Legal Officer
1 bulan lalu · 238 view · 7 min baca menit baca · Olahraga 64090_66176.jpg
Goal.com

Kalkulasi Zidane Menggantikan Allegri di Juventus

Rumor panas selama beberapa pekan terakhir terjawab sudah. Massimiliano Allegri, pelatih Juventus, resmi mengundurkan diri. Pelatih yang sudah memberi lima gelar scudetto Serie A dan empat Copa Italia tersebut hanya akan mendampingi Juve sampai laga terakhir melawan Sampdoria (26/05).

Sementara di Semenanjung Iberia, Zinedine Zidane gagal memperbaiki performa Real Madrid. Mantan gelandang legenda Juventus itu hanya mampu mengumpulkan 17 dari kemungkinan 33 poin. Akumulasi poin tersebut lebih buruk dibanding Santiago Solari. Solari adalah pelatih yang digantikan Zidane.

Solari mengumpulkan 12 kemenangan, sekali seri dan empat kali kalah selama menangani Madrid. Total pria Argentina itumengumpulkan 72.54% poin. Andaikan Ajax tidak membantai 4-0 Madrid di Barnebeu, mungkin Solari masih bertahan.

Sedang Zidane, hanya sanggup memberi lima kemenangan, dua hasil seri dan menderita empat kekalahan. Persentase poin mantan playmaker timnas Prancis tersebut hanya 51.51%. Untung saja Madrid tetap bertahan di zona Liga Champions La Liga pada akhir musim ini.

Sebelum memutuskan kembali menangani Real Madird pada pertengahan akhir musim ini, rumor Zidane bertugas di Alllianz Stadium, markas Juventus, sudah berhembus kencang. Setelah Allegri pergi, bagaimana peluang Zidane melatih Juventus?

Alasan Kepergian Allegri 

Kepergian Allegri tentu cukup menimbulkan efek kejut. Lima scudetto beruntun dan empat Copa Italia tidak cukup menjamin Allegri bertahan di Allianz Stadium. Kegagalan Juventus menjuarai Liga Champions menjadi alasan yang masuk akal.

Setelah menguasai Italia dalam beberapa musim berturut-turut, Juventus belum kunjung menguasai Eropa. Bahkan, kegagalan La Vecchia Signora mempertahankan Copa Italia musim ini, menguatkan sinyal stagnasi tim.


Selain dugaan alasan di permukaan tersebut, Calciomercato menyebut setidaknya ada tiga alasan utama kepergian Allegri. Alasan yang membuat direksi Juve seperti Pavel Nedved, Fabio Paratichi dan Andrea Agnelli memutuskan inilah saat yang tepat untuk memulai era baru Juventus.

Pertama, friksi dalam kebijakan transfer. Allegri membutuhkan satu bek tengah kelas dunia, bek saua[ andal, tambahan gelandang untuk mengantisipasi kepergian Pjanic dan Khedira. Mantan pelatih Cagliari itu juga meminta seorang striker muda.

Penampilan inkonsisten Joao Cancelo, Miralem Pjanic dan Paulo Dybala memasukkan mereka ke dalam daftar jual Allegri. Mantan pelatih Cagliari tersebut menginginkan pemain baru dari hasil penjualan tiga pemain tersebut. Sementara direksi Juventus berpendapat lain. 

Kedua, pengaruh pemain. Tindakan indisipliner Douglas Costa sudah membuat Allegri merasa dongkol. Geladang Brazil tersebut pernah dihukum akibat meludahi pemain Sassuolo, Federico Di Francesco. Demikian pula Mario Mandzukic dan Joao Cancelo. Perilaku kedua pemain itu juga mengecewakan Allegri. 

Konflik di antara pemain dan pelatih sebenarnya wajar terjadi. Namun ketegantan di ruang ganti Juve tidak mampu diselesaikan Allegri dan pemain. Intervensi manajemen Juve, dikabarkan menjadi pemutus pilihan direksi dalam pilihan antara Allegri atau pemain.

Ketiga, hubungan dengan pendukung. Relasi Allegri dengan para pendukung Juventus memang tidak selamanya mesra. Keputusannya menutup akun media sosial untuk menghindari hujatan beberapa fans, telah mendidihkan hubungannya dengan Juventini. Allegri dipersepsikan tidak tahan menerima kritik.

Kemungkinan Zidane Melatih Juventus

Latar belakang Zidane, membuat namanya mencuat sebagai pengganti Allegri. Setidaknya, ada enam alasan yang memungkinkan Zidane pindah dari Madrid ke Turin menggantikan Max Allegri musim depan.

Pertama, kabar Zidane melatih Juve sudah sejak lama. Sejak Desember 2018 hingga Januari 2019 berhembus kencang kabar Zidane akan melatih Juventus sedangkan Allegri bakal menangani Madrid. Maret lalu pun, Zidane pernah dikabarkan menolak Madrid. Rumor yang akhirnya terbantahkan.

Bukan hanya sebagai pelatih, Zidane juga pernah dikabarkan akan ditunjuk sebagai direktur sepakbola dan CEO Juventus. Kabar itu beredar pada bulan September hingga Desember 2018. Tampaknya, direksi serius menghargai kemampuan manajerial  mantan pemain terbaik dunia 1998 saat masih bermain untuk Juve tersebut.

Kedua, Juve membutuhkan gelar Liga Champions. Sedangkan Zidane tiga kali berturut-turut mempersembahkan Liga Champions untuk Real Madrid dari musim 2015/2016 hingga musim 2017/2018.

Sementara, Juve belum pernah lagi menjadi juara Eropa sejak menjuarai Liga Champions musim 1995/1996. Mencengkram kuasa di kompetisi domestik ternyata belum berlanjut di Eropa. Padahal Juve menjadi raja Italia sejak era Antonio Conte (musim 2011/2012) hingga Allegri (musim 2018/2019). Allegri hanya sanggup membawa Juve ke final. Yakni pada musim 2014/2015 dan musim 2016/2017.

Zidane punya reputasi tak terbantahkan menjuarai Liga Champions. Ia memenangkan gelar paling bergengsi di Eropa tersebut sebagai pemain dan pelatih. Pada titik ini, Zidane bisa memenuhi kebutuhan Juventus. Juve bisa berharap tangan dingin Zidane membawa Liga Champions ke Turin.

Ketiga, Juventus dan Serie A memberi tantangan baru bagi Zidane. Zidane sudah terbukti memberi gelar La Liga 2016/2017 berikut hattrick Liga Champions bagi Real Madrid.

Guna menegaskan kehebatannya sebagai pelatih, Zidane memerlukan tantangan baru di luar Spanyol. Sebagaimana Guardiola membuktikan kompetensinya sebagai pelatih kelas satu di Barcelona, Bayern Munich dan Manchester City.


Melatih Juventus di kompetisi Serie A Italia, menjadi tantangan realistis bagi Zidane. Menantang karena Zidane belum pernah melatih tim selain Real Madrid dan di luar Spanyol. Realistis karena Zidane pernah bermain di Juventus. Ia punya pengalaman berkompetisi di Serie A.

Keempat, tifosi Juventus menyukai Zidane. Tuttosport melaporkan pendukung La Vecchia Signora memimpikan Zidane melatih Juve.  Tiga kali beruntun menjuarai Liga Champions dan harapan membangkitkan penampilan Ronaldo, menjadi alasan fans Juve.

Kelima, Zidane sendiri memberi kemungkinan pindah bila tidak diberi otoritas penuh memilih pemain Madrid. Dalam wawancara sebelum melawan Real Betis (18/05), Zidane menegaskan bahwa dialah yang berhak menentukan pemain.

Bila otoritas menentukan pemain dan reorganisasi tim tidak berada penuh di tangannya, maka Zidane akan pergi dari Real Madrid. Sudah rahasia umum bahwa Presiden Madrid Florentino Perez sering mengintervensi urusan teknis tim.

Kerentanan hubungan Zidane dan Perez dalam isu otoritas ini yang menjadi celah Zidane pergi ke Turin. Kontrak dengan Real Madrid bisa saja diakhiri di tengah jalan. Meskipun jangka waktunya baru berakhir pada  tahun 2022.

Keenam, peraturan pajak Italia tahun ini memungkinkan pajak yang harus dibayar pekerja asing jauh lebih kecil daripada pekerja lokal. Pendapatan Zidane, jika melatih Juve, akan relatif lebih utuh dengan peraturan pajak terbaru tersebut.

Ketidakmungkinan Zidane Melatih Juventus

Selain enam kemungkinan di atas, setidaknya ada dua pertimbangan yang dapat menutup peluang Zidane melatih Juventus.  Pertama, kontrak Zidane dengan Real Madrid berjangka waktu sampai dengan 30 Juni 2022. Setelah meninggalkan Madrid akhir musim lalu, Zidane kembali ke Santiago Barnebeu pada pertengahan Maret 2019 ini.

Madrid kabarnya menjanjikan 300 juta euro kepada Zidane untuk merombak tim. Penjualan beberapa pemain bintang diprediksi akan menghasilkan 200 milyar euro. Sedangkan Presiden Florentino Perez akan memberi sisa 100 milyar euro.

Bila Zidane diberi wewenang penuh menyeleksi pemain dan didukung secara finansial, maka sangat mungkin ia akan bertahan di Real Madrid musim depan. Peluang Zidane melatih Juventus tertutup. Adapun wewenang dan dukungan finansial, sangat bergantung pada keputusan Florentino Perez, presiden Madrid.  

Rumor Simone Inzaghi atau Maurizio Sarri menjadi alasan kedua yang dapat menutup peluang Zidane melatih Juve. Memenangkan Copa Italia 2018/2019 untuk Lazio, Simone Inzaghi kini menjadi pelatih muda paling diperhitungkan di Italia.

Sebagai mantan striker, pendekatan taktik Inzaghi yang lebih menyerang dibanding Allegri konon memikat jajaran direksi Juventus. Kontraknya bersama Lazio, hanya sampai Juni 2020. Ia pun tidak menolak kemungkinan pindah. Direktur olahraga Lazio, Igli Tare, pun belum mengkonfirmasi atau membantah soal kabar kepindahan Inzaghi.

Dari seberang selat Channel, Maurizio Sarri dikabarkan makin dekat untuk menggantikan Allegri. Sekalipun tanpa rincian berita, rumor tersebut bersumber dari Alfredo Pedulla. Pedulla adalah wartawan Sportitalia yang punya hubungan dekat dengan Sarri.

Awal musim 2018/2019, Pedulla pula yang pertama kali mengabarkan kepindahan Sarri ke Chelsea. Pintu keluar Sarri dari Stamford Bridge memang terbuka lebar. Musim ini Chelsea gagal menjuarai Liga Inggris.

Klub milik Roman Abramovic itu pun dalam ancaman larangan melakukan kegiatan transfer pemain. Hukuman tesebut dijatuhkan oleh FIFA. Sebabnya, Chelsea membeli dan mendaftarkan ke dalam skuadnya, seorang pemaindi bawah 18 tahun. Sampai saat ini, masih belum dibuka identitas pemain yang dimaksud.

Chelsea masih melakukan upaya hukum atas hukuman FIFA tersebut ke arbitrase olahraga. Bila upaya hukum tersebut gagal, Chelsea takkan bisa membeli atau menjual pemain pada bursa transfer musim panas 2019 dan musim dingin 2020.

Chelsea hanya bisa memulangkan pemain-pemain yang sedang dipinjamkan ke klub lain. Jikapun bertahan di Chelsea, Sarri tidak akan mampu merekonstruksi ulang tim asuhannya. Akan sangat sulit bagi Sarri mempersembahkan gelar bagi Chelsea bila ia tidak bisa menjual pemain di bawah performa dan membeli pemain baru.

Kabar mengejutkan terkini, menyebutkan, Emma Hayes akan menggantikan Sarri. Hayes adalah pelatih tim perempuan Chelsea. Selain Hayes, Frank Lampard pun digosipkan akan ditunjuk menggantikan Sarri. Lampard adalah mantan gelandang legendaris Chelsea.

Rangkaian rumor ini mengikuti pernyataan  Sarri  tentang ketidakyakinan terhadap masa depannya di Chelsea. Sarri menyatakan hal tersebut pasca laga terakhir Liga Inggris melawan Leicester City (12/05).  

Kecil Tapi Mungkin

Hingga saat ini, atmosfer direksi Juventus masih tenang tapi serius. Wakil Presiden Juventus, Pavel Nedved dan Direktur Olahrga, Fabio Paratichi, tampak sabar memilih pelatih Juventus musim depan. Nedved belum menolak atau mengkonfirmasi kemungkinan Sarri atau Inzaghi melatih Juve.

Kedua direktur Juventus tersebut hanya menegaskan mempunyai ide yang jelas dalam memilih pengganti Allegri. Mereka mengatakan saat ini, dengan kalem, sedang mengevaluasi para kandidat pengganti Massimiliano Allegri.

Di satu sisi, setidaknya terdapat enam alasan yang memungkinkan Zidane melatih Juve musim depan. Di sisi lain, bila melihat kabar intensitas kontak Juventus dengan Simone Inzaghi dan Maurizio Sarri, serta kontrak Zidane yang baru berakhir tiga tahun lagi, tampaknya kemungkinan kecil Zidane akan melatih Juventus musim depan.


Hingga tulisan ini diselesaikan, peluang Simone Inzaghi atau Maurizio Sarri melatih Juventus lebih kuat dibanding Zinedine Zidane. Namun, sebelum Juve resmi menunjuk pengganti Massimiliano Allegri, peluang pendukung Juve melihat Zidane di bangku pelatih musim 2019/2020 masih terbuka. Walaupun kecil.

Sumber:

https://as.com/

https://www.calciomercato.com/en

https://www.football-italia.net/

https://www.marca.com/en/

https://www.skysports.com/football

Artikel Terkait