…banyak pilihan dalam deretan artikel menarik, sebagai karya tulis dari para penulis…

Tahun 2021 telah berlalu, berganti tahun 2022 penuh harapan baru.

Saya bergabung dengan Qureta sejak September 2021, atas rekomendasi sahabat wanita, seorang adik kelas yang saya kagumi, semasa kuliah merajut wawasan dan pengetahuan pada bidang ilmu pasti alam.

Luar biasa! Saya langsung menemukan dunia saya, membaca dan menulis.

Pertama kali mengakses situs Qureta setelah mendaftar dan bergabung, login melalui telepon pintar, saya melihat banyak pilihan dalam deretan artikel menarik, sebagai karya tulis dari para penulis, baik terbaru, terproduktif maupun terlaris.

Pilihan topik-topik artikel pun tertata rapi di baris pojok kiri atas sampai kanan, mulai dari Politik, Ekonomi, Hukum, Saintek, Perempuan, Keluarga dan Olah Raga.

Ketujuh kolom topik tersebut, selengkapnya dihimpun bersama topik-topik lain, dalam kolom Lainnya, yang berisi kumpulan beragam tema artikel mulai dari Agama, Budaya, Buku, Cerpen, Ekonomi, Filsafat, Gaya Hidup, Hiburan, Kuliner, Wisata hingga Sosok.



Ketiga tulisan tersebut, memacu saya bercita-cita, untuk suatu saat nanti mengirim tulisan-tulisan kepada tim Qureta.

Suka Saintek

Sempat bingung saya memilah dan memilih karya tulis di Qureta, melalui telepon pintar yang saya pegang. Pertama saya mencoba klik kolom tautan karya-karya tulis bertema kesukaan saya, Saintek, Sains dan Teknologi.

Saking melimpahnya karya tulis yang tersaji, maka lagi-lagi saya bingung memilih artikel mana yang sesuai dengan minat saya untuk menambah wawasan tentang Saintek. Khususnya artikel-artikel dibidang yang terkait dengan pengetahuan tentang kimia, fisika modern, mekanika kuantum dan mikro serta makro kosmis.

Ada tiga tulisan lingkup Saintek yang menarik perhatian saya, yakni Ikhtiar Mamahami Semesta Einstein, Mekanika Kuantum yang (Mungkin) Berbahaya bagi Keyakinan Anda dan Apa itu Materi Gelap?

Ketiga tulisan tersebut, memacu saya bercita-cita, untuk suatu saat nanti mengirim tulisan-tulisan kepada tim Qureta.

Waktu itu saya belum ngeh makna dari karya-karya tulis yang tampil di beranda.

Tulisan-tulisan berhias foto-foto halaman muka yang memikat pandangan (eyecatch), secara spesifik diakumulasi sebagai tulisan yang memiliki kriteria tertentu, yang tercantum dalam baris-baris kriteria di bawahnya.

Ternyata, setiap tulisan yang tampil di beranda, adalah hasil karya yang mendapat kehormatan, hasil dari proses Moderasi oleh tim Qureta. Setiap tulisan yang tampil di beranda, yang pada awalnya memiliki tema sebagai topik apapun mulai dari Agama hingga Sosok, bakal mendapat kriteria Aktual, Fiksi dan Inspiratif.



…esensi gagasan dalam setiap tulisan, sebagai karya literasi, memiliki peluang untuk dibaca oleh banyak orang sejagat raya…

Dunia Bisa Berubah Karena Tulisan

Perpaduan antara foto halaman muka yang eyecatch, serta kualitas isi tulisan yang teruji melalui sebuah proses Moderasi, membuat setiap tulisan yang tampil di beranda, adalah karya-karya tulis yang berpeluang mendapat klik sebagai bahan bacaan menarik, bagi setiap orang yang mengakses situs Qureta, melalui gawai elektronik yang disandangnya.

Lalu, jumlah artikel yang terbaca oleh setiap pengunjung situs Qureta, bakal menjadi penilaian, setidaknya bagi diri sendiri sang penulis, tentang keberterimaan tulisan yang dikirimkan, yang melalui akses situs Qureta, menjadi bahan bacaan bagi publik.

Tak hanya bisa dibaca secara daring, maka setiap tulisan yang telah terbit juga bisa disebar dalam bentuk paket kemasan hak cipta (Copyright) Qureta, ke aplikasi media sosial  (medsos), seperti Whatsapp, Facebook, Twiter hingga Linkedin.

Semangat setiap penulis untuk berbagi ide, yang menjadi satu nilai dalam forum Qureta, mendapat peluang yang lebih luas pula dengan fasilitas berbagi ke berbagai aplikasi medsos.

Mulai dari medsos yang bersifat;

  • Berbagi pesan-pesan pribadi maupun group, yakni Whatsapp,
  • Ruang pamer gaya hidup dan ungkapan pikiran pada ‘dinding’ pesan kepada setiap teman, yakni Facebook,
  • Forum berceloteh tentang banyak hal dari pemilik akun kepada setiap pengikutnya, yakni Twiter, hingga
  • Forum berbagi materi tulisan yang sekaligus menunjukkan kecakapan profesi, guna melengkapi pengakuan sekaligus pencarian bakat profesional dalam dunia kerja, yakni Linkedin.

Dengan demikian, setiap gagasan tertulis, yang dinilai bisa menjadi;

  • Topik obrolan ringan yang menambah wawasan secara umum, atau
  • Ide baru yang dinilai bisa menjadi bahan pamer kapasitas intelektual, atau
  • Media curahan hati terhadap apa-apa saja yang dihadapi, yang sesuai dengan kondisi terkini, hingga
  • Media yang melengkapi bakat agar menjadi tambahan referensi untuk mendapat rekomendasi sebagai orang yang tepat menjalani suatu profesi,

maka ke semua itu dalam situs Qureta, telah difasilitasi.

Poin utama dari fasilitas berbagi pada banyak aplikasi medsos yang disediakan oleh Qureta adalah, bahwa esensi gagasan dalam setiap tulisan, sebagai karya literasi, memiliki peluang untuk dibaca oleh banyak orang sejagat raya, dalam dunia maya.

Tentu, gagasan yang disebar dalam bentuk literasi, bakal menjadi penilaian talenta atas seorang penulis, oleh publik. Kelak, karena perjalanan takdir tak ada yang pernah tahu, maka siapa tahu, satu dari banyak gagasan penulis Qureta bisa mengubah tatanan dunia.



Termasuk, belajar mematuhi aturan-aturan penulisan dalam tatanan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).

Bolak-Balik Ditolak

Sistem penilaian atas setiap tulisan yang dikirim oleh penulis, siapa saja dan berlatar belakang apa saja, yang lalu terpilih menjadi tulisan berkategori beranda sekaligus terpilah menjadi kriteria Aktual, Inspiratif maupun Fiksi, melalui mekanisme Moderasi yang fair, menambah minat saya untuk mengirim karya tulis ke situs Qureta.

Ternyata tak mudah! Lebih tepatnya, menantang.

Beberapa kali saya mengirim tulisan dengan judul yang sama, maupun berbeda pada akhir September 2021, selalu dikembalikan dengan pesan utama dari Admin Qureta adalah; ‘Naskah Anda belum layak terbit. Silakan perbaiki lagi atau kirim naskah yang lain’.

‘Mak deg!’ Jantung saya berdetak demi membaca pesan demikian.

Kira-kira saya keliru menulis di bagian apa? Sehingga gagal terbit dalam situs Qureta.

Saya coba kirim lagi dengan perbaikan kata maupun kalimat dalam tulisan, bahkan mencoba mengirim lagi tulisan dengan topik yang berbeda.

Besoknya, jawaban Admin Qureta sama seperti tersebut di atas.

Lagi-lagi ‘Mak Deg!’ Jantung saya berdetak lebih keras, demi membaca jawaban demikian.

Saya pun memutuskan untuk membaca tulisan-tulisan dalam Qureta yang memiliki kategori terpopuler dan masuk beranda. Juga, beberapa karya tulis yang meski tak masuk beranda namun lulus dipublikasi oleh tim Qureta.

Saya coba memaknai, judul, sub judul, kata, kalimat, paragraf beserta esensi tulisan, sebagai pembanding tulisan-tulisan yang saya kirim, namun tertolak, tak lulus Moderasi tim Qureta.

Lho, kok?!” Gumam saya dalam hati.

“Tulisan-tulisan yang terbit, ada yang biasa-biasa aja kok.” Saya lanjut menggumam, masih dalam hati, hingga dua kali ‘kok’.

“Ini pasti ada yang nggak beres.” Naluri auditor mutu saya mulai memberontak.

Sebagai hasil pemaknaan tulisan-tulisan lulus Moderasi, lalu draft tulisan saya dalam bilik Tulisanku yang tadinya tertolak, saya coba perbaiki lagi. Kemudian saya kirim lagi ke Admin Qureta agar termoderasi.

Saya tunggu sekitar sehari, ada pesan balik dari Admin Qureta. Tulisan yang saya kirim masih ditolak lagi. Namun kali ini lebih spesifik pesan yang disampaikan, yakni; ‘Pelajari tulisan-tulisan yang telah terbit’.

Lho! Sudah.” Jawab saya, dalam hati lagi. Saya mencoba tak berkata-kata karena sedang membaca pesan tim Qureta melalui telepon pintar.

Saya coba baca-baca lagi sebagian arsip artikel tulisan para penulis terproduktif. Lalu saya bandingkan dengan tulisan saya yang lagi-lagi tertolak Admin Qureta.

“Perasaan nggak ada masalah. Kok lagi-lagi ditolak?” Saya mulai merasa tak terima. Tapi saya masih berusaha bersabar dan tabah, buah dari banyak penolakan cinta semasa masih jadi mahasiswa.

Saya pun tak lelah mencoba dan mencoba memperbaiki lagi isi draft tulisan saya yang bolak-balik tertolak oleh Moderasi tim Qureta. Tak hanya itu, saya pun membaca-baca lagi artikel-artikel penulis lain yang lulus Moderasi Qureta, baik tulisan baru maupun lama.

Tetap saya merasa sama seperti sebelumnya, tak ada kejanggalan dalam draft tulisan saya. Mulai dari cara penulisan judul dan sub judul, pengetikan yang minim kesalahan huruf, jarak antar alenia, pilihan besar huruf, setiap kata juga saya upayakan punya makna sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Apabila ada kata-kata yang tak memiliki makna dalam KBBI, namun perlu tetap digunakan sebagai kata penyempurna kalimat tulisan, maka saya selalu membuatnya terketik miring. Termasuk, belajar mematuhi aturan-aturan penulisan dalam tatanan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).

Lebih penting lagi, tiada kata maupun kalimat dalam tulisan saya yang mengandung unsur-unsur menyinggung SARA ASHARI SEKSI POL (Suku, Ras, Agama, ASal usul, HArga diRI, SEKs, SIndikasi, POLitisasi).

Semua hal yang disarankan oleh tim Qureta waktu itu ataupun hal-hal yang menjadi syarat agar tulisan saya lulus Moderasi dan terbit dalam situs Qureta, sudah saya upayakan telah terpenuhi.

“Lalu, apalagi ya kekurangannya?” Tanya saya lagi dalam hati, sambil menekuri masa lalu saya, yang sejak muda suka mengintrospeksi diri.

Bodo amat ah! Nih tak kirim lagi ini tulisan!” Tekad saya yang memang sedari muda tak hanya suka merenungi diri sendiri. Namun juga cenderung kepala batu, nyaris stubborn.



Sebuah piranti elektronik yang memiliki tingkatan tua bangka lebih parah dibanding iPhone 5S sebetulnya.

Gegara Gawai Tua Bangka

Kiriman ulang draft tulisan saya kali ini, mendapat respon cepat oleh Admin Qureta. Tak sampai setengah sehari, saya mendapat pesan konfirmasi melalui surel yang menyarankan agar saya menata format tulisan dan melihat lagi draft tulisan dalam bentuk  tampilan, pada telepon pintar.

Aha! Saya langsung menemukan solusi, sekaligus dapat jawaban mengapa draft tulisan saya ditolak puluhan kali.

Pada menu penulisan draft, saya tak menemukan menu ‘Lihat Tulisan’, dalam telepon pintar yang saya gunakan, yakni iPhone 5S, seri iOS 12.5.5, yang saya beli hampir 7 tahun-an lalu.

Artinya, saya harus melihat draft tulisan yang siap kirim, pada menu ‘Lihat Tulisan’ dalam fasilitas menulis yang disediakan Qureta, melalui laptop. Bukan dari sebuah telepon pintar tua bangka.

Menyadari itu semua, segera saya ambil laptop andalan saya satu-satunya, merk Toshiba seri NB520, yang di dalamnya tersemat kecerdasan intel Atom inside, sistem operasi Window 7, yang saya peroleh cuma-cuma dari dealer sebuah produsen otomotif pada tahun 2012.

Sebuah piranti elektronik yang memiliki tingkatan tua bangka lebih parah dibanding iPhone 5S sebetulnya.

Wujud Laptop dan Telepon Pintar Tua Bangka Sebagai Media Menulis Gagasan.

Sukses! Saya bisa mengakses menu ‘Lihat Tulisan’ dalam fasilitas menulis, pada situs Qureta.

Saya lalu menyadari betapa tulisan ketikan saya melalui telepon pintar tersebut, begitu kacau balau format dan tatanan hurufnya. Pantesan bolak-balik draft tulisan saya dikembalikan. Bahkan mungkin tanpa pernah melalui proses Moderasi oleh tim Qureta.

Oleh karenanya, begitu baca tulisan model amburadul begini, tak sampai satu alenia pasti langsung ditolak. Demikian pikiran saya menyimpulkan.

Segera saya mengakses situs Qureta menggunakan laptop tua bangka tapi masih fit bagai remaja ini, dengan bantuan sinyal WiFi yang terpasang di rumah.

Benar! Tampilan beranda Qureta berbeda dengan tampilan pada telepon pintar andalan saya tersebut di atas.

Tampak lebih lengkap, termasuk menu-menu pada kolom fasilitas menulis, lebih gamblang ternyata terdapat pilihan mengatur bentuk, model, ukuran, warna huruf, memasukkan foto, membuat tabel, menyatakan quote, tabulasi hingga membuat daftar angka maupun noktah. Termasuk satu menu yang tak saya temui dalam telepon pintar, yakni ‘Lihat Tulisan’.

Tampilan Fasilitas Menulis Dalam Situs Qureta Menggunakan Laptop.



Saya nemu ide! Betapa makna syair lagu ini begitu dalam.

‘What You Do To Me’ Tulisan Pertama Tampil Beranda

Tertarik dengan pemahaman baru tentang ketersediaan fasilitas menulis dalam situs Qureta, membuat jari jemari kedua tangan saya menjadi gatal ingin segera memencet-mencet tuts papan ketik laptop, yang merk-nya sudah tak memroduksi lagi piranti elektronik jenis laptop ini.

Mau melanjutkan draft tulisan-tulisan yang bolak-balik ditolak? Nggak seru lah.

Pemahaman baru kudu diimbangi dengan karya baru, tekad saya hampir selalu begitu.

Saya mencari-cari inspirasi tema apa yang hendak saya tulis sebagai karya tulis pertama yang semoga lulus Moderasi dan terbit dalam situs Qureta.

Saya coba buka interaksi dengan teman-teman semasa sekolah menengah pertama dalam grup Whatsapp.

Pada satu kesempatan obrolan daring dalam grup medsos tersebut, saya temukan arsip kiriman sebuah lagu dari teman saya yang sedang berada di Jepang. Sebuah tembang lawas tahun 1980-an berjudul; ‘What You Do to Me’. Syahdu lagunya membuat saya tergerak menelusuri lirik syair, lalu memaknainya.

Saya nemu ide! Betapa makna syair lagu ini begitu dalam. Menembus wawasan religius yang saya miliki. Lalu saya tak kuasa mencegah jari jemari saya menguntai kata dan kalimat menjadi tulisan. Kemudian saya perhatikan lagi dalam menu ‘Lihat Tulisan’, apakah tampilan telah sesuai dengan saran tim Qureta, yakni enak dibaca saat pembaca menggunakan gawai elektronik.

Setelah yakin tampilan dan isi tulisan sesuai syarat yang telah digariskan oleh tim Qureta, kemudian tulisan yang saya beri judul ‘What You Do To Me’ dengan sub judul tulisan ‘Makna Religius Dalam Sebuah Lagu’ saya kirim ke tim Editor Qureta.

Alhamdulillah, tulisan saya tersebut lulus Moderasi oleh tim Qureta dan tanggal 14 Oktober 2021 menjadi sejarah bagi saya bahwa tulisan saya tersebut berpeluang terbaca oleh manusia sejagat raya didunia maya.

‘What You Do To Me’ Tampil di Beranda Qureta 14 Oktober 2021.

Tak ternyana, tulisan pertama saya tersebut mendapat penghormatan tampil dalam beranda, dengan kriteria Inspiratif. Namun, waktu itu saya belum ngeh jika tulisan pertama saya dalam situs Qureta, berdampingan dengan karya penulis lain yang layak tampil sebagai karya tulis beranda.

Bisa terbit sebagai tulisan sekelas micro blogging Qureta saja, saya sudah senang.



Bahwa, tulisan yang berpeluang menjadi layak tampil di beranda Qureta, membutuhkan waktu terbit yang relatif lebih lama…

‘Jika Akar Berbangsa Terlalu Miring ke Kanan’ Tulisan Kedua Tampil Beranda

Sejak itu saya mulai ketagihan. Saya kirim ulang draft-draft tulisan yang sebelumnya tertolak. Sedikit perbaikan yang saya lakukan, karena tata kata dan kalimat serta isi tulisan telah memenuhi syarat tim Qureta. Saya lebih mengacu syarat dan ketentuan tata penampilan tulisan dalam menu ‘Lihat Tulisan’.

Berhasil! Lulus Moderasi oleh tim Qureta lagi. Ada empat tulisan saya yang terbit pada hari yang sama, 15 Oktober 2021. Semua adalah draft-draft tulisan yang tadinya tertolak.

Meski tak ada satu pun tulisan yang layak tampil beranda, saya sudah senang. Karena kualitas tulisan saya dinyatakan lulus Moderasi, yang saya yakin tim Moderasi Qureta adalah sekumpulan orang-orang yang mampu menyajikan karya literasi yang jauh lebih baik daripada saya.

Keesokan harinya, tak kuasa lagi saya membendung nafsu, yang InsyaAllah adalah nafsu Mutmainah, untuk mengirimkan lagi draft-draft tulisan yang sebelumnya tertolak. Perlu waktu sehari mengkonfirmasi bagi ketujuh tulisan saya lulus Moderasi, terbit pada hari yang sama, 17 Oktober 2021.

Satu dari tujuh tulisan tersebut, dinyatakan layak tampil beranda, dengan kriteria Inspiratif, berjudul ‘Jika Akar Berbangsa Terlalu Miring ke Kanan’.

‘Jika Akar Berbangsa Terlalu Miring ke Kanan’ Tampil di Beranda Qureta 17 Oktober 2021.

Sebuah tulisan yang terinspirasi dari sebuah buku yang pernah saya baca berjudul ‘Agama Jawa; Abangan, Santri, Priyayi’ buah karya antropolog Cilfford Geertz dan novel berjudul ‘Max Havelaar’ buah karya Multatuli, yang pernah menggemparkan Eropa menjelang akhir abad 19, kemudian membawa perubahan politik kerajaan Belanda bagi wilayah kolonialnya di kawasan Hindia Belanda, sekarang Indonesia.

Keesokan harinya, saya kirim lagi draft-draft tulisan saya yang tadinya masih tertolak. 

Tak perlu waktu lama, karena hari itu juga tim Qureta menerbitkan kedua tulisan tersebut pada hari yang sama, 18 Oktober 2021. Tak ada satupun dari kedua tulisan tersebut yang layak tampil dalam beranda. Tapi sekali lagi, saya tetap senang karena keduanya dinyatakan lulus Moderasi oleh tim Qureta.

Sejak itu pula, ada satu hal lagi yang saya pelajari. Bahwa, tulisan yang berpeluang menjadi layak tampil di beranda Qureta, membutuhkan waktu terbit yang relatif lebih lama. 

Sangat mungkin tulisan kelas layak tampil beranda memerlukan masa Moderasi yang lebih fokus karena dipelajari, dibandingkan, ditimbang dan dinilai bersama tulisan-tulisan lain yang memiliki peluang kelas yang sama.



Sebuah buku sederhana warna sampul hitam, berisi catatan-catatan harian tulisan tangan yang rapi, berhuruf latin miring…

‘Perintah Suci’ Tulisan Ketiga Tampil Beranda

Sejak mendapat rekomendasi Qureta, saya punya keasyikan baru, membaca artikel-artikel Qureta baik tulisan lama maupun baru, tak hanya Saintek melainkan juga Agama, Lingkungan, Kuliner, Hiburan hingga Sosok.

Ketagihan saya untuk menulis, mengembangkan setiap kalimat yang tiba-tiba terbersit melintas ke dalam benak saya pun semakin menjadi-jadi.

Tentang apa pun yang terlintas tiba-tiba, segera membuat saya terpicu mengumbar rangkaian kata menjadi kalimat. Memilih huruf-huruf di atas papan ketik laptop tua pun segera saya lakukan, entah pagi, siang, sore, terutama tengah malam.

Biasanya, ide yang tiba-tiba nyelonong masuk ke alam pikiran saya, segera saya ingat-ingat. Jika sedang membawa telepon pintar, segera saya catat menjadi kalimat kunci, agar mudah dikembangkan pada saat yang tepat, dalam suasana yang nyaman.

Mungkin tabiat saya gemar menggurat pena di atas kertas, menurun dari bakat almarhumah ibu saya, yang saya pernah menemukan buku harian beliau dalam sebuah lemari kayu.

Sebuah buku sederhana warna sampul hitam, berisi catatan-catatan harian tulisan tangan yang rapi, berhuruf latin miring, mulai sejak saya lahir, memasuki masa balita, masa-masa sekolah dasar, sekolah menengah, masa puber remaja, masa kuliah, hingga saya mendapat pekerjaan, menikah, punya anak, sampai tulisan terakhir beliau sebelum berpulang menghadap kehadirat-Nya.

Saya pernah menangis sejadi-jadinya, terharu betapa tulus beliau merawat dan memerhatikan saya, diungkap dalam sebuah buku catatan, merangkum semua keikhlasan.

Perilaku penuh keikhlasan pun menginspirasi saya menulis tentang satu Sosok yang menjadi panutan umat Muslim, dalam sebuah tulisan berjudul ‘Perintah Suci’ yang terbit pada 22 Oktober 2021.

‘Perintah Suci’ Tampil di Beranda Qureta 22 Oktober 2021.

Tulisan yang awalnya bertujuan mengulas sebuah film tentang sejarah Islam pada masa-masa pertama Nabi Muhammad SAW berdakwah di Madinah dan Mekkah ini, dinilai oleh tim Moderasi Qureta layak menjadi sebuah tulisan yang tampil di beranda. 

Bisa jadi, prolog dan epilog dalam tulisan ini yang menjadi pertimbangan utama penilaian selama proses Moderasi, yang memerlukan waktu kurang lebih selama dua hari.



Apabila layak tampil di beranda, ya senangnya berlipat-lipat, terpacu semangat…

Menanti Hasil Moderasi

Semenjak tulisan ‘Perintah Suci’, saya semakin yakin dengan proses Moderasi tulisan yang dinilai layak tampil beranda membutuhkan proses penilaian yang relatif lebih lama dibanding tulisan-tulisan yang belum layak tampil di beranda situs Qureta.

Sejak itu pula, saya mulai memelankan tensi nafsu mutmainah, dalam hal pengiriman beberapa draft tulisan secara bersamaan kepada tim Editor Qureta. Dari yang tadinya beberapa draft tulisan sekali kirim, cukup satu artikel sekali kirim.

Setelah itu, saya bersabar menunggu konfirmasi hasil Moderasi apakah lulus terbit ataukah belum. Jika lulus terbit, apakah masuk kategori layak tampil beranda apa belum. Apabila layak tampil di beranda, ya senangnya berlipat-lipat, terpacu semangat. Tapi kalau belum layak, ya memang belum. Rileks.

Adapun tanda-tanda tulisan bakal layak tampil beranda Qureta, itu apabila dalam tempo dua hari belum ada tanda bulatan oranye menyala melingkari foto profil penulis. Selama itu si penulis bisa merasa sensasi deg-degan, sambil melakukan cek & ricek gawai elektronik, mengakses situs Qureta.

Sebaliknya, jika dalam tempo sehari atau kurang, foto profil sudah berwarna oranye menyala, ada beberapa kemungkinan; apakah ada tulisan baru karya penulis yang kita ikuti, ataukah tulisan kita ditolak agar dikoreksi, atau tulisan kita lulus Moderasi meski bukan berkategori layak tampil beranda.

Alhasil, sejak 22 Oktober 2021 saya relatif pelan mengirimkan draft-draft artikel tulisan. Beberapa tulisan panjang yang saya tulis tentang kota Malang misalnya, meski saya yakin tak bakal masuk kategori layak tampil beranda, tetap saya kirimkan. Karena niatannya adalah berbagi wawasan, juga pengalaman.



Tak hanya tulisan yang bisa terbaca ringan, namun juga foto sampul adalah buah karya gambaran tangan.

‘Mengelola Stres agar Produktif’ Tulisan Keempat Tampil Beranda

Sempat sekali saya merasa surprised, karena tulisan ringan berjudul ‘Mengelola Stres agar Produktif’ sub judul ‘Sebuah Gagasan Berakal Jernih’, yang lulus Moderasi dan terbit pada 1 Nopember 2021, ternyata mendapat kehormatan tampil di beranda Qureta.

‘Mengatasi Stres agar Produktif’ Tampil di Beranda Qureta 1 Nopember 2021.

Tak hanya tulisan yang bisa terbaca ringan, namun juga foto sampul adalah buah karya gambaran tangan. Saya menggunakan pena empat warna merk Bic untuk menggambar sampul tulisan tersebut. 

Tulisan ‘Mengelola Stres Agar Produktif’ memberi hikmah kepada saya, bahwa esensi sebuah tulisan bisa dinilai memiliki makna dalam, meski dalam tuturan ringan dan sampul pemikat sederhana.

Hingga, pada dua mingguan setelah tulisan beranda tersebut, pada 16 Nopember 2021, tulisan saya terbit lagi dengan kategori layak tampil beranda, berjudul ‘Menengahi Paham Bumi Bulat dan Bumi Datar’, sub judul ‘Menduga Bentuk Bumi Melalui Metrik FLRW’.



…pasti ada sosok penilai tulisan yang memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang dasar-dasar mekanika kuantum, atau bahkan ahli dibidang fisika modern.

‘Menengahi Paham Bumi Bulat dan Bumi Datar’ Tulisan Kelima Tampil Beranda

Sekali lagi, saya merasa surprised karena tulisan tersebut layak tampil beranda Qureta.

Betapa tidak, tulisan yang rada jlimet, berisikan pemaknaan fenomena fisika modern tentang dualisme sifat gelombang dan rumus-rumus terkait teori Relativitas Umum, ditambah ilustrasi hasil coretan-coretan jari jemari saya menggunakan sebuah pena, bisa lulus Moderasi sekaligus tampil di beranda.

‘Menengahi Paham Bumi Bulat dan Bumi Datar’ Tampil di Beranda Qureta 16 Nopember 2021.

Saya yakin, bahwa dalam tim Moderasi Qureta pasti ada sosok penilai tulisan yang memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang dasar-dasar mekanika kuantum, atau bahkan ahli dibidang fisika modern. Selebihnya, lulusnya tulisan ini tampil di berada Qureta, bikin hati saya ini tambah senang saja.

Satu hal lagi menjadi hikmah bagi saya bahwa, tema tulisan yang tadinya mungkin bagi pembaca awam adalah suatu kerumitan, maka apabila tulisan tersebut dikemas dalam bahasa yang mudah cerna, maka tulisan tersebut menjadi karya yang bakal layak tampil beranda dan berpeluang lebih banyak memiliki pembaca.

Juga, tim Moderasi Qureta bakal lebih menitikberatkan esensi tulisan, sehingga bisa mengakomodasi foto sampul pemikat pembaca yang berkualitas relatif sederhana, meski sekedar hasil pemotretan guratan pena dalam genggaman jemari tangan.



Tak sekedar terpandang sebagai sekumpulan orang yang memahami dunia filsafat dan retorika…

‘Memastikan Presisi dan Akurasi terhadap Hasil Uji’ Tulisan Keenam Tampil Beranda 

Mengulangi metode menulis hal yang terpandang rumit dalam kemasan bertutur ringan, membuat sekal lagi tulisan saya yang jelas-jelas bertebaran rumus-rumus penetapan kendali mutu atas kinerja suatu laboratorium uji kimia, lulus Moderasi dengan kategori layak tampil beranda.

Sebuah tulisan yang memang saya dedikasikan khususnya bagi pembaca yang memiliki latar belakang kimia analisa ataupun penggiat laboratorium uji kimia pada umumnya ini, saya harapkan bisa menjadi panduan umum yang menambah wawasan tentang bagaimana berkinerja menjamin dan mengendalikan mutu, sesuai judul tulisan ‘Memastikan Presisi dan Akurasi terhadap Hasil Uji’ dengan sub judul ‘Tatanan Mendasar untuk Menjamin Mutu Laboratorium Penguji’ yang terbit pada 24 Nopember 2021.

‘Memastikan Presisi dan Akurasi terhadap Hasil Uji’ Tampil di Beranda Qureta 24 Nopember 2021.

Lulusnya tulisan tersebut menjadi layak tampil beranda Qureta semakin meyakinkan saya bahwa tim Moderasi Qureta berisikan orang-orang yang bukan sembarangan.

Tak sekedar terpandang sebagai sekumpulan orang yang memahami dunia filsafat dan retorika, namun juga satu ilmu pengetahuan yang masih dihindari banyak kalangan muda, yakni matematika.



...bagaimana mengurai penilaian kualitatif menjadi kuantitatif, menggunakan satu kaidah persamaan yang diakui mengubah dunia, yakni Distribusi Normal.

‘Moderasi Penentuan Insentif’ Tulisan Ketujuh Tampil Beranda

Diterimanya tulisan yang memiliki topik relatif berat namun dikemas dalam tuturan yang mudah cerna, menuai ambisi dalam angan saya untuk menyusun tulisan yang lebih berat, panjang, tak umum sekaligus belum pernah dijabarkan dalam satu ulasan sistematis dalam sebuah tulisan.

Selama lebih dari dua minggu saya mempersiapkan tulisan yang sarat dengan rumus-rumus logika matematika, metode statistika terapan yang dipadu dengan kaidah pengelolaan kinerja, performance management, sebagai penerapan pengetahuan tentang Balanced Scorecard.

Cukup rumit dan kudu telaten mengungkap gagasan dalam bentuk tulisan yang tak hanya teori semata, namun juga hikmah dari pengalaman menekuni bagaimana mengelola sebuah kinerja dalam suatu unit usaha.

‘Moderasi Penentuan Insentif’ demikian tulisan yang memiliki perkiraan durasi membaca selama 38 menit tanpa jeda. Apabila tulisan ini dicetak dalam kertas ukuran A4, bakal bisa terkumpul hingga 50-an lembar halaman.

Terbit pada 9 Desember 2021, tulisan tersebut merupakan karya tulis saya yang paling ambisius sejauh ini, karena mencoba memberikan wawasan yang bisa jadi sangat baru bagi pembaca secara rinci, tentang bagaimana mengurai penilaian kualitatif menjadi kuantitatif, menggunakan satu kaidah persamaan yang diakui mengubah dunia, yakni Distribusi Normal.

‘Moderasi Penentuan Insentif’ Tampil di Beranda Qureta 9 Desember 2021.

Kerja keras yang membuahkan hasil. Tulisan tersebut mendapat kehormatan untuk tampil di beranda Qureta. Hingga kini, lebih dari 150 pembaca menikmati tulisan ini. Menunjukkan bahwa sebuah karya tulis yang panjang dan berkesan rumit, apabila terdapat esensi yang bermanfaat di dalamnya, maka tulisan tersebut bakal diminati.

Sempat semingguan saya istirahat sama sekali tak menulis. Kecapekan habis menulis panjang. Isi gagasan dalam otak seolah kering, demi mengurai kata dan kalimat agar hal-hal yang jlimet bisa terungkap menjadi mudah dan nyaman untuk dibaca.



…sebuah karya tulis yang bisa mengajak pembaca untuk memetik hikmah.

‘Catatan Anak Kolong’ Tulisan Kedelapan Tampil Beranda

Keinginan menulis muncul lagi setelah saya bersih-bersih isi lemari, yang di dalamnya saya temukan sebuah album kenangan keluarga, berisi foto-foto lawas Almarhum Bapak saya ketika bertugas di Timor Timur awal tahun 1976.

Jari jemari pun tak bisa saya cegah untuk segera menekan-nekan setiap tuts huruf dalam papan ketik laptop saya yang itu-itu saja sejak 2012.

Saya mencoba menuturkan pengalaman pribadi saya ketika masih berusia 7 tahun, ketika Bapak saya menjalankan tugas negara di Timor Timur.

Kenangan masa kecil puluhan tahun silam, saya padu dengan sejarah tentang Timor Timur, yang saya sempat ikuti perjalanan sejarah juga berita-berita yang menyertakannya, hingga propinsi ke 27 Republik Indonesia itu dinyatakan merdeka melalui referendum yang disaksikan oleh lembaga dunia, lalu Timor Timur berubah nama menjadi Timor Leste.

Baik kenangan, sejarah juga berita-berita tentang Timor Timur tersebut, saya rangkum menjadi satu tulisan, berjudul; ‘Catatan Anak Kolong’, yang terbit pada 16 Desember 2021.

‘Catatan Anak Kolong’ Tampil di Beranda Qureta 16 Desember 2021.

Saya pun tak menyangka, sebuah tulisan yang niatan awalnya adalah melepas lelah sehabis menulis panjang, ternyata tak hanya lulus Moderasi, namun juga layak tampil di beranda Qureta.

Sebuah pelajaran lagi saya dapatkan dari situs Qureta, bahwa tulisan bertema Sejarah memiliki arti tersendiri bagi tim Moderasi Qureta, dalam konteks sebuah karya tulis yang bisa mengajak pembaca untuk memetik hikmah.



Entah suatu kebetulan, walaupun di dunia yang fana ini sama sekali tak ada kejadian yang kebetulan.

‘Demam Spider-Man’ Tulisan Kesembilan Tampil Beranda

Gawat!

Rencana saya untuk bersandar melepas lelah lagi sehabis mengoyak nostalgia setelah menerawang setiap foto-foto lawas, sebuah film bergenre SciFi, meledak di bioskop-biskop Indonesia, Spider-Man: No Way Home.

Menyadari dunia tengah dilanda demam film tentang aksi superhero yang ramah rendah hati tersebut, jelas membuat saya membatalkan acara bersandar melepas lelah. Namun, kembali duduk tegak menghadap laptop, yang mungkin jika bisa bicara bakal bilang; “Tak mengapa kamu pencet-pencet aku sesuka hati, asal kamu bahagia.”

‘Demam Spider-Man’ demikian tulisan ke-9 saya, yang mendapat kehormatan tampil di beranda Qureta.

Sejak awal, ‘hmm… sudah ku duga’, bahwa tulisan tersebut bakal lulus Moderasi dan tampil di atas pentas beranda bersanding dengan karya tulis penulis-penulis lain yang jauh lebih keren dalam situs Qureta.

Faktor momen yang tepat pas film Spider-Man: No Way Home tengah marak diputar, dipadu dengan kedalaman makna sebagai esensi tulisan yang tak sekedar mengulas isi film, meski saya mengulas film animasi buatan tahun 2018 berjudul Spider-Man: Into Spider-Verse

Waktu saya menulis tulisan tersebut, saya belum menonton Spider-Man: No Way Home. Baru hari Kamis 30 Desember 2021 bersama keluarga saya. Sengaja saya memilih jauh-jauh hari setelah film tersebut berangsur reda masa meledaknya, meski agak bersusah payah menghindari berita, obrolan luring maupun daring dengan teman, kerabat, saudara yang berpotensi mengungkap bocoran, spoiler.

Kiranya tepat isi tulisan saya tersebut. Ternyata tema Spider-Man: No Way Home memang relevan, terkait dengan versi animasi Spider-Man: Into Spider-Verse. Entah suatu kebetulan, walaupun di dunia yang fana ini sama sekali tak ada kejadian yang kebetulan.

‘Demam Spider-Man’ Tampil di Beranda Qureta 18 Desember 2021.

Tuturan tentang makna agung ‘Lord of the worlds’ dan bahaya penyalahgunaan Large Hadron Collider (LHC) dalam tulisan tersebut, mungkin menjadi daya pikat tersendiri bagi tim Moderasi Qureta yang kemudian meluluskan tulisan tersebut hingga memiliki kelas layak tampil beranda.

Hingga kini, tulisan tersebut relatif meledak dengan pembaca mencapai kisaran lebih dari 150 orang, berdampingan dengan tulisan ke-7 saya yang tampil di beranda Qureta, yakni ‘Moderasi Penentuan Insentif’.

Tak hanya itu, ‘Demam Spider-Man’ juga tercatat tampil bersamaan dalam satu beranda dengan ‘Catatan Anak Kolong’.

Dua judul tulisan berbeda, karya penulis yang sama, tampil bersamaan dalam satu beranda Qureta selama dua hari lamanya, adalah catatan sejarah pertama bagi saya.

Langka dan Keren; 2 judul tulisan berbeda, karya penulis yang sama, bersanding dalam satu bingkai beranda Qureta.

Kiranya, tak banyak penulis punya kesempatan yang sedemikian keren. Dua kali nama Ahmad Nur Tontowi tertera dalam satu beranda, menampilkan dua karya tulis yang berbeda.



Jujur, agak nanar saya melihat kenyataan yang demikian, setelah bersusah payah menulis siang malam berpuluh halaman.

‘Hipnosis ala Cina’ Tulisan Kesepuluh Tampil Beranda

Ulasan tentang film laga pun saya lanjutkan. Kali ini mengulas bagaimana Cina punya strategi untuk menaklukkan dunia, melalui jalan panjang pendekatan budaya menghipnosis dunia dalam kemasan seni bela diri Kungfu ataupun Wushu.

‘Hipnosis ala Cina’ yang terbit pada 22 Desember 2021, cukup mendapatkan jumlah pembaca, meski tak sebanyak ‘Moderasi Penentuan Insentif’ dan ‘Demam Spider-Man’.

‘Hipnosis ala Cina’ Tampil di Beranda Qureta 22 Desember 2021.

Tulisan ini juga mewakili kesukaan saya pada jenis film laga buatan Hongkong era tahun 1980-an, mengisi masa-masa kecil saya pada sebuah bioskop di kota Malang. Suatu saat ini, saya akan menulis kisah nyata tentang kenangan terhadap bioskop itu.

Sebenarnya, ‘Hipnosis ala Cina’ menjadi pijakan saya untuk melanjutkan model tulisan ambisius nan panjang, pasca ‘Moderasi Penentuan Insentif’. Tulisan panjang tersebut saya beri judul ‘Proposal Ensiklopedi Muslim’.

Tulisan yang lulus Moderasi dan terbit pada 27 Desember 2021 tersebut, yang saya gadang-gadang bakal tampil di beranda Qureta, ternyata belum mendapatkan kesempatannya.

‘Proposal Ensiklopedi Muslim’ Terbit 27 Desember 2021 Belum Memiliki Kesempatan Tampil dalam Beranda Qureta.

Mungkin, karena tulisan tersebut dinilai terlalu panjang dengan esensi berupa penjabaran visi dan misi yang nggrambyang, terlalu muluk untuk terwujud. Atau, mungkin dinilai kurang efektif dalam mengungkap suatu alternatif pilihan solusi atas permasalahan mendunia, yakni penghangatan global (global warming).

Rangkaian kata dan kalimat dalam tulisan tersebut juga dinilai kurang efisien, sehingga tim Moderasi Qureta, mendaulat tulisan yang memiliki esensi mirip dengan tulisan tersebut, buah karya penulis muda, berstatus mahasiswa sebagaimana keterangan dalam profilnya.

‘Pentingnya Green Education Di Masa Kini Sebagai Respons Atas Isu Perubahan Iklim Global’ demikian judul tulisan yang memenangkan persaingan untuk tampil di layar beranda Qureta pada sesi penerbitan tanggal 27 Desember 2021, bersanding dengan tulisan-tulisan keren lainnya, yang memang layak tampil mengisi podium kelas beranda.

Jujur, agak nanar saya melihat kenyataan yang demikian, setelah bersusah payah menulis siang malam berpuluh halaman, hingga menghasilkan tulisan durasi baca kurang lebih selama 31 menit-an, ternyata gagal memenuhi harapan.

Namun demikian, melihat kenyataan bahwa ada generasi muda yang memiliki kepedulian tentang kemuliaan bumi beserta isinya yang tengah mendapat ancaman berwujud perubahan iklim global, maka saya pun salut mengangkat kedua jempol tangan, menghargai buah karya tulisan anak muda tersebut.

Mengurai ungkapan dalam tatanan kata dan kalimat yang efektif dan efisien untuk sebuah karya tulis yang tak melibatkan hal-hal yang jlimet dan rumit macam memaknai sebuah persamaan matematis, menjelaskan formula senyawa kimia atau mengupas makna teori fisika, bakal membuat pembaca lebih mudah mencerna esensi tulisan, lalu terpengaruh untuk memilih alternatif solusi yang ditawarkan.

Seperti penyadaran terhadap pentingnya pihak yang memiliki kewenangan dalam kepemerintahan maupun yang terkait, baik skala nasional, regional ataupun global, untuk segera menyusun dan menerapkan tatanan Green Education.



…perilaku manusia yang selalu berusaha menguak banyak misteri yang terdapat di alam, cenderung mengabaikan batasan-batasan yang tersirat menjadi ketetapan-Nya.

‘Kloning atas Manusia? STOP!’ Tulisan Kesebelas Tampil Beranda 

Tepat menjelang pergantian tahun 2021 menuju 2022, saya mencoba mengirimkan tulisan yang saya pertimbangkan sebagai momen yang tepat untuk menumbuhkan harapan baru dalam berperilaku memuliakan bumi beserta isinya.

‘Kloning atas Manusia? STOP!’ adalah satu judul yang saya harapkan bisa menambah wawasan bagi para pembaca sejagat raya dalam dunia maya, bahwa terdapat ilmu pengetahuan dalam lingkup Bioteknologi yang apabila disalahgunakan bisa merusak tatanan peradaban manusia.

‘Pengklonaan terhadap Manusia Bakal Melahirkan Generasi Tanpa Ruh’ adalah sub judul tulisan tersebut, mengakomodasi fakta yang mengkhawatirkan bagi keberadaan manusia yang terlahir melalui proses perkawinan alamiah, apabila riset Kloning atas manusia tetap dijalankan.

‘Kloning atas Manusia? STOP!’ Tampil di Beranda Qureta 30 Desember 2021.

Hingga saat ini, fenomena riset Kloning atas makhluk hidup memang masih ada dan bakal tetap ada, sejalan perilaku manusia yang selalu berusaha menguak banyak misteri yang terdapat di alam, cenderung mengabaikan batasan-batasan yang tersirat menjadi ketetapan-Nya.

Melalui penerbitan tulisan tersebut yang lulus Moderasi dan diijinkan tampil di berada Qureta, kiranya menjadi harapan di tahun baru 2022, tentang tetap berkembangnya umat manusia yang memiliki perilaku memuliakan bumi.



…guna membimbing setiap penulis menghasilkan karya tulis keren, agar kelak bisa mengoyak zona nyaman…

Berhikmah Membaca dan Menulis di Qureta

Sejak bergabung mulai akhir September 2021, hingga kini tim Qureta tetap memberikan kesempatan kepada saya, juga penulis-penulis lainnya sebagai sahabat Qureta, guna memberi kontribusi berupa tulisan yang memiliki esensi berbagi ide.

Segala syarat dan ketentuan yang ditetapkan agar dipatuhi oleh semua kontributor tulisan kedalam situs Qureta, beserta sistem Moderasi yang berlaku, adalah wajar dan bisa diterima sebagai konsekuensi atas penilaian terhadap karya tulis yang layak disajikan kepada pembaca sejagat raya di dunia maya.

Selama bergabung sebagai kontributor tulisan untuk situs Qureta, saya juga terpicu untuk selalu belajar dan mengasah kemampuan dalam hal membaca, memaknai esensi, merajut inspirasi, lalu menuangkannya sebagai rangkaian kata dan kalimat menjadi sebuah karya tulis.

Tekun merajut inspirasi, santun dalam merangkai kata dan kalimat, efektif dan efisien dalam menuangkan gagasan, jeli menentukan momen yang tepat sebelum mengirim tulisan, adalah poin-poin penting yang menjadi pembelajaran bagi saya untuk bisa terus belajar menyusun tulisan-tulisan keren.

Kiranya, poin-poin penting guna membimbing setiap penulis menghasilkan karya tulis keren, agar kelak bisa mengoyak zona nyaman tim pengelola Qureta. Agar terus giat berbenah, tak bosan selalu berinovasi memfasilitasi sekian ratus ribu penulis berbakat, khususnya penulis asal Indonesia.

Karena, satu karya literasi yang keren, lalu kelak bakal memberi inspirasi bagi dunia agar berubah menjadi lebih baik, adalah keniscayaan.

Selamat Tahun Baru 2022 untuk tim dan rekan kontributor Qureta.

Semoga senantiasa sehat, mulia, berkarya penuh suka cita.