52671.jpg
Politik · 2 menit baca

Kalkulus Demokrasi

Bila 100 persen pemilih itu ignorant apakah demokrasi bisa berjalan dengan baik? Orang yang ignorant pilihannya akan acak, seperti menghitung kancing. Siapa yang bakal menang ya acak saja. Jadi, memang benar kalau 100 persen pemilih, ignorant, buta sejarah, buta politik, tidak ada harapan untuk demokrasi. Pelanggar HAM dan perampok uang rakyat akan dengan mudah bisa naik.

Untungnya dalam demokrasi tidak perlu 100 persen pemilih harus well informed. Kalau 1 persen saja well informed dan memilih secara rasional dan bijak kira-kira bagaimana hasil demokrasi? Masing-masing kandidat akan mengabaikan 49.5 persen yang memilih secara random dan fokus memperebutkan yang 1 persen. 

Akibatnya, demokrasi akan ditentukan hanya oleh 1 persen yang bijak itu. Satu persen pemilih yang bijak itu akan mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang track record kandidat, menyimak baik-baik debat politik dan memutuskan pilihannya. Demokrasi yang hanya ditentukan oleh 1 persen yang bijak ini mirip ideal Plato, government by the wise

***

Itu teori indah-nya. Meme yang berseliweran di medsos "never underestimate the power of stupid people in large groups" merupakan kritik populer terhadap skenario di atas. Asumsi bahwa pemilih yang buta politik memilih secara random tidak selalu benar. Masih lebih baik jika 99 persen pemilih memilih secara acak. Akan menjadi masalah ketika terdapat bias secara umum, misalnya bias SARA, bias nasionalisme sempit, bias anti asing.

Pertimbangkan skenario seperti ini: 51 persen pemilih bias rasis, 48 persen pemilih tidak rasis, 1 persen yang bijak bisa menilai apakah suatu isyu itu esensinya rasisme atau bukan dan memilih tidak berdasar ras. Tetap saja yang bias rasis yang akan menentukan hasil pemilu. Satu persen pemilih bijak tetap gagal "nyetir" hasil demokrasi.

Jadi, dalam demokrasi tidak mutlak mayoritas harus well informed, demokrasi tetap bisa berjalan dengan baik jika terdapat minoritas bijak. Ini membantah berbagai pesan anti-demokrasi yang menjual pesan "negara miskin tidak siap berdemokrasi." 

Kedua, tentu saja, pesean klise, pendidikan bagi masyarakat tetap penting untuk menghindari bias-bias yang merusak. Ketiga, bias-bias ini juga tidak statis, Jerman, misalnya, yang dulu mayoritas rasis, belajar dari kesalahan sejarah, menjadi tidak serasis sebelumnya, atau malah menentang rasisme. Keempat, di era sosmed, informasi melimpah dan mudah didapat. 

Tetapi, sisi buruknya, orang dengan mudah bisa menciptakan gelembungnya sendiri. Misalnya dengan memblok, mute, unfriend follower yang tidak sepikiran. Kecenderungan menciptakan gelembung pribadi ini diperburuk dengan hoax yang bebas berseliweran

Sudah dilakukan penelitian bahwa algoritma mesin pencari Google dan usul pertemanan di Twitter semakin memperkuat gelembung bias konfirmasi. Bias merajalela dan menghasilkan Brexit dan Trump. Demokrasi tetap sistim terbaik, namun tidak bisa taken for granted. Harus terus menerus dirawat.