1 bulan lalu · 389 view · 5 min baca menit baca · Filsafat 16768_67194.jpg

Kalau Tuhan Mahadekat, Mengapa Tuhan Tidak Bisa Dilihat?

Satu ayat dalam al-Quran menyatakan bahwa Tuhan MahaDekat dengan hamba-hamba-Nya melampaui kedekatan manusia dengan urat lehernya. Allah Swt berfirman: "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." (QS 50: 16).

Yang menyimak informasi quranik di atas mungkin akan bertanya-tanya: Kalau memang Tuhan itu MahaDekat, lantas mengapa Dia tidak bisa dilihat? Bukankah sesuatu yang dekat itu bisa terlihat? Mengapa Tuhan tidak sesekali memunculkan wujud-Nya kepada kita, agar kita yakin bahwa Dia itu benar-benar ada dan benar-benar dekat? Mengapa?

Pertanyaan ini pasti banyak terlintas di benak orang-orang awam, terutama mereka-mereka yang level keimanan masih “mendarat di bumi”, dan belum mampu menembus “batas-batas langit”. Tingkat keimanan yang dangkal kerap kali menjebak manusia pada pertanyaan-pertanyaan yang sulit dicerna oleh akal.

Lalu bagaimana kita menjawab pertanyaan seperti ini? Untuk menjawabnya, Anda bisa perhatikan beberapa poin sebagai berikut:

Pertama, tak ada yang sulit untuk menerima satu kenyataan bahwa sesuatu yang dibuat itu pastilah berbeda dengan sesuatu yang membuat. Dengan ungkapan yang lebih terang, sesuai yang dicipta sudah pasti berbeda dengan sesuatu yang menjadikannya ada. Ini satu kenyataan yang akan kita amini hatta dalam kehidupan sehari-hari.

Kalau Anda seorang pelukis handal, semahir apapun Anda melukis, Anda tidak akan mampu melukis diri Anda persis sebagaimana adanya. Pastilah perbedaan itu ada. Begitu juga dengan buatan-buatan lainnya. Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak akan pernah menjumpai keberadaan pembuat yang memiliki kesamaan persis dengan sesuatu yang ia buat. Keduanya harus beda.

Karena itu, jika kita percaya bahwa yang membuat dan yang menciptakan kita itu adalah Tuhan, maka tidak sulit bagi kita untuk percaya bahwa Tuhan itu berbeda dengan seluruh ciptaan. Berbeda dari sudut apa? Berbeda dari berbagai sisinya. Tuhan berbeda dengan makhluk dari berbagai sisi-Nya.


Tidak ada kesamaan mutlak antara hamba dengan Tuhan. Kalaupun ada kesamaan, kesamaan itu hanya dari sudut nama saja, sementara hakikatnya tidak. Karena sesuatu yang mencipta sudah pasti berbeda dengan sesuatu yang diciptakannya. Dan sesuatu yang memiliki kesempurnaan tidak mungkin kita samakan dengan sesuatu yang tersandra dalam keterbatasan. Ini satu hal yang harus kita akui bersama.

Kedua, di dunia ini kita menyaksikan bahwa segala sesuatu yang terlihat itu pasti terikat dalam ruang dan waktu. Kenyataan ini juga tidak bisa kita tolak. Tak ada sesuatu di dunia ini yang bisa lepas dari dua kategori itu. Nah, karena semuanya teringkus dalam ruang dan waktu, maka konsekuensinya apa yang Anda lihat di dunia ini semuanya berada dalam keterbatasan.

Itu artinya, kalau Tuhan dimungkinkan untuk terlihat, maka Tuhan akan teringkus dalam keterbatasan itu. Tuhan menjadi terbatas, seperti makhluk-Nya. Dan kalau sudah terbatas tentu tidak layak disebut sebagai Tuhan. Karena kalau sudah terbatas berarti ada yang membatasi. Kalau sudah ada yang membatasi berarti tidak Mahakuasa lagi. Dan kalau kemahakuasaan itu hilang ya namanya bukan Tuhan.

Orang beriman pasti percaya bahwa yang namanya Tuhan itu pastilah tidak memiliki batasan. Sementara kalau Tuhan terlihat, maka dia menjadi terbatas. Terbatas dan tidak terbatas itu dua hal yang kontradiktif. 

Jadi, kalau Anda percaya dengan ketak-terbatasan Tuhan, lalu pada saat yang sama Anda meyakini bahwa Tuhan itu bisa dilihat, keyakinan Anda itu akan melahirkan satu kontradiksi. Seolah-olah Anda mengatakan bahwa Tuhan itu terbatas tapi juga tidak terbatas. Dan itu bertentangan dengan hukum akal. 

Ketiga, kalau Tuhan bisa dilihat di dunia ini, itu artinya Tuhan akan berada dalam tempat. Dan kalau Tuhan bertempat, berarti Tuhan butuh pada tempat. Dan kebutuhan itu lagi-lagi bertentangan dengan prinsip ketuhanan. Tempat itu makhlûq (sesuatu yang diciptakan). Sekarang masa ada sesuatu yang dikatakan sebagai Tuhan, tapi dalam saat yang sama dia sendiri butuh pada ciptaan?

Kalau sudah butuh ya namanya bukan Tuhan. Yang butuh itu hanyalah makhluk. Sementara Tuhan terlepas dari berbagai macam kebutuhan. Karena keterlihatan Tuhan itu meniscayakan kebutuhan, dan kebutuhan itu bertentangan dengan prinsip ketuhanan, maka keterlihatan Tuhan itu bertentangan dengan prinsip ketuhanan. Harap diingat bahwa pembicaraan kita sekarang seputar keterlihatan Tuhan di dunia. Soal di akhirat, itu perdebatan lain lagi.


Keempat, ada banyak hal di dunia ini yang sebenarnya bisa terlihat, tapi karena keterbatasan yang kita miliki, yang mungkin terlihat itupun menjadi tidak mudah untuk kita lihat. Contoh yang paling bagus adalah teriknya matahari di siang hari. Betapapun teriknya, matahari itu memang tetap bisa dilihat. 

Tapi bukankah kita juga sadar bahwa penglihatan kita tidak akan mampu bertahan lama? Pasti. Sudah Pasti kita tidak akan mampu. Dan ketidakmampuan itu berpulang pada keterbatasan diri kita, bukan karena ketidak-mungkinan matahari untuk dilihat.

Sekarang bisa Anda bayangkan, kalaulah memang keterlihatan Tuhan itu termasuk sesuatu yang mungkin, tapi pertanyaan yang perlu kita renungkan ialah: Kita sendiri, dengan seluruh keterbatasan yang kita miliki, punya kemampuan untuk melihat-Nya atau tidak? 

Kalau menatap matahari 10 menit saja kita tak mampu, lalu bagaimana mungkin kita melihat Tuhan yang menjadi pencipta di balik segala sesuatu? Justru, kalau bisa terlihat, sesuatu yang Anda yakini sebagai Tuhan itu perlu dipertanyakan ketuhanannya. Jangan-jangan dia hanya jin yang sedang menyamar sebagai Tuhan.

Kelima, kalau Tuhan bisa terlihat di dunia, di bagian dunia yang mana kita bisa melihat Tuhan? Pada umumnya orang akan menjawab di atas. Sebab, Tuhan itu Mahatinggi. Karena Dia Mahatinggi, berarti Dia ada di atas. Begitulah keyakinan orang-orang awam pada umumnya. Dan itu keliru. Karena ketinggian yang dimaksud bukanlah ketinggian tempat, melainkan kedudukan.

Sekarang saya mau tanya: Kalau memang Tuhan ada di atas, di atasnya ada di bagian mana? Sebelah kanan, kiri, depan, belakang, atau di mana? Kalau ada di langit, adanya di langit bagian mana? Kalau Anda menjawab di bagain tertentu, orang akan bertanya lagi: mengapa tidak ada di bagian yang lain? Ini pertanyaan yang sangat wajar untuk diajukan, jika kita mengamini keyakinan dangkal seperti itu.

Kalau Anda katakan di bagian tertentu, katakanlah di sebelah kanan, orang akan bertanya: mengapa dia tidak ada di sebalah kiri? Apa yang menjadikan Tuhan itu berposisi di sebelah kanan, sementara Dia mungkin saja berada di posisi yang lain selain kanan? Tentu harus ada sebab untuk menjelaskan hal itu. Nah, sebabnya itu apa?


Tidak mungkin sebabnya adalah Tuhan sendiri, karena kalau begitu Tuhan menjadi hadîts. Dia tidak ada dalam suatu arah, kemudian menjadi ada dalam arah yang lain. Juga tidak mungkin yang menjadi sebab itu sesuatu yang lain selain Tuhan, karena kalau begitu kita mengakui adanya sesuatu yang menguasai Tuhan. 

Dan kalau sudah dikuasai, yang kita sebut sebagai Tuhan itu sudah pasti bukan Tuhan. Tapi sebab itu tetap harus dijelaskan. Kalau tidak, itu namanya tarjîh bilâ murajjih, dalam istilah para teolog. Dan itu mustahil.

Pada akhirnya, keterlihatan Tuhan di dunia akan berkonsekuensi pada hal-hal yang bertentangan dengan prinsip ketuhanan itu sendiri. Bisa kita katakan bahwa ketak-terlihatan Tuhan merupakan konsekuensi dari ke-maha-sempurnaan-Nya sebagai Tuhan. 

Itu artinya, kalau Tuhan tidak memperlihatkan diri-Nya sekarang, tentu bukan karena Tuhan pelit, tetapi karena satu cangkir kecil memang tidak akan pernah mampu menampung air samudera yang terbentang sedemikian luas.

Artikel Terkait