thing and something that never producing money for his life. Setelah tasbih dan salib itu resmi terlepas dari hidupnya, kini hidupnya terasa sangat bahagia.

Setiap hari itu selalu tersenyum dan semakin produktif dalam bekerja. Day by the, he became smart and smarter again. Ia merasa akan hidup bahagia selamanya, melampaui cerita di negeri dongeng. And about God? Is there really any god on this planet? Shit, don’t play too much with your imagination!