1 tahun lalu · 2322 view · 6 min baca · Agama 22895_77486.jpg
www.quotevadis.com

Kalau Sudah Baik, untuk Apa Beragama?

Di dunia ini, kadangkala kita menyaksikan orang-orang yang berprilaku baik, tapi sayangnya mereka tidak percaya kepada Tuhan. Mereka hidup teratur, disiplin, berlaku adil, berderma, membantu orang, mengasihi sesama, dan melakukan kebaikan-kebaikan lain sekalipun mereka tidak mengenal yang namanya keimanan.

Di sudut yang berbeda, kita juga menyaksikan orang-orang yang berprilaku kurang baik tapi mereka mengaku sebagai orang-orang beriman. Setiap hari mereka salat, berzikir, membaca kitab suci, mengenakan atribut-atribut keagamaan, tapi mereka suka menebar fitnah, menggunjing orang, membuat kerusuhan, menciptakan keresahan, bahkan melakukan kezaliman dan pembunuhan.

Ketika melihat dua fenomena yang kontras ini, terkadang kita mulai bertanya-tanya kepada diri kita sendiri: Apa gunanya bertuhan dan beragama kalau memang kita bisa menjadi orang baik tanpa keduanya? Bukankah tujuan agama itu adalah mengatur kehidupan umat manusia? 

Kalau kita sudah bisa mengatur diri kita, untuk apa kita percaya kepada yang Maha Kuasa? Kalau kita sudah bisa menunjukan akhlak yang mulia, untuk apa kita beragama? Katanya agama mengajarkan hal-hal yang baik, tapi kenapa kita seringkali melihat orang-orang yang beragama tapi mereka berperilaku tidak baik?

Mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan semacam itu kadang tidak mudah. Tapi, dalam tulisan ini, saya ingin mengemukakan beberapa jawaban yang mudah-mudahan bisa menjawab kegelisahan teman-teman yang pernah terusik dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Setidaknya ada tiga jawaban yang ingin saya kemukakan.

Pertama, kita harus menyadari dan mengakui fakta bahwa agama tidak selamanya melahirkan orang baik, atau menjadikan seseorang baik, sekalipun yang diajarkannya adalah hal-hal yang baik.

Mengapa bisa demikian? Sebetulnya bukan karena agamanya yang tidak baik, tapi karena manusia diberikan potensi dan kebebasan untuk menjadi makhluk yang baik dan tidak baik.

Semua agama menetapkan aturan yang berisikan larangan dan perintah Tuhan. Tapi, pertanyaannya, apakah mereka dipaksa untuk mematuhi aturan itu? Tentu saja tidak, karena manusia memiliki kebebasan dalam memilih.

Mereka bisa menjadi orang baik ketika agama menyuruh mereka berbuat baik. Tapi mereka juga bisa menjadi orang yang tidak baik sekalipun yang diajarkan agama adalah hal-hal yang baik.

Mengapa? Karena, sekali lagi, manusia diberikan kebebasan. Atas dasar itu, kita bisa mengatakan bahwa baik atau tidak baiknya seorang manusia itu adalah konsekuensi logis dari kebebasan yang diberikan oleh Tuhan kepada dirinya.

Selain diberi kebebasan, manusia juga punya keterbatasan dan kelemahan. Mereka punya hawa nafsu yang terkadang tidak mudah dikendalikan. Seringkali agama berkata A, tapi ketika hawa nafsu berkata B, maka yang terjadi adalah yang B, bukan yang A. Dan itu seringkali kita lihat.

Tak hanya itu, manusia juga kerap kali terjebak dalam kesalah-pahaman dalam menalar agama. Kita tahu bahwa firman Tuhan itu menubuh dalam bentuk teks. Dan teks itu seringkali menimbulkan keragaman tafsir. Penafsiran seseorang atas suatu teks keagamaan sangat bergantung pada latar belakang pendidikan, kecerdasan bahkan karakter yang bersangkutan.

Sering kali Agama mengatakan A, tapi yang dipahami oleh pemeluk Agama adalah B. Padahal agama tidak mengajarkan—bahkan mungkin mengutuk keras—yang B itu.

Tapi karena dia memahami yang A ini melalui kacamatan yang B, maka yang terjadi dan diamalkan adalah yang B, bukan yang A, seperti yang dikehendaki Agama. Mengapa ini bisa terjadi? Jawabannya karena pemahamannya yang salah, bukan agamanya yang salah.

Dan lagi-lagi, kesalahan dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama itu berpulang pada kelemahan dan keterbatasan manusia. Karena itu, ketika kita melihat perilaku umat beragama yang tidak mencerminkan agama, harusnya kita memandang mereka dari sisi kemanusiaannya, bukan menyalahkan agama.

Kesadaran ini penting dibangun agar kita tidak terjebak pada kesimpulan bahwa agama adalah sumber kejahatan. Bahwa ada orang yang berbuat jahat dengan mengatasnamakan agama, ya. Tapi agama itu sendiri tidak mungkin mengajarkan kejahatan. Yang sering menjadi sumber kejahatan adalah pemahaman orang yang keliru atas agama, bukan agama.  

Kedua, kita memang bisa menjadi orang baik tanpa agama. Tapi agama bisa melengkapi kebaikan kita jika kita mampu memahami dan mengamalkannya dengan baik. Agama terlalu mahal untuk kita kesampingkan. Mengapa? Karena Agama menyediakan banyak jawaban mengenai pertanyaan-pertanyaan mendasar yang selama ini tidak bisa kita jawab.

Dari mulai pertanyaan siapa kita, dari mana kita berasal, di mana kita hidup, bagaimana kita hidup, dan kemana kita akan pulang, semua pertanyaan ini hanya akan kita temukan dalam ajaran agama. Akal kita tidak selamanya mampu menyuguhkan jawaban yang meyakinkan.

Sejak dulu para filsuf berdebat soal asal muasal alam semesta. Ada yang berkata alam semesta ini tercipta dari air. Yang lain mengatakan dari tanah, udara, api dan lain sebagainya. Mereka berbeda pandangan, karena akal tidak selamanya mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu.

Termasuk dalam urusan moral. Kita bisa berbuat baik tanpa agama, tapi pada akhirnya kita akan dihadapkan dengan pertanyaan: Siapa yang berhak menentukan sesuatu itu baik atau buruk? Apa tolak ukurnya? Kapan sesuatu itu dikatakan baik, dan kapan sesuatu itu dikatakan buruk? Anda tahu bahwa pertanyaan-pertanyaan semacam ini juga telah melibatkan perdebatan keras di kalangan para filsuf.

Kita tahu bahwa membicarakan orang lain itu tidak baik alias terlarang. Tapi, tahukah kita bahwa dalam saat-saat tertentu membicarakan orang lain itu diperbolehkan? Kita tahu bahwa berbohong dan menipu itu termasuk perbuatan yang tidak baik. Tapi tahukah kita bahwa dalam kondisi tertentu berbohong itu tidak dilarang?

Jika akal kita yang dijadikan tolak ukur, pada akhirnya kita akan berdebat keras mengenai pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Nah, agama datang untuk memberikan kata putus atas persoalan-persoalan yang tidak mampu dijawab oleh nalar kita itu.

Harus kita akui bahwa akal kita—betapapun canggihnya—memang terbatas. Agama tidak datang untuk memusuhi akal. Tapi agama justru datang untuk memandu akal agar berjalan dalam jalan yang benar.

Kita bisa menjadi orang baik tanpa Agama. Tapi ketahuilah bahwa dengan beragama nilai kebaikan kita akan bertambah. Intinya, Agama akan tetap berguna sekalipun kita tidak mengimaninya. Ia akan memberikan tuntunan di saat kita bingung. Juga menjadi pelipur lara di saat kita gelisah.          

Ketiga, hidup ini bukan hanya kini dan di sini, tapi juga meniscayakan adanya kehidupan lain di mana keadilan ditegakkan seadil-adilnya. Jika hidup kita hanya di dunia semata, bagaimana dengan nasib orang-orang yang berbuat baik tapi belum mendapatkan balasannya? Bagaimana dengan orang-orang jahat yang belum dibalas dengan balasan yang setimpal? Apakah Anda bisa menerima itu semua?

Sekian banyak orang yang berbuat baik tapi mereka hidup sengsara. Tak sedikit orang yang berbuat jahat tapi mereka hidup nyaman layaknya para raja. Jika kita mengingkari adanya hari akhir, bagaimana dengan nasib orang-orang seperti ini? Nurani kita pasti tidak akan menerima. Harus ada satu hari di mana semua keadilan itu ditegakkan setegak-tegaknya.

Nah, agama menjanjikan adanya hari itu. Kalau Anda berbuat baik di dunia, Agama menjanjikan bahwa kelak Tuhan akan membalas kebaikan Anda dengan balasan yang berlipat ganda. Kalau kita tidak percaya kepada Tuhan, tentu saja kita akan merugi. Karena bisa jadi kita berbuat baik, tapi kita tidak menghasilkan apa-apa.

Kita sering berkata bahwa kita berbuat baik demi kemanusiaan. Kemanusiaan apa yang dimaksud? Jawaban ini sebenarnya sangat absurd. Ketika melakukan suatu kebaikan, manusia itu pada umumnya butuh pada dorongan. Dan itu hal yang wajar.

Dengan meyakini keberadaan Tuhan, motivasi yang kita miliki tentunya akan bertambah. Selain kita beramal untuk kemanusiaan, kita juga beramal demi mendapatkan rida Tuhan. Bukankah ini lebih baik?

Kalaupun di dunia kita belum sempat mendapatkan balasan, keimanan kita kepada Tuhan akan menjadi jaminan bahwa kelak kita akan mendapatkan balasan dan ganjaran yang besarnya tidak akan mampu kita bayangkan.

Kita bisa menjadi orang baik tanpa beriman kepada Tuhan. Tapi, kebaikan yang tak dilandasi keimanan tak akan menjanjikan apa-apa kecuali kebahagiaan yang sifatnya sesaat bahkan terkadang tidak mampu memberikan ketenangan.

Sekarang saatnya kita bertanya: Manakah yang lebih baik, berbuat baik tanpa bertuhan dengan konsekuensi sengsara di alam baka—sekalipun hidup bahagia di dunia? Atau berbuat baik atas dasar keimanan dengan jaminan bahwa kelak kita akan mendapatkan balasan dari seluruh perbuatan kita?

Artikel Terkait