Berbicara tentang menulis, belakangan ini saya mulai aktif mengikuti events kepenulisan yang informasinya tersebar melalui berbagai media online. Salah satu event yang saya ikuti adalah Kelas Mei Menginspirasi yang dimentori langsung oleh penulis terkenal yaitu Mas Fadh Pahdepie. 

Dalam salah satu pernyataan yang beliau sampaikan dalam Kelas Mei Menginspirasi itu, Mas Fahd mengatakan, “Kenapa saya malah lebih tahu apa yang dipikirkan Soekarno pada saat dia masih muda, apa yang dipikirkan Hatta saat usianya 30 tahun, dan apa yang dipikirkan Sjahrir waktu usianya 25 tahun." 

"Tapi saya tidak tahu apa-apa tentang apa yang dipikirkan kakek saya sendiri,” lanjutnya.

Dari apa yang disampaikan Mas Fahd tersebut kita ketahui secara jelas, bahwa yang dilakukan oleh orang-orang hebat seperti Soekarno, Hatta, dan Sjahrir. Mereka adalah manusia-manusia yang kita ketahui kebesarannya karena menulis, menuangkan segala pikirannya, gagasan-gagasan besarnya melalui sebuah tulisan 

Sampai hari ini berpuluh-puluh tahun kemudian masih kita bisa ingat nama besar Soekarno, Hatta, dan Sjahrir dibandingkan kakek-nenek kita sendiri walaupun minimalnya apa yang pernah dipikirkan mereka pada saat dulu.

Kita tahu kita hanya hidup sekali, dan bisa jadi sebentar lagi kita akan mati. Tapi untuk mati menjadi seseorang itu merupakan sebuah pilihan. 

Apa kita akan mati dengan sebuah karya atau mati dengan sumbangsih yang sangat minimal dan hanya hidup sampai kita hidup saja, kemudian mati lalu diingat beberapa jangka waktu saja dan akhirnya dilupakan oleh anak keturunan kita karena tidak pernah meninggalkan apapun pada saat masih hidup.

Apa yang akan kita tinggalkan setelah kita mati? Bisa jadi ketika usia kita sudah renta, kita sudah punya banyak cucu-cucu lucu dan menggemaskan. Tapi bayangkan saja jika cucu-cucu kita yang akan tumbuh beranjak dewasa tidak mengenal lebih dalam siapa kakeknya. 

Bayangkan bila mereka ternyata lebih mengenal influencers terkenal atau bisa jadi teralihkan oleh artis-artis tiktok dibandingkan pada kita. Padahal bila kita lihat, sejauh ini, bahkan sampai saat ini kita alhamdulillah sudah mempunyai banyak beberapa yang telah kita capai dengan hebat.

Namun sayangnya hal tersebut belum pernah kita tuliskan. Mungkin kita bisa saja dikenal suatu hari nanti melalui lisan yang disampaikan, tapi cerita yang paling sempurna adalah ketika kita bisa menuliskan cerita tersebut.

Menulis itu bukan hanya kegiatan yang harus dilakukan oleh orang yang berprofesi sebagai penulis saja, atau yang punya gaji lewat menulis. Mungkin uang bisa jadi hanya sekedar bonus saja, tapi menulis adalah sebuah karya tentang hakikat keabadian.

Bahkan Alm. B.J Habibie yang merupakan Presiden ke-3 kita menuliskan buku yang berjudul Habibie & Ainun yang diadaptasi menjadi film layar lebar yang sangat fenomenal. 

Buku itu ditulis sendiri oleh Pak Habibie sebagai terapi untuk melepask kesedihan hati yang mendalam karena beliau baru saja ditinggal pergi oleh kekasih yang sangat dicintainya, yaitu Ibu Hasri Ainun Habibie. 

Pun karena hal ini kita mengetahui kisah cinta Pak Habibie dan Ibu Ainun yang sangat romantis dengan tidak meninggalkan visi kebangsaannya untuk tanah air.

Menulis itu bukan soal bakat, tapi sebuah pembiasaan. Ketika kita sudah terbiasa sedikit-sedikit mulai menuangkan apa yang kita pikirkan dalam bentuk tulisan, maka lama-kelamaan jari-jari tangan kita akan terbiasa lihai untuk menuliskan gagasan-gagasan yang kita pikirkan.

Dulu memang hanya media-media tertentu saja yang menjadi tempat untuk menuangkan tulisan-tulisan kita terutama supaya tulisan kita muncul di publik, seperti koran dan buku melalui penerbit. 

Tapi zaman sekarang, media-media untuk menuangkan tulisan sudah sangat banyak seperti: Wattpad, Kompasiana, Tumblr, Blogspot, Wordpress, dan lain-lain.

Biar menulis tak sekedar menulis, maka menulislah dengan visi. Menulis dengan menguatkan niat bahwasanya ketika menulis ada sesuatu pesan penting yang ingin disampaikan, sebuah visi yang ingin kita ketahui kepada orang-orang untuk menciptakan banyak inspirasi dan kebermanfaatan luas untuk masyarakat. 

Karena dalam suatu ungkapan pun begitu, peluru hanya bisa menembus satu kepala saja sedangkan dengan menulis kita bisa menembus jutaaan kepala.

Menulislah dengan keahlian yang dimiliki masing-masing. Misalnya kita sangat ahli dalam dunia konstruksi karena selaras dengan dunia akademi yang telah kita ambil di saat perkuliahan, maka tulislah hal-hal yang berkaitan dengan konstruksi, sampaikan sudut pandang kita berdasarkan riset-riset dan telah apa yang kamu tahu dan pelajari. 

Hitung-hitung belajar sambil mengamalkan. Dan ini bisa jadi sebagi bentuk amalan yang tak terputus ketika kita sudah mati, yaitu amalan ilmu yang bermanfaat.

Saya jadi teringat apa yang dikatakan oleh Nyai Ontosoroh kepada Minke dalam novel Bumi Manusia karya Pram.

“Kau, Nak, paling sedikit kau harus berteriak. Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari."

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Menulislah selagi masih hidup, karena dengan menulis, kita akan terkenang dalam tulisan tinta sejarah. Karena dengan menulis, minimalnya anak, cucu, dan keturunan kita nanti akan tahu siapa sebenarnya diri kita, siapa kakek-neneknya. Karena karya dari sebuah tulisan tak akan pernah lekang oleh waktu. 

Tapi yang paling penting, menulislah dengan hati, dan akan lebih bagus bila menyampaikan tulisannya dengan visi untuk kebermanfaatan luas. 

Karena sesuatu yang kita tulis dengan hati akan diterima bukan hanya oleh para pembaca saja, tapi oleh hati pembaca juga, apalagi ada nilai kebermanfaatan yang berdampak untuk orang lain.